Batu itu Kalo Dipukul Bunyinya Seperti Ogung….

Togarma Naibaho

formatnews.id – SANTABI ma ba anggia, ndang tarbaen au dope, dao sian jabu ala menu makanan dijaga dope, alana sensitif do siubeonhu, mura mamulos jala gale. On pe na agak lumumbang do umbaen na songon na tenang. Ini percakapan singkat di whatsApp Efendy Naibaho dengan Togarma Naibaho, par-Siogung-ogung, yang sudah lama tinggal di Jakarta setelah selesai kuliah di IKIP Negeri Medan, sekarang Unimed.

Togarma ketika itu kuliah di IKIP jurusan Seni Rupa dan sudah sarjana pada 1979 dan S2 di IKIP Jakarta 1985. Aku di Sastra Seni yang juga di IKIP Medan, di Jalan Merbau, jurusan sastra seni musik. Sama-sama juga di GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) di Jalan Iskandar Muda 107 Medan, walau belakangan saya meneruskan kuliah di Fak Hukum USU Medan 1974.

Bacaan Lainnya

Togarma di Jakarta juga urusan seni, menggeluti seni rupa termasuk gondang dan hiasan pelamin bersama isterinya, Boru Pangaribuan. Juga Ruma Batak yang sangat luar biasa. Dan dosen di berbagai perguruan tinggi.

Dalam percakapan di wa itu, Togarma, kelahiran Tiga Binanga, Kabanjahe, 28 September 1950, di usia satu tahun dibesarkan di Pangururan,  bilang olah ma informasi na hukirim i, laos pasahat ma tu si Manik i. Maksudnya Poltak Manik, advokat yang masih sempat menulis tentang dan terkait Tano Ponggol

Kata Togarma, hanya 250 meter tanah yang dipenggal itu dan ada Batu Penutup Lubang yang dalam, disangka tempat sembunyi Serdadu Sisingamangaraja XII, lalu Serdadu Belanda dan rakyat setempat tewas. Ketika mengangkat batu, keluar gas beracun dari lubang yang diperkirakan puluhan bahkan katanya ratusan meter tali diukur tidak sampai-sampai. Itu sebabnya dianggap jadi batu keramat hingga menjadi tempat ritual.

Batu itu kalo dipukul bunyinya seperti ogung, maka daerah itu disebut Siogungogung. Saya sudah pernah memukul pakai batu tahun 2016, benar masih bunyi. Sempat juga saya lihat anggir sesajen di atasnya. Di atas batu lubang itu juga ada darah horbo bius ditumpahkan oleh PRRI – nya Kol. Simbolon tahun 1958 sehabis upacara Horbo Bius mohon pertolongan Tuhan menghadapi Tentera Pusat pimpinan Soekarno yang dilaksanakan di Lapangan Segitiga Pangururan.

Tahun 1918 Nommensen pun membuat Kebaktian Paskah di sekitar Batu Lubang untuk memuliakan Tuhan. Sekembali dari Pangururan ke Sigumpar itulah Nommensen kembali ke Pangkuan Tuhan dan dimakamkan di sana. Kebaktian Paskah itu pakai grup musik tiup. Dan belakangan setiap tahun ada Grup Musik Terompet naik ke Robean (lereng Pusuk Buhit). Berkumandanglah suaranya hingga kedengaran sampai jauh. “Nunga Talu Hamatean dibaen Tuhan Jesus I”, itulah lagunya. Tapi sekarang gak ada lagi kedengaran. Molo dapot dope batu lubang i boi dibaen prasasti sebagai obyek wisata, harap Togarma.

Jadi Tano Ponggol mempunyai nilai sejarah Perjuangan Sisingamangaraja XII melawan Penjajahan Belanda. Nilai sejarah perlawanan PRRI ke Pemerintah Pusat RI karena dianggap pro Komunis Rusia. Dan waktu itu bertebaranlah majalah Uni Soviet dan majalah Aneka Amerika sebagai bagian perang informasi. Kami selalu dapat tiap bulan majalah itu karena dibagi ke lapo kami di Pusat Kota Pangururan. Isinya menunjukkan kehebatan negara masing-masing.

Belakangan, tahun 1965, ada ancaman barang siapa menyimpan majalah Uni Soviet dicurigai komunis, lalu abang saya membakar semua majalah Uni Soviet itu.

Kemudian juga Sejarah Penginjilan Nommensen yang berhadapan dengan Benteng Budaya Batak di Pangururan. Buku Tarombo Batak pun diterbitkan dari kota Pangururan tahun 1926 oleh Waldemar Hutagalung. Buku itu merupakan hasil pengumpulan informasi selama 5 tahun.

Huta Lumban Butar 2 ialah pemindahan dari Huta Lumban Butar 1 yaitu Taman Sitolu Hae Horbo sekarang. Jadi ada jejak leluhur kita di Lapangan Segitiga itu. Yang juga lokasi Sisingamangaraja XII bersama para serdadunya beracara. Dulu ada pohon Bintatar di antara Sitangkaraen dengan Segitiga sebagai tempat tiang di atas pohon itu sebagai injakan kaki untuk memantau ke Danau Toba manatau ada datang Serdadu Belanda. Yang seumur saya pasti tau cerita itu yang disebut Tungkot Ni Sisingamangaraja XII. Tapi terbakar 9 Juli 1969 waktu kebakaran kota Pangururan.

Kami, sebagai turunan leluhur penghuni Lumban Butar 1 yang sekarang menjadi Taman Sitolu Hae Horbo, yang dulu sebagai Lokasi Parbiusan Naibaho, Sitanggang, Simbolon untuk mengadakan Upacara Mangase Taon (Tahun Baru Batak) = Upacara Mohon Belas Kasih Tuhan agar diberkati menjalani tahun berikutnya sekaligus Pesta Panen.

Leluhur kita Naibaho Lumbanbutar – lah yang bekerjasama dengan Sisingamangaraja XII mengadakan ritual mohon Ompu Mulajadi Na Bolon melindungi Tanah Batak. Tetapi kemudian ompung kami, St Josua – lah tokoh spiritual Pangururan menjadi Kristen pertama yang dibabtis pada 6 April 1913, dua tahun setelah berdiri HKBP Pangururan.

Alai, dang huboto be manang na idia husimpan foto Tano Ponggol 1978 alani godang ni album dokumentasiku, tulis Togarma, yang sudah master pendidikan itu. Persisnya sudah drs, mpd sekaligus desainer handal.

*Sejarah terkait TANO PONGGOL…. percakapan whatsApp Togarma Naibaho dengan Efendy Naibaho, menyambu HUT ke-117 Tano dan Jembatan Tano Ponggol l Dalam bentuk leafled sudah diterbitkan komunitas tanoPonggol l Lumban Butar ll, Siogung-ogung, Pangururan, Samosir. Hari Jadi Tano Ponggol 17 Maret 1906 – 17 Maret 2023- J***

Pos terkait