Oleh Corry Paroma Panjaitan
Perempuan di jalan sunyi, menyukai ketenangan air, tarian pepohonan, kebisuan bebatuan & tanah
SETIAP Kabupaten di Kawasan Danau Toba membenahi pariwisata-nya dengan mengenalkan dan mengeksplor potensi destinasi wisata yang dimiliki. Begitu juga Parapat, semakin berbenah, kembali mendata dan menata ulang potensi destinasi wisata yang dimiliki.
Salah satunya adalah Pesanggrahan Bung Karno Parapat merupakan bangunan bersejarah yang didirikan sekitar tahun 1820 oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai rumah peristirahatan bagi pejabat-pejabat tinggi Hindia Belanda yang berkunjung ke Kawasan Danau Toba.
Arsitektur rumah ini memiliki gaya arsitektur Eropa klasik dengan bentuk rumah panggung. Bangunannya didominasi warna hitam dan putih dan berdiri di atas lahan seluas kurang lebih dua hektar. Akan tetapi masih banyak Peninggalan Bersejarah yang belum terkelola bahkan tersembunyi hingga masyarakat juga mungkin tidak mengetahuinya, termasuk saya.
Beberapa lokasi yang mulai kami inventarisasi yang kemudian bisa dikelola menjadi “Destinasi Wisata Kota Tua Parapat”. Titik “destinasi” ini merupakan perpaduan antara bangunan kuno, bersejarah yang berkaitan juga dengan tradisi, adat dan kebiasaan.
Di antaranya 1. Pesanggarahan Bung Karno 2. Rumah Pamela (PTPN) 3. Benteng Merah Putih/ Aquarium (yang sudah ditempati oleh warga) 4. Khas Parapat Hotel sebagai Hotel Pertama di Parapat 5. Hotel Bahari sebagian kecil masih memiliki arsitektur gaya Belanda 6. Gudang Persenjataan jaman kolonial Belanda (Kelurahan Parapat) 7. DAM jembatan yang dulu berfungsi untuk mengatur air gunung agar debit air tetap terjaga saat dialiri ke Danau Toba 8. Terowongan Sibaganding yang menjadi lintasan lalu lintas sebelum ada jembatan Sibaganding. 9. Pagoda merupakan alun alun yang digunakan sebagai tempat perlehatan dan pertemuan masyarakat dari berbagai tempat.
10. Tata ruang sepanjang jalan Kelurahan Tigaraja (Tigaraja – Siburakburak – Keseluruhan Pantai – Hutaginjang) yang tertata unik dan khas. 11. Balairung Tigaraja yang menjadi pusat perbelanjaan sebagai tempat transaksi ekonomi dari pulau samosir, Balige, Haranggaol.
12. Rumah Adat Batak Toba di Saba Parapat, sebagai rumah adat yang digunakan Keluarga Sinaga Saba. 13. Losung Aek, tempat menumbuk beras menjadi tepung dan juga dari padi menjadi beras, yang menjadi bahan dasar kuliner seperti dolung-dolung khas Parapat. 14. Theater Bioskop sebagai tempat hiburan malam bagi pengunjung dan masyarakat. 15. Vihara, rumah ibadah yang ada di Bangun Dolok 16. Gereja HKBP Parapat yang awalnya bernama Gereja HKBP Sipiak yang awalnya dibangun di Hotel Khas Parapat, kemudian dipindah ke Oleo Parlapelapean dan akhirnya ke tempat sekarang untuk kepentingan Pariwisata.
17. Mesjid Parapat merupakan hibah dari Keluarga St. Situmorang yang bukan Muslim. 18. Dolok Sipiak yang awalnya merupakan tempat martonggo atau beribadah para Umat Parmalim. Yang kemudian setelah wisata berkembang berubah menjadi tempat hiburan dan sekarang sebagai taman budaya. 19. Gereja Khatolik yang memiliki arsitektur unik dan khas tapi akan direnovasi yang nyaris akan merubah keunikan Gereja ini. 20. Rumah Peristirahatan Jenderal DI Panjaitan, yang mungkin ada kaitannya dengan kehadiran Bung Karno di Psanggarahan Bung Karno. 20. Isyes dan masih banyak rumah peristirahatan PTPN yang belom terdata.
Ayo kita tambahkan list inventarisasi ini untuk memperkaya deatinasi wisata Kota Tua Parapat. Semoga inventarisasi ini bisa dieksplor dan ditata kelola untuk dikembangkan dan dikemas dalam “Paket Perjalanan Khas Kota Tua Parapat”. Beta hita akka dongan, molo so hita isebe. 


