formatnews.id – Melalui surat bernomor : ist/rptinb/SBS/IV/2025, tertanggal 09 April 2025, Juita Fill Manurung, STh dari Ruma Parsiajaran Tradisional Inang Nauli Basa, meminta waktu Bupati Samosir Vandiko Gultom audiensi dengan mereka, bersama 13 orang masyarakat dari berbagai unsur dan kelompok meliputi para akademisi, aktivis adat dan budaya, pemerhati adat dan budaya, praktisi hukum dan Aliansi Pemuda Danau Toba
Ke-13 tokoh ini sebagai lembaga yang berkonsentrasi melakukan revitalisasi tradisi dan budaya bermaksud menyampaikan keberatan atas pembangunan Silang Hangoluan yang dibangun di Parik Sabungan, Sianjur Mula-mula dalam wilayah administrasi Kabupaten Samosir.
Adapun keberatan mereka dengan alasan yang pertama, bahwa keyakinan yang hidup di tengah masyarakat Habatakon bahwa Parik Sabungan dan sekitarnya merupakan asal usul dari leluhur banyak marga-marga di Tanah Batak sehingga pembangunan Silang Hangoluan dapat menghilangkan jati diri Habatakon.
Kedua, pembangunan Silang Hangoluan di Tanah Leluhur marga-marga Batak berakibat pada pandangan negatif dan dapat menjeneralisasi kepercayaan dan agama tertentu kepada suku Batak yang bedampak akan adanya pengkotak-kotakan dalam masyarakat habatakon.
Kemudian disebutkan Juita Manurung, atas pembangunan Silang Hangoluan di Tanah Leluhur marga-marga Batak akan menjadi jurang pemisah dalam masyarakat habatakon yang menimbulkan konflik yang luas dalam masyarakat habatakon dan bahkan hal tersebut berpotensi chaos (kekacauan). Masih banyak alasan lainnya, ujarnya yang sudah nenyerahkan permohonan audiensinya, kemaren.
Audiensi tersebut dimohonkan dilaksanakan Sabtu, 12 April 2025 pukul 10.00 WIB – Selesai di Kantor Bupati Kabupaten Samosir dengan agenda dengar pendapat terkait pembangunan “Silang Hangoluan” di Sianjur Mula-mula & pernyataan keberatan atas pembangunan tersebut.
Besar harapan kami Bapak Bupati sebagai Pimpinan Daerah Pemerintahan Kabupaten Samosir berkenan memberikan ruang dan waktu bagi kami untuk acara Dengar-Pendapat ini. Kami siap mengikuti ketentuan yang berlaku untuk pelaksanaan acara ini, tulis Juita.
Tokoh-tokoh yang akan audiensi tersebut 1 Dr Jekman Sinulingga, Kaprodi Sastra Batak, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, 2 Dr Manguji Nababan, Kepala Batakologi Universitas HKBP Nommensen, 3 Boy Siagian, praktisi, 4 Asir Maruasas Tambunan, Batakpedia, 5 Brando Sitinjak, praktisi, 6 Tinggi Pasaribu, praktisi, 7 Antonius Pasaribu, SH,CPM, Praktisi Hukum, 8 Samsul Pasaribu, Pemerhati Tradisi & Budaya, 9 Ody Sirait, Ir, Profesional Migas, Pertanahan, Regulatory dan Pegiat Habatahon di Jabodetabek, 10 Ronggur Hamonangan Manurung, Peneliti & Pemerhati Tradisi dan Budaya.
Kemudian 11 Rocki Tampubolon, praktisi, 12 Roberto Siahaan, praktisi, 13 Bontor Sihombing, Pelaku Tradisi & Spiritual Batak.
Tembusan permohonan ini juga disampaikan kepada Presiden Republik Indonesia, Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Kapolda Sumatera Utara, Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Provinsi Sumatera Utara, Badan Pemeriksa Keuangan Provinsi Sumatera Utara, Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Media Pers dan Publik.
Rencana pembangunanya sendiri, dikutip dari Kominfo Samosir, dilakukan Wakil Bupati Samosir Ariston Tua Sidauruk bersama Ketua Parsadaan Pomparan Limbong Mulana Indonesia (PPLMI) Bernhard Limbong dengan meletakkan batu pertama pembangunan Salib Suci “Silang Hangoluan” Limbong Mulana di Titik Nol Habatahon Huta Parik Sabungan, Desa Sarimarrihit-Sianjur Mulamula, Samosir, 12/03.
Pembangunan Silang Hangoluan merupakan inisiasi Parsadaan Pomparan Limbong Mulana Indonesia (PPLMI), salah satu marga tertua di Kabupaten Samosir. Sesuai rencana Salib akan dibangun dengan tinggi 45 M dan akan menjadi Salib tertinggi di Dunia.
Wakil Bupati Samosir Ariston Tua Sidauruk mengapresiasi pembangunan Salib Suci “Silang Hangoluan”. Dengan adanya Salib tersebut, Ariston berharap masyarakat Kabupaten Samosir khususnya yang ada di Kecamatan Sianjur Mulamula dapat hidup dalam kasih, dan saling tolong-menolong sebagaimana arti dari Salib yang melambangkan kemuliaan bagi umat Kristen yang membebaskan manusia dari segala dosa.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Samosir kami mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada Ketua PPPLMI Bernhard Limbong sebagai inisiator pembangunan Salib ini. Kita pantas bersyukur karena ini merupakan suatu wujud kepedulian terhadap Bona Pasogit”, kata Ariston
Ariston yakin, pembangunan Salib Suci nantinya akan menjadi sebuah objek wisata religi baru yang berfokus pada aspek spritual dan keagamaan yang dapat mengeksplorasi dan memberi pemahaman pengamalan nilai-nilai agama. Seluruh masyarakat dihimbau untuk mendukung kesuksesan pembangunan Salib Suci, karena akan berdampak pada peningkatan perekonomian masyarakat kedepan.
Menurut Ariston, beberapa fasilitas yang dibangun akan menunjang pariwisata Samosir, Salib Hangoluan menjadi ikon yang dikembangkan kedepan, apalagi akan menjadi salah satu Salib tertinggi di Indonesia bahkan dunia. “Saya tertegun dan sangat senang dalam acara ini. Masih ada putra daerah yang sangat peduli dengan daerah asalnya, mulai dari perencanaan sampai pembangunan. Saya yakin tempat ini akan menjadi salah satu ikon yang layak dikunjungi wisatawan dan menjadi suatu kebanggaan masyarakat Samosir”, tambah Ariston.
Untuk itu seluruh masyarakat khususnya yang ada di Sianjur Mulamula diharapkan mendukung pembangunan Salib Suci “Silang Hangoluan”.
Ketua Parsadaan Pomparan Limbong Mulana Indonesia (PPLMI) Bernhard Limbong mengatakan bahwa dirinya terpikir untuk membangun Bona Pasogit, mengingat begitu banyaknya pembangunan yang ia lakukan di daerah lain, dan pemikiran ini menggugah pikirannya membangun Bona Pasogit. “Saya dikasih Tuhan banyak berkat dan saatnya berbuat untuk Bona Pasogit, mulai dari Tugu Limbong Mulana, Titik Nol Habatahon dan Salib Hangoluan”, kata Bernhard.
Dijelaskan Bernhard, Salib Hangoluan akan dibangun dengan tinggi Salib 45 meter dan secara keseluruhan mulai dari lantai setinggi 52 meter, menelan biaya Rp 50 milyar dan merupakan dana pribadi sebagai bukti kepedulian kepada Bona Pasogit. Melengkapi bangunan Salib juga akan dibangun rumah doa. “Menjadi suatu ikon Salib tertinggi di Dunia. Ini bukan mimpi, saya tidak pemberi harapan palsu, sebelum saya dipanggil Tuhan, saya akan berbuat sesuai dengan berkat yang diberi Tuhan”, tambah Bernhard
Di tengah efisiensi anggaran saat ini, Bernhard meminta Pemkab Samosir menjalin kerjasama agar dapat mencari PAD sehingga pembangunan dapat tetap berjalan. Untuk itu diharapkan Pemkab Samosir dapat meningkatkan human Resourcing agar program, visi misi Bupati dan Wabup dapat diterapkan dengan baik termasuk dalam menggali potensi-potensi yang ada di Kabupaten Samosir.
Ketua DPRD Nasip Simbolon juga mengapresiasi niat Pomparan Marga Limbong yang telah melakukan pembangunan situs budaya mulai dari Tugu, titik nol Habatahon dan Salib Hangoluan. Menurutnya, Salib Hangoluan akan menjadi ikon wisata religi keagamaan yang akan banyak dikunjungi wisatawan. “Saya mengapresiasi langkah Ketua PPLMI yang telah mengucurkan dana pribadi untuk membangun jalan ke lokasi ini. Kedepan, mari tetap bersinergitas mewujudkan visi misi pemerintah, sehingga pembangunan dapat lebih baik. Kami sangat bangga, kami bersama pemerintah akan berusaha menjadikan lokasi ini menjadi lokasi wisata”, kata Nasip
Ketua LAB, Pantas Marroha Sinaga mengucapkan terima kasih kepada PPLMI yang sudah memberikan perhatian, memperbaiki Bona Pasogit Samosir. Ia berharap sekretariat lembaga adat sebagaimana yang telah direncanakan dapat terbangun di Sianjur Mulamula.
Kedepan dan seterusnya, Pantas meminta pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk tetap memberi perhatian guna melestarikan budaya terutama situs Gunung Pusuk Buhit. “Kami dari lembaga adat bangga dan bahagia dengan adanya pembangunan Salib Hangoluan dan semoga membawa berkat serta kedamaian”, ucap Pantas. ***
Efendy Naibaho