Tanam Tiga Jenis Pohon Saja di Pusuk Buhit

Indahnya Puncak Pusuk Buhit, Tempat Lahirnya Suku Batak - MerahPutih l ilustrasi - repro

fnews – Menjaga kelestarian dan kesakralan Pusuk Buhit, puncak tertinggi gunung di Pangururan, Samosir,  Sumatera Utara, diminta agar Pemkab Samosir, Pemprovsu dan Pemerintah Pusat cukup hanya menanam tiga jenis pohon saja di puncak gunung tersebut. Ketiganya adalah beringin, jabi-jabi dan bintatar atau hariara.

Efendy Naibaho, Ketua Yayasan Pusuk Buhit, yayasan yang mendapat pengesahan dari Kemenkumham No AHU – 8104. AH. 01. 04 Tahun 2011 tertanggal 1 Desember 2011 yang berkedudukan di Samosir, Sumatera Utara, kepada formatnews dan ketika ikut sebagai peserta FGD – Fokus Grup Diskusi membicarakan Titik Nol Peradaban Batak yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Samosir selama tiga hari, mulai 17 s.d 19 Maret 2022 di Hotel JTS Parbaba, Pangururan, sebelumnya mengucapkan terimakasih karena tidak adanya rencana bangunan fisik apapun di kawasan tertingginya.

Bacaan Lainnya

Pusuk Buhit diketahui Efendy Naibaho yang tinggal di kaki Gunung Pusuk Buhit tersebut sudah lama sekali tidak pernah dihijaukan lagi. Lereng – lerengnya tandus, di beberapa titik kering kerontang dan dari kejauhan pun tidak terlihat indah sebagai sebuah gunung yang sangat legendaris dan dianggap sakral bagi kebanyakan rakyat di berbagai daerah.

Selain indah jika dipenuhi dengan pepohonan, Pusuk Buhit juga bisa dijadikan sebagai salah satu objek wisata sejarah dan rohani yang sangat luar biasa dan mendunia. Di bagian tengahnya, lanjut Naibaho, cukup ditanami dengan tanaman Batak yang mengandung obat dan bisa dijadikan sebagai bahan untuk perobatan. Sedang di kaki gunungnya adalah perumahan warga yang sudah kompak.

Selama tiga hari FGD itu, seperti disampaikan Dinas Kominfo Samosir dalam siaran pers-nya yang diterima formatnews, Senin (21/3), disepakati sebagai hasil FGD antara lain bahwa titik awal peradaban Batak berada di Puncak Dolok Pusuk Buhit, sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari keseluruhan kawasan Gunung Pusuk Buhit beserta seluruh keragaman geologis (Geo-Diversity), keragaman hayati (Bio-Diversity) dan keragaman budaya (Culture Diversity).

Kawasan Pusik Buhit pun, lanjut Dinas Kominfo itu,  dibagi menjadi 3 zona yaitu  Zona Sakral (bagian puncak Pusuk Buhit), Zona Penyangga (bagian tengah Gunung Pusuk Buhit), Zona Pemanfaatan atau Pengembangan (bagian kaki Gunung Pusuk Buhit). Penetapan titik awal peradaban Batak diharapkan memperkuat Ideologis Peradaban Batak, mendukung pengembangan pariwisata yang berbasis ramah lingkungan dan pengembangan ekonomi kreatif masyarakat pada masa mendatang.

Sementara dalam berbagai perbincangan kecil yang selalu digagas Yayasan Pusuk Buhit, antara lain bersama Aliman Limbong, pargonsi handal dari Limbong, maupun A Martha Sitanggang, tokoh masyarakat yang akrab dipanggil dengan Gadong Siroti, disebutkan bahwa Puncak Gunung Pusuk Buhit adalah asal muasal orang Batak sedang titik awal peradaban orang Batak adalah di Sianjurmula-mula.

Di Perkampungan Batak itu sendiri, disebutkan Efendy Naibaho, persisnya di Sigulatti, dijadwalkan menjadi tempat peringatan Tahun Baru Batak 27 Oktober 2022 atau Sipaha Sada Artia 2431 sekaligus perayaan Hari Ulos 17 Oktober 2022. en – sel 

Pos terkait