Oleh Pastor Giovanno Sinaga, OFMCap
1. Pengantar.
Masalah banjir akhir-akhir ini menjadi berita utama di berbagai media sosial. Dan itu adalah masalah ekologis kita bersama. Masalah-masalah ekologis yang mengganggu kelestarian lingkungan hidup dan keutuhan ciptaan adalah masalah global. Artinya, masalah-masalah ekologis tersebut meluas ke seluruh penjuru bumi dan mengenai hidup manusia dan makhluk hidup lain.
Karena itu, setiap orang mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk memperbaiki, merawat dan membuatnya menjadi lebih baik. Ada tuduhan kelompok tertentu di jaman modern bahwa akar dari seluruh persoalan ekologis adalah Kitab Kejadian 1:28: “[…] taklukkanlah […], berkuasalah […]. Benarkah demikian?
Tulisan pendek ini mau mematahkan tuduhan tersebut dan mau justru melihatnya sebagai Dasar Biblis Kelestarian Lingkungan Hidup dan Keutuhan Ciptaan.
2. Dasar Biblis Kelestarian Lingkungan Hidup dan Keutuhan Ciptaan.
Kedua bab pertama Kitab Kejadian, Tradisi Priester (Kejadian 1:1-24b) dan Tradisi Yahwist (Kejadian 2:4b-25), menyajikan kisah bagaimana Allah menciptakan alam dan segala isinya. Kejadian 1:1-2:4a melukiskan bagaimana penciptaan Allah dan keadaan ciptaaan pada awal mula. Karya penciptaan tersebuh diungkapkan dengan kata yang agung, yakni 𝘣𝘢̃𝘳𝘢̃. Kata ini digunakan untuk melukiskan karya penciptaan Allah yang tidak membutuhkan sesuatu di luar dirinya untuk mencipta (Gerhard von Rad: 𝘎𝘦𝘯𝘦𝘴𝘪𝘴: 𝘈 𝘊𝘰𝘮𝘮𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳𝘺). Dunia dan segala isinya bukanlah suatu ada yang secara kebetulan terjadi, melainkan karena kuasa dan kehendak Allah sendiri.
Kitab Kejadian 1:1-2:4a menceritakan bahwa dari seluruh ciptaan Allah, manusia lah yang diciptakan terakhir sebelum Ia beristirahat. Manusia menjadi puncak ciptaan. Manusia adalah kepala dan mahkota seluruh ciptaan yang dicipta menurut gambar dan rupa Allah (John Skinner: 𝘈 𝘊𝘳𝘪𝘵𝘪𝘤𝘢𝘭 𝘢𝘯𝘥 𝘌𝘹𝘦𝘨𝘦𝘵𝘪𝘤𝘢𝘭 𝘊𝘰𝘮𝘮𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳𝘺 𝘰𝘯 𝘎𝘦𝘯𝘦𝘴𝘪𝘴).
Hal itu diperlihatkan dengan berkat dan perintah Allah berikut: “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala yang merayap di bumi.
Unsur yang sangat penting dalam Kejadian 1:1-2:4a ini adalah ungkapan yang mengatakan bahwa seluruh ciptaan baik adanya bahkan sungguh amat baik (Bdk. Kejadian 1:10b, 12b, 25b,31a). Namun dalam perjalanan waktu, ada kelompok dan orang tertentu yang menuduh Kejadian 1:28: “[…] taklukkanlah […], berkuasalah […]” sebagai akar krisis ekologis di jaman kita sekarang. Salah seorang di antaranya adalah Lynn White Junior. Dia menganggap bahwa kekristenan membantu berkembangnya pandangan bahwa manusia mengatasi ciptaan yang lain dan berhak menguasainya (Celia Deane-Drummond: 𝘈 𝘏𝘢𝘯𝘥𝘣𝘰𝘰𝘬 𝘪𝘯 𝘛𝘩𝘦𝘰𝘭𝘰𝘨𝘺 𝘢𝘯𝘥 𝘌𝘤𝘰𝘭𝘰𝘨𝘺).
Dengan demikian, apakah dalam Kejadian 1:28 Allah memerintahkan manusia untuk mengeksploitasi alam? Kiranya mandat: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi” (Kejadian 1:28b) mesti dimengerti dan ditafsirkan dalam konteksnya.
Kejadian 1:1-2:4a dituliskan oleh kelompok teolog sacerdotal di Babilonia (St. Darmawijaya: 𝘗𝘦𝘯𝘵𝘢𝘵𝘦𝘶𝘬𝘩 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘛𝘢𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘔𝘶𝘴𝘢). Saat orang Israel hidup di tanah pembuangan Babilonia, mereka kehilangan segala fundasi pengharapan dan keyakinan sebagai bangsa pilihan Allah. Mereka kehilangan tanah air yang dijanjikan Allah kepada mereka, kehilangan Bait Allah penopang hidup relugius dan kehilangan raja sebagai pemimpin. Dengan kata lain, mereka kehilangan identitas sebagai suatu bangsa.
Dalam situasi demikian, bangsa Israel tergoda untuk mengikuti keyakinan Babilonia mengenai semesta alam dan benda-benda langit yang digambarkan sebagai dewa-dewi penguasa. Dalam situasi demikianlah lahir teks biblis kisah penciptaan Kejadian 1:1-2:4a.
Kisah penciptaan ini menegaskan dua hal: Allah adalah pencipta segala sesuatu dan yang membuat seluruh ciptaan itu teratur. Dalam bingkai inilah ungkapan “menaklukkan” dan “menguasai” dalam Kejadian 1:28 mesti ditempatkan.
Makna dari kata “menaklukkan” dan “menguasai” di sini bukan pertama menguasai dengan segala potensi abusif dan eksploitatif, melainkan lebih pada pengakuan iman bahwa manusia tidak dikuasai oleh dewa-dewi atau benda-benda langit.
Sebaliknya, manusia menguasai alam ciptaan karena menerima mandat dari Allah pencipta, penguasa yang seaungguhnya. Penaklukan dan penguasaan dalam bingkai ini adalah “penerimaan kuasa dari Allah”. Hal itu berarti bahwa manusia harus menaklukkan dan menguasai alam semesta seperti Allah menguasainya. Allah menguasai segala ciptaan dengan pemeliharaan (𝘤𝘢𝘳𝘦), kepedulian (𝘤𝘰𝘯𝘤𝘦𝘳𝘯) dan cinta (𝘭𝘰𝘷𝘦). Hal ini dapat kita mengerti dengan baik karena kata “menaklukkan” dan “menguasai” tersebut terungkap saat Allah memberkati manusia.
Kalau demikian, apa arti “menaklukkan” (Ibrani=𝘬𝘢𝘣𝘣𝘢𝘴𝘺)? Menurut Norman Lamm, ungkapan “menaklukkan” dalam Kejadian 1:28 harus dihubungkan dengan Kejadian 1:29: Berfirmanlah Allah: “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohon yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu (Norman Lamm: 𝘌𝘤𝘰𝘭𝘰𝘨𝘺 𝘢𝘯𝘥 𝘑𝘦𝘸𝘪𝘴𝘩 𝘓𝘢𝘸 𝘢𝘯𝘥 𝘛𝘩𝘦𝘰𝘭𝘰𝘨𝘺). Hubungan tersebut membatasi Hak manusia untuk “menaklukkan” dan menggunakan alam. Dengan demikian, perintah Allah dalam Kejadian 1:28 tersebut bukanlah pemberian hak kepada manusia untuk berkuasa tanpa batas atas alam semesta, melainkan untuk bertanggung jawab atasnya.
Pembatasan di atas menekankan bahwa manusia adalah penjaga lingkungan hidup dan seluruh ciptaan dan bukan pemiliknya. Sebagai penjaga, manusia harus menyadari pentingnya peranannya untuk memelihara dan menjaga dunia. Dalam Kejadian 2:15, dilukiskan bahwa Allah mengambil manusia dan menempatkannya di taman Eden. Tujuannya adalah agar manusia mengusahakan dan memelihara taman itu.
Kisah ini bisa diartikan sebagai dukungan terhadap ide bahwa manusia adalah penjaga kelestarian lingkungan hidup dan keutuhan ciptaan (Nicole Sykur Dister: 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳 𝘛𝘦𝘰𝘭𝘰𝘨𝘪). Teks ini mengisyaratkan bahwa kekuasaan manusia atas lingkungan hidup dan seluruh ciptaan bukanlah kuasa eksploitatif dan tidak terbatas (David Ehrenfield, Philip J. Bentley: 𝘑𝘶𝘥𝘢𝘪𝘴𝘮 𝘢𝘯𝘥 𝘵𝘩𝘦 𝘗𝘳𝘢𝘤𝘵𝘪𝘤𝘦 𝘰𝘧 𝘚𝘵𝘦𝘸𝘢𝘳𝘥𝘴𝘩𝘪𝘱).
Tentang arti ungkapan “berkuasa” (Ibrani=𝘳𝘢𝘥𝘥𝘢𝘩) dalam Kejadian 1:28, para alliance Kitab Suci tidak mempunyai pendapat dan pengertian yang sama. Gerhard von Rad percaya bahwa “kuasa” dalam teks tersebut mempunyai nada dominasi, mempunyai pengertian menginjak-injak sebagaimana seseorang menginjak-injak anggur yang akan diperas. Sebaliknya menurut James Barr, “kuasa” tersebut harus dimengerti dalam konteks gambaran ideal Raja-Gembala di Timur Tengah atau menunjuk pada semacam pemerintahan yang baik seperti Salomo di kerajaannya (James Barr: 𝘔𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘥 𝘕𝘢𝘵𝘶𝘳𝘦: 𝘛𝘩𝘦 𝘌𝘤𝘰𝘭𝘰𝘨𝘪𝘤𝘢𝘭 𝘊𝘰𝘯𝘵𝘳𝘰𝘷𝘦𝘳𝘴𝘺 𝘢𝘯𝘥 𝘖𝘭𝘥 𝘛𝘦𝘴𝘵𝘢𝘮𝘦𝘯𝘵).
Kata “menaklukkan” (𝘬𝘢𝘣𝘣𝘢𝘴𝘺) dan “menguasai” (𝘳𝘢𝘥𝘥𝘢𝘩) dalam Kejadian 1:28 tersebut terungkap dalam berkat Allah kepada manusia. Kata 𝘬𝘢𝘣𝘣𝘢𝘴𝘺 mengungkapkan hak yang diberikan Allah kepada manusia untuk mengolah bumi, bukan untuk memiliki dan menaklukkannya (𝘢𝘣𝘶𝘴𝘪𝘧-𝘦𝘹𝘱𝘭𝘰𝘪𝘵𝘢𝘵𝘪𝘷𝘦). Dengan demikian, manusia diberi bukan wewenang untuk memiliki bumi sehingga boleh menggunakannya secara semena-mena, melainkan wewenang dalam rangka mencukupi kebutuhan hidupnya.
Kata 𝘳𝘢𝘥𝘥𝘢𝘩 mengungkapkan hak yang diberikan Allah kepada manusia untuk menjaga dan memelihara bumi, bukan untuk menguasainya secara sewenang-wenang. Dengan demikian, manusia bukan diserahi tugas untuk mengubah dan menghancurkan lingkungan hidup. Manusia diberikan tugas untuk menemani dan menggembalakan makhluk lainnya.
Makna kata 𝘬𝘢𝘣𝘣𝘢𝘴𝘺 dan 𝘳𝘢𝘥𝘥𝘢𝘩 yang terungkap dalam berkat Allah tersebut memungkinkan manusia untuk melihat perannya sebagai pengurus yang bertanggung jawab atas makhluk ciptaan lain. Tanggung jawab sedemikian itu sepadan dengan gagasan manusia sebagai gambar Allah yang terungkap dalam Kejadian 1:27.
Ungkapan gambar Allah mau menekankan bahwa manusia menjadi wakil Allah yang harus menjalankan kuasanya atas makhluk ciptaan lainnya di bumi dengan perhatian dan cinta sebagaimana Allah sendiri memperhatikan dan mencinta seluruh ciptaan. Dalam perspektif ekologis, manusia sebagai gambar Allah menunjuk kepada kemungkinan khasnya untuk memperhatikan seluruh ciptaan dengan cinta.
Dengan kata lain, manusia ambil bagian dalam karya Allah untuk menyingkirkan kekacauan dan kegelapan (Ibrani=𝘵𝘰𝘩𝘶 𝘸𝘢 𝘣𝘰𝘩𝘶) agar aoam tetap harmonis. Tidak mungkin Allah memberikan berkat-Nya dan sekaligus menyruh manusia untuk mengeksploitasi alam. Allah memberikan berkatnya agar manusia “mengurus” (bukan menguras), memelihara bumi dengan cinta, bukan mengeksploitasi dan menguasainya secara sewenang-wenang dan tanpa batas (Michael F. Seigel: 𝘙𝘦𝘭𝘪𝘨𝘪𝘰𝘯, 𝘚𝘤𝘪𝘦𝘯𝘤𝘦 𝘢𝘯𝘥 𝘌𝘯𝘷𝘪𝘳𝘰𝘯𝘮𝘦𝘯𝘵).
3. Penutup.
Lalu apa kemudian? Demikian dapat dipahami Dasar Biblis Kelestarian Lingkungan Hidup dan Keutuhan Ciptaan. Dengan pemahaman itu, mari memasukkan diri kita masing-masing dalam konteks pemberian berkat Allah kepada manusia untuk menjaga kelestarian lingkungan dan keutuhan ciptaan. Dengan demikian, kita menjalankan tugas dan tanggung jawab kita untuk bersama membaharui diri menjadi agen pemerhati ekologi di tempat kita masing-masing.
Salam budaya dan religi. Salam bumi lestari.
Pangururan, 22 Februari 2021.
