fnews – SELAMAT TAHUN BARU MA DIHITA GOMPARAN NI BANGSO I – BANGSO BATAK, *** ARTIA SIPAHA SADA ***
HORAS TONDI MADINGIN, PIR TONDI MATOGU, HORAS..HORAS..HORAS..! Ini postingan VWS Silaen di status facebook-nya, lengkap dengan foto ucapan Selamat Tahun Baru Batak, Minggu 14 Maret 2021.
VWS Silaen yang sudah lama berkiprah di Habatahon dan aktif di Forum Sisingamangaraja bersama cucu cicit Raja Sisingamangaraja XII seperti Raja Oloan Sinambela di Medan dan pemerhati budaya Jhon Simanjuntak, pemilik cafe Caldera juga di Medan, melalui akun facebook-nya menjawab beberapa pertanyaan fnews, lengkapnya sebagai berikut:
Mauliate, Pak Ketua, Efendy Naibaho. Sesungguhnya, Tahun Baru itu adalah Produk Ilmu Pengetahuan Astronomi Bangsa-bangsa yang memilikinya. Ternyata Bangso Batak memiliki Ilmu Pengetahuan tersebut, yang kita kenal dengan sebutan – istilah –PARHALAAN. Dan produk khasnya adalah Kelender – Almanak – serta Tahun Baru (SIPAHA SADA).
Adapun jatuh tempo Tahun Baru BATAK, demikian Silaen, memang tidak harus tetap pada tanggal 14 Maret, seperti yang terjadi pada tahun 2021 ini. Tetapi selalu di antara bulan Februari pertengahan atau Maret menjelang akhir bulan.
Tahun Barunya CHINA – IMLEK pun demikian. Tidak pernah tanggal dan bulannya harus tetap sama dan selalu pada akhir bulan Januari atau pertengahan Februari. Begitu juga dengan Tahun Barunya India – DEPAWALI – yang jatuh temponya tidak tetap.., selalu di antara bulan September maupun Oktober. Artinya, Tahun Baru -Sipaha Sada – BATAK ini bukanlah milik sekelompok komunitas semata, melainkan milik kita semua, Gomparan ni Bangso Batak.
Dan mengenai tahun berapa sekarang, itulah yang menjadi tantangan kita ke depan untuk menentukannya. Karena itu tergantung dari kesepakatan kita bersama.., dimana paska Pandemi Corona ini, kita telah merencanakan membuat seminar yang akan dikaji – ulas – oleh Pakar yang membidangi ini secara Ilmiah, yang kebetulan bermarga NAIBAHO pula, yaitu TOGARMA NAIBAHO – yang hampir 40 tahun kerjanya mendalami bidang ini.
Dan mengenai postingan – publikasi – ini, saya sudah terlebih dahulu mendiskusikannya dengan komunitas Parbaringin maupun Parmalim, dan mereka sangat mendukung. Horas..!
Masih di grup-grup media sosial seperti whatsApp, salah seorang di antaranya yakni Mangadu Hutajulu menjelaskan bahwa itu adalah Artia mula ni ari sipaha sada mula ni bulan.
Jimmy Siahaan, pemerhati budaya dari Medan, menyebutkan Tahun Batak atau Parhatihaan atau Parhalaan, belum pernah dipakai seperti kalender lainnya menghitung tahun. Parhatihaan umumnya dipakai sehubungan dengan kalender penujuman dan pertanian pada tiap tahunnya dan tiap harinya. Parhatihaan erat kaitannya dengan hal – hal lain seperti Bindu Matoga dan ritual ritual.
Harri Bos Sidabutar dari Tomok beda lagi. Sebagai pelaku wisata, Sidabutar tersanjung sekali dengan adanya Tahun Baru Batak ini karena sangat layak dibuatkan spanduk atau baliho – nya meyambut turis manca negara dan nusantara.
Yayasan Pusuk Buhit yang bermarkas di Kaki Gunung Pusuk Buhit, persisnya di Lumban Butar ll, Siogung – ogung, Pangururan, Samosir, dalam waktu dekat ini menjadwalkan mendiskusikan Tahun Baru Batak itu sekaligus FGD melalui zoom dengan mengundag para pakarnya seperti Togarma Naibaho yang berdomisili di Jakarta, Jhon Simanjuntak, Jimmy Siahaan, Rytha Tambunan dan lainnya. en
