formatnews.id – Ketua Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) Cabang Samosir Drs Ombang Siboro MSi, mengharapkan masyarakat di sekitar Dermaga Simanindo diedukasi, sehingga menerima dan mendukung dengan baik progres ticket on-line. Sudah seharusnya agar Dinas Budaya dan Pariwisata Samosir, segera turun berdiskusi serta sosialisasi ke masyarakat.
Diedukasi, lanjut Ombang, mantan Kepala Dinas Pariwisata Samosir, itu terkait tentang apa dan bagaimana serta keuntungan apa yang akan diperoleh bila penjualan ticket on-line ini diterapkan. Saat ada kejadian seperti itulah sesungguhnya Disbudpar diharapkan sensifitas dan kecepatan aksinya di lapangan.
Menurutnya, mereka (oknum) telah terbiasa mendapatkan komisi dari penjualan tiket. Mereka menjualnya dengan harga yang lebih tinggi dari biasa atau normal. Bahkan, dengan penerapan tiket online, oknum tersebut tidak lagi leluasa korupsi. Sebab, dengan berbasis online, celah untuk melakukan tindakan curang sangat sempit atau bahkan tidak bisa sama sekali.
Sikap yang sama juga dinyatakan oleh Kabid Dinas Perhubungan Kabupaten Samosir, Rikardo Sidabutar. “Tiket online akan jadi salah satu daya tarik bagi wisatawan ke Samosir. Asalkan pelaksanaanya tepat dan benar,” terangnya.
Menyinggung keberatan kumpulan para pedagang Simanindo yang khawatir jualannya tidak laku setelah sistem baru diterapkan, ia berharap ada aturan yang mewajibkan para penumpang check-in 30-60 menit sebelum jadwal keberangkatan.
“Belajar dari peraturan penerbangan di bandara. Para penumpang nantinya punya waktu untuk menikmati kuliner, belanja produk UMKM di sekitar dermaga,” terangnya.
Dengan demikian hal tersebut dapat menghidupkan usaha-usaha yang ada di sekitar pelabuhan. Akan tetapi, ia juga mengatakan agar tiket online tidak berlaku untuk semua Kapal Ferry.
“Hanya Kapal Feri milik pemerintah yang bagus dibuat online. Kalau swasta jangan dibuat online. Sebab, ini akan menampung orang-orang yang belum paham digital,” terangnya. Jika semua tipe angkutan (swasta dan BUMN maupun BUMD) disamaratakan menurutnya akan menimbulkan permasalahan.
Untuk Kapal Ferry Simanindo-Tigaras ia setuju diberlakukan penjualan tiket online asalkan ada boarding time 1 jam.
Adam Damrin Nainggolan anggota Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) sangat menyayangkan penolakan masyarakat terhadap penerapan penjualan tiket online. “Ketahuan sadar wisatanya masyarakat Simanindo lemah. Bagaimana pariwisatanya mau maju kalau cara berpikirnya salah. Di sinilah peran pemerintah, pariwisata, intelektual pariwisata untuk memberikan pemahaman ke masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, alasan yang dibuat kumpulan para pedagang Simanindo tidak dibenarkan. “Kalau wisatawan memang niat mau belanja, tetapnya akan belanja. Sekalipun wisatawan menunggu sangat lama, kalau dia memang tidak niat beli, dipaksa bagaimanapun tetap tidak belanja juga,” terangnya.
Pandangan yang sama juga dilontarkan oleh seorang pegiat wisata bernama Silva di Grup Forum Pariwisata Danau Toba. “Kenapa kumpulan para pedagang Simanindo tidak mikir jika sudah ada bookingan online, para pengunjung merasa lebih nyaman. Dengan demikian lebih banyak pengunjung memilih jalur Simanindo-Tigaras,” jelasnya.
Ia menambahkan, dengan waktu boarding 1 jam memungkinkan bagi para pengunjung untuk shopping, makan dan minum. Dengan bertambahnya penumpang, waktu tunggu pun dapat dipersingkat. Hal tersebut justru lebih efisien.
Lasma Turnip warga Medan yang kampungnya di Huta Sidaji Samosir meneriakkan pernyataan berikut,” Teknologi sudah semakin canggih hamuna (kalian–para pedagang di Simanindo)!” Ia meyakini hanya orang yang tidak tahan dengan transparansi yang menolak keras penjualan tiket online. “Mereka selama ini dapat persenan kali dari penjualan tiket. Kalau bisa beli online, ruginya dimana coba?” tanyanya.


