formatnews.id – Toba, 19 Februari 2026 – Pasca dicabutnya Ijin Operasional PBPH (Perijinan Berusaha Pemanfaatan Hutan) PT Toba Pulp Lestari, Tbk (TPL) dan 27 perusahaan lainnya oleh Pemerintah RI melalui Kementerian Kehutanan, dengan Surat Keputusan (SK) No. 87 Tahun 2026 tanggal 26 Januari 2026 dan ditandatangani oleh Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, beberapa aktifis terlihat gelisah dan resah.
Kegelisahan timbul dari Tokoh & Masyarakat Adat Tapanuli Raya dan Kawasan Danau Toba dengan pertanyaan mau diapakan dan dikemanakan eks area lahan konsesi PT TPL seluas 167.912 Ha itu?
Yang pasti, Negara melalui Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) telah memasang plang di beberapa titik bahwa lahan tersebut telah diambilalih oleh Negara.
Tokoh sentral gerakan Tutup TPL Ompui Eforus HKBP Pdt Victor Tinambunan, STh selaku Pembina Sekretariat Bersama (Sekber) pergerakan juga “ditengarai” belum secara komprehensif menyampaikan ke publik konsep serta hasil sejumlah pertemuannya dengan beberapa petinggj negeri seperti Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Menteri Lingkungan Hidup Dr Hanif Faisol Nurofiq, SHut, MP, Utusan Khusus Presiden RI Bidang Energi dan Lingkungan Hashim S Djojohadikusumo, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait, Gubernur Sumut Bobby Nasution dan Utusan Satgas PKH yang datang ke Kantor Pusat HKBP di Pearaja, Tarutung.
Isu yang muncul ke permukaan adalah bahwa eks lahan tersebut akan dikelola BUMN BPI Danantara melalui PT Agrinas.
Menyikapi biasnya berbagai informasi ini, seorang akademisi, praktisi hukum & tokoh nasyarakat yang sangat aktif dalam pergerakan dan peduli akan kondisi terkini, DR Asmadi Lubis, SH, CN, MKn, menginisiasi pertemuan kecil dan informal di cafe Hotel Op Herti Balige, Toba, Rabu (18.02.2026).
Hadir beberapa aktivis lingkungan: Direktur KSPPM Rocky Pasaribu, Aktivis Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Roganda Simanjuntak, Tokoh Agama Pro Lingkungan Pdt Jurito Sirait, Ketua Yayasan Pusuk Buhit Efendy Naibaho dan Tim M Andi Naibaho, Dir. Eksekutif Komunitas Peduli Danau Toba dan mantan Sekjen AMPHIBI (Aliansi Peduli Lingkungan Hidup & B3 Indonesia) dari Jakarta Alex A Simatupang.
Menurut Pdt Jurito Sirait bahwa Pembina Sekber yang juga Eforus HKBP Pdt Victor Tinambunan masih konsisten dengan tuntutan awal Tutup TPL Permanen dan kembalikan hutan konsesi menjadi Hutan Alam Toba dan Milik Masyarakat Adat.
Aktivis Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Roganda Simanjuntak menginformasikan bahwa lahan konsesi telah dipetakan menjadi 3 bagian yaitu 1. Daerah Aliran Sungai & Daerah Tangkapan Air (DAS & DTA) seluas 84. 000 Ha, 2. Area Hutan Adat 39.000 Ha dan sisanya 3 Area tegakan yaitu lahan yang telah dikelola dan ditanami pohon eucalyptus oleh PT TPL.
Direktur Kelompok Study & Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM) Rocky Pasaribu mengapresiasi inisiasi DR Asmadi Lubis yang memfasilitasi pertemuan informal dadakan ini.
Menurutnya, sebagai pihak yang dari awal berjuang untuk menutup TPL dengan segala resiko, pihaknya menyadari bahwa tentu ada beberapa hal yang tidak terpikirkan, tidak terlihat dan di luar jangkauan KSPPM, AMAN dan Sekber.
Ia menyampaikan bahwa telah menjangkau dan melakukan pendampingan terhadap 39 Kelompok Masyarakat Adat dengan total cakupan lahan yang dikelola sekitar 45.000 Ha.
Di lain pihak Ketua Yayasan Pusuk Buhit Efendy Naibaho menyampaikan setuju untuk perluasan kewenangan Sekber dengan Penbentukan Tim Kerja seperti Tim Hukum, Tim Media dan Tim Tanam Kembali dengan gerakan menanam sejuta pohon dan menebar sejuta bibit ikan di Kawasan Danau Toba serta tim lainnya yang dianggap mendesak.
Efendy juga meminta agar tagline Sekber dan aktifis satu saja yakni #Kembalikan Tanah Rakyat atau SaveTheTao&Environment
Sementara DR Asmadi Lubis melihat bahwa muara perjuangan harus tetap satu komando yaitu Sekber dengan dukungan penuh KSPPM dan AMAN serta elemen masyarakat lainnya.
Dan, harus segera membuat Pertemuan Akbar dan Deklarasi Sikap Masyarakat terhadap eks lahan konsesi TPL. Jangan lagi sampai ada ganti kulit seperti PT Inti Indorayon Utama (IIU) menjadi PT Toba Pulp Lestari (TPL).
Di akhir pertemuan disepakati bahwa Sekber, KSPPM & AMAN akan melakukan Ucapan Syukur dan Pertemuan Akbar Terbuka serta pernyataan sikap atau Deklarasi bersama, Sabtu, 07 Maret 2026 di Siantar.
Pertemuan lanjut dijadwalkan Sabtu atau Minggu ini di Pangururan.
Fasilitator tetap DR Asmadi Lubis, SH, CN, Mkn, WA 0822.7168.1297 dan Nara Hubung Alex A Simatupang WA 0812.1251.2234.
Sementara ketua sekber itu sendiri, Pastor Walden Sitanggang dalam percakapan whatsApp dengan formatnews.id menuliskan yang penting sekarang adalah melanjutkan komunikasi dengan Pemerintah.
Kita tanya terus ke Kementerian. Kita desak. Minggu lalu sudah kami serahkah policy brief dari Sekber ke Kementerian Kehutanan dan Kementerian Lingkungan Hidup.
Mudah-mudahan dalam waktu dekat juga kita rencanakan ke Jakarta lagi, ujar Pastor Sitanggang sembari menambahkan kalau memang mau kuat, kita harus memiliki group tokoh masyarakat mewakili setiap kabupaten sebagai jaringan kita.
Tokoh itu adalah tokoh yang bisa merangkul dan membawa setiap Kabupaten Kawasan Tapanuli Raya dan sealiran dengan kita. Ido na porlu usahahononta, ujar Sitanggang. Mangalului dongan di ganup kabupaten. Na benar-benar memberi perhatian tu perjuangan on, tutupnya.
Sekber itu, yang bergabung di grup whatsApp, nama lengkapnya Sekber GO Keadilan Ekologis di Sumut.
Awalnya, seperti diposting Moses Elias di Grup WA itu, kita harus menghaturkan terimakasih kepada Eforus HKI.
Sejarah mencatat pemantik pertama semakin kuat gerakan tutup PT TPL adalah perlawanan Eforus HKI di Natinggir, lalu muncul gerakan besar dari Ompui Eforus HKBP Pendeta Dr Viktor Tinambunan, berlanjut dengan pembelaan kepada Sorbatua Siallagan yang didampingi Pastor Walden Sitanggang.
Pemukulan kepada masyarakat Sihaporas yang dilakukan oknum security PT TPL yang mengakibatkan 14 orang harus dirawat di RS Harapan P Siantar dan dijemput langsung oleh Pastor Walden Sitanggang membuat mata dunia dan pemerintah semakin serius menanggapi masalah TPL.
RDP dengan Komisi 13 di Gedung DPR Senayan, Jakarta, Juli 2025 yang dalam RDP hadir perwakilan AMAN TANO BATAK, KSPPM, JPIC Kapusin, Sorbatua, satu ibu dari Natinggir dan seorang bapak dari Natumika.
Pertemuan berlanjut di Hotel Aston antara Pemerintah dengan perwakilan gereja dan masyarakat (Eforus HKBP, Pastor Supriadi Pardosi, Pastor Walden Sitanggang, para pendeta, Sorbatua, bapak Ambarita dari Sihaporas.
Gaung perjuangan Tutup PT TPL semakin kuat digemakan pada 10 November 2025 di depan kantor Gubernur Sumut di Medan.
Orasi dipimpin Jantoni Tarihoran dari AMAN, Rocky Pasaribu dari KSPPM, Pastor Walden Sitanggang OFMCap dan pastor Supriadi Pardosi Ofmacap dari JPIC, Lamsiang Sitompul SH, MH dari Horas Bangso Batak, Sekjend HKBP, Pendeta Jurito Sirait dan lainnya termasuk Sahala Arfan Saragih.
Ribuan orang hadir termasuk dari Tapsel dan mahasiswa serta rektorat Universitas HKBP Nomensen Medan.
Saat demo besar di Kantor Gubernur, doa dipimpimpin Pastor Guido Situmorang OFMCap.
Sekber Ekologis menjadi wadah bersama untuk menyatukan kekuatan menyerukan tutup TPL.
Bencana banjir bandang dan tanah longsor di Tapteng, Silbolga, Taput, Humbahas, Tapsel ( juga Sumbar dan Aceh) menjadi afirmasi tak terbantahkan bahwa PT TPL menjadi salah satu penyebab rusaknya ekosistem.
Saat bencana, Sekber Ekologis terjun ke lapangan membagi sembako dan menyapa mereka yang menderita.
Seakan menjadi pertanda sebelum keluar pengumuman resmi dari Pemerintah RI tentang pencabutan ijin TPL pada hari Selasa 20 Januari 2026, sehari sebelumnya, Ompui Eforus HKBP Pendeta Dr Viktor Tinambunan melaksanakan bedah buku di Catholic Centre Pusat Pembinaan Umat P Siantar.
Peserta yang hadir Uskup Agung Medan, para pastor, suster dan pemerhati lingkungan.
Selesai acara, Ompui Eforus HKBP Dr Victor Tinambunan diulosi oleh Yang Mulia Uskup Agung Medan.
Melalui acara terlebih dengan pemberian ulos adalah tanda kita satu derap langkah dalam perjuangan.
Sungguh banyak tangan dan pemikiran yang terlibat dalam perjuangan tutup PT TPL.
Dr Dimpos Manalu dan Delima Silalahi adalah pendekar yang tak pernah gentar menghadapi PT TPL.
Delima bahkan mendapat penghargaan internasional dan Dr Dimpos Manalu berhasil mencapai gelar akademik tertinggi yang diyakini karena kecintaan akan Tano Batak dan “kegeramannya” melihat alam yang indah diobrak-abrik oleh TPL.
Saya kenal Dr Dimpos Manalu dan Delima Silalahi tahun 2004. Di balik layar ada banyak orang yang ikut berjuang antara lain Prof Dr Robert Manurung, Dumoli Pardede, Lodewik Sihite, Rasnius Pasaribu. Anggiat Sinaga yang dengan segala daya selalu bersuara kritis melawan PT TPL.
Tugas kita selanjutnya mengawal perjuangan ini. Kepada Sekeretaris Sekber Ekologis mari mencatatkan sejarah perjuangan ini.
Saya selalu khawatir bila tidak dicatat dengan baik maka kita akan cepat lupa dan yang lebih berbahaya lagi ada yang tidak peduli pada perjuangan selama ini, nanti tiba-tiba muncul sebagai pahlawan apalagi pemilu tinggal dua tahun lagi. Horas, tulis Moses Elias. *
Samuel Parningotan
