Ombang Siboro: Edukasi Masyarakat untungnya Apa Jika Tiket Online….

Ombang Siboro

formatnews.id – Ketua Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) Cabang Samosir Drs Ombang Siboro MSi, mengharapkan masyarakat di sekitar Dermaga Simanindo diedukasi, sehingga menerima dan mendukung dengan baik progres ticket on-line. Sudah seharusnya agar Dinas Budaya dan Pariwisata Samosir, segera turun berdiskusi serta sosialisasi ke masyarakat.

Diedukasi, lanjut Ombang, mantan Kepala Dinas Pariwisata Samosir, itu terkait tentang apa dan bagaimana serta keuntungan apa yang akan diperoleh bila penjualan ticket on-line ini diterapkan. Saat ada kejadian seperti itulah sesungguhnya Disbudpar diharapkan sensifitas dan kecepatan aksinya di lapangan.

Bacaan Lainnya

Penerapan sistem online itu, seperti dikutip dari GREENBERITA.com, ketika hendak melakukan Uji Coba Penerapan Tiket Elektronik (online) di Pelabuhan Ferry Simanindo – Tigaras, PT Pembangunan Prasarana Sumatera Utara (PPSU) malah mendapatkan aksi demo Warga Pelabuhan Simanindo khususnya para pelaku UMKM di sekitar Pelabuhan Simanindo , Samosir, Jumat, 01 September 2023.Pada penerapan Sabtu, 2 September 2023 tampak terjadi kericuhan karena aplikasi yang membingungkan calon penumpang karena adanya perbedaan antara yang manual dan online.

Menyikapi hal tersebut, Asisten I Pemkab Samosir Tunggul Sinaga meminta pengelola ferry yaitu PT PPSU untuk meninjau ulang pemberlakuan penjualan tiket online dan kembali dengan penjualan tiket secara offline.

Sementara NINNA.ID dikutip formatnews.id melaporkan lebih banyak pihak setuju Kapal Ferry Simanindo-Tigaras segera menerapkan tiket online. Sekalipun Asisten I Pemkab Samosir Tunggul Sinaga pada Jumat 1 September di hadapan masyarakat Simanindo menyatakan penerapan penjualan tiket online perlu ditinjau dan untuk saat ini harus kembali ke penjualan offline.

Sejumlah pihak sangat menyayangkan pernyataan tersebut. Di tengah tuntutan zaman dengan teknologi yang serba canggih, masyarakat harus bisa menerima perubahan tersebut.

Menanggapi ini, Efendy Naibaho, Ketua Yayasan Pusuk Buhit mempertanyakan apakah pernyataan ini sudah menjadi kebijakan Pemkab atau sudah disetujui Bupati Vandiko Gultom? Jangan suka-suka hati saja, ujar Naibaho dan ketika itu kapasitas Tunggul di sana sebagai apa….
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Samosir sendiri, Laspayer Sipayung menyatakan hanya oknum tertentu yang tidak senang dengan penerapan tiket online. Oknum tersebut selama ini adalah agen penjual tiket yang memanfaatkan kesempatan di balik kondisi penumpang yang mendesak ingin berangkat.

Menurutnya, mereka (oknum) telah terbiasa mendapatkan komisi dari penjualan tiket. Mereka menjualnya dengan harga yang lebih tinggi dari biasa atau normal. Bahkan, dengan penerapan tiket online, oknum tersebut tidak lagi leluasa korupsi. Sebab, dengan berbasis online, celah untuk melakukan tindakan curang sangat sempit atau bahkan tidak bisa sama sekali.

“Tak ada tawar-menawar. Itu arahan dari Menkomarves Luhut Panjaitan, kami harus jalankan. Zaman serba canggih. Apalagi tamu-tamu dari kota, terkhusus yang Tionghoa, waktu libur mereka singkat. Jadi, kalau habis hanya menunggu Kapal Ferry, itu bisa buat mereka marah dan tidak mau lagi ke Samosir,” jelas Laspayer.

Sikap yang sama juga dinyatakan oleh Kabid Dinas Perhubungan Kabupaten Samosir, Rikardo Sidabutar. “Tiket online akan jadi salah satu daya tarik bagi wisatawan ke Samosir. Asalkan pelaksanaanya tepat dan benar,” terangnya.

Kepala Dinas Pariwisata Samosir juga mendukung penjualan tiket secara online. Hal yang perlu untuk diperhatikan oleh BUMD PT Pembangunan Prasarana Sumatera Utara menurutnya adalah sosialisasi kepada warga dan para pedagang di sekitar dermaga. Sosialisasi tersebut diharapkan memungkinkan masyarakat di Samosir beradaptasi dengan sistem penjualan online.

Menyinggung keberatan kumpulan para pedagang Simanindo yang khawatir jualannya tidak laku setelah sistem baru diterapkan, ia berharap ada aturan yang mewajibkan para penumpang check-in 30-60 menit sebelum jadwal keberangkatan.

Menolak Keras
Poster berisikan penjelasan masyarakat Desa Simanindo menolak keras penjualan tiket online di pelabuhan Simanindo, Samosir. (foto: Damayanti)

“Belajar dari peraturan penerbangan di bandara. Para penumpang nantinya punya waktu untuk menikmati kuliner, belanja produk UMKM di sekitar dermaga,” terangnya.

Dukungan agar pelaksanaan tiket online juga datang dari anggota Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Samosir, Hartoba Torhis Sidabutar. Ia mengatakan tiket online tersebut seharusnya didapatkan lewat aplikasi dan bukan lewat agen.
Ia menekankan perlunya ada waktu boarding minimal 1 jam sebelum keberangkatan agar wisatawan dapat menghabiskan uang mereka.

Dengan demikian hal tersebut dapat menghidupkan usaha-usaha yang ada di sekitar pelabuhan. Akan tetapi, ia juga mengatakan agar tiket online tidak berlaku untuk semua Kapal Ferry.

“Hanya Kapal Feri milik pemerintah yang bagus dibuat online. Kalau swasta jangan dibuat online. Sebab, ini akan menampung orang-orang yang belum paham digital,” terangnya.  Jika semua tipe angkutan (swasta dan BUMN maupun BUMD) disamaratakan menurutnya akan menimbulkan permasalahan.

Untuk Kapal Ferry Simanindo-Tigaras ia setuju diberlakukan penjualan tiket online asalkan ada boarding time 1 jam.

Adam Damrin Nainggolan anggota Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) sangat menyayangkan penolakan masyarakat terhadap penerapan penjualan tiket online. “Ketahuan sadar wisatanya masyarakat Simanindo lemah. Bagaimana pariwisatanya mau maju kalau cara berpikirnya salah. Di sinilah peran pemerintah, pariwisata, intelektual pariwisata untuk memberikan pemahaman ke masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, alasan yang dibuat kumpulan para pedagang Simanindo tidak dibenarkan. “Kalau wisatawan memang niat mau belanja, tetapnya akan belanja. Sekalipun wisatawan menunggu sangat lama, kalau dia memang tidak niat beli, dipaksa bagaimanapun tetap tidak belanja juga,” terangnya.

Pandangan yang sama juga dilontarkan oleh seorang pegiat wisata bernama Silva di Grup Forum Pariwisata Danau Toba. “Kenapa kumpulan para pedagang Simanindo tidak mikir jika sudah ada bookingan online, para pengunjung merasa lebih nyaman. Dengan demikian lebih banyak pengunjung memilih jalur Simanindo-Tigaras,” jelasnya.

Ia menambahkan, dengan waktu boarding 1 jam memungkinkan bagi para pengunjung untuk shopping, makan dan minum. Dengan bertambahnya penumpang, waktu tunggu pun dapat dipersingkat. Hal tersebut justru lebih efisien.

Lasma Turnip warga Medan yang kampungnya di Huta Sidaji Samosir meneriakkan pernyataan berikut,” Teknologi sudah semakin canggih hamuna (kalian–para pedagang di Simanindo)!” Ia meyakini hanya orang yang tidak tahan dengan transparansi yang menolak keras penjualan tiket online. “Mereka selama ini dapat persenan kali dari penjualan tiket. Kalau bisa beli online, ruginya dimana coba?” tanyanya.

Efendy Naibaho sendiri yang sepakat dengan Ombang Siboro agar warga diedukasi, juga berharap Polres Samosir ikut serta memantau apa yang terjadi di pelabuhan penyeberangan itu. Dan bukan hanya di Simanindo, tapi di pelabuhan penyeberangan lainnya terlebih sudah ditetapkannya Samosir sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional, bahkan super, ujarnya. ***

Jordan Immanuel

Pos terkait