fnews – Pak Sitanggang, akrab dipanggil dengan Gadong Siroti, pasrah saja dan sedih memandang dengan tatapan kosong saat lahan tanahnya di Kawasan Pusuk Buhit, persisnya di kawasan Sijambur, Aek Rangat, Pangururan, Samosir, terbakar, Jumat (19/02). “Mulai pukul 13.00 tadi”, ujarnya kepada fnews yang bersama menyaksikan kobaran api sore itu.
Di lahan miliknya seluas 10 ha lebih itu, Pak Sitanggang sudah menanaminya dengan berbagai tanaman seperti alpokat yang harga bibitnya mencapai Rp 5.000-an per batang dan sudah menyemprot hama di kawasan itu. Ternak ayamnya untung aman-aman saja.
Pebukitan di kawasan Gunung Pusuk Buhit itu kerap terbakar diduga karena cuaca atau iklim yang terik, sudah musim kemarau. Namun ada juga yang menduga dibakar untuk mengganti rerumputan baru atau tanaman baru. Memadamkan apinya juga tidak gampang karena jalanan terjal berbukit dan berbatuan dan tidak memungkinkan dipadamkam unit mobil pemadam kebakaran.
Kasubag Humas Polres Samosir Iptu Marhan Silalahi dalam cuitannya di grup whatsApp samosirToday memosting bahwa aparat Polres Samosir dan Polsek Pangururan memadamkan api dengan alat seadanya dengan menggunakan kayu mengibaskannya ke api yang menjalar. Selain polres dan polsek, Lurah Siogung – ogung juga terlihat di sana dan dari Koramil Pangururan.
Gadong Siroti yang sudah lama bermukim di sana dan tinggal seorang diri, selain beternak ayam, juga sudah membangun rumah – rumah kecil sebanyak tiga unit dan belum memiliki penerangan listrik.
Beberapa kalangan menyebutkan untuk mengatasi kebakaran hutan di kawasan Pusuk Buhit dan sekitarnya, sudah saatnya Pemkab Samosir mengalokasikan anggaran untuk pembelian sebuah helikopter untuk menyiram apinya atau menyemprotkan bom air agar apinya padam. en
