Oleh Hojot Marluga
BERITA duka cita yang mendalam. Telah dimuliakan Tuhan, Prof DR KPT Kanjeng Tarnama Sinambela di sisi Tuhan Yang Maha Esa, Minggu, 15 Juni 2025. Tarnama lahir 15 Juni 1943 di usia ke-82. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi kehilangan ini. Tarnama Sinambela dikenal sebagai pengusaha nasional. Jasa dan kontribusinya dalam bidang pendidikan melalui Yayasan Budi Murni Jakarta dan Universitas Mpu Tantular patut diapresiasi.
Masa kecilnya di Porsea. Pengalaman baru di Sekolah Menengah Pertama di Huta Narumonda membuka wawasan dan memperluas pergaulannya. Meskipun jaraknya lumayan jauh dari rumah, tapi kesempatan untuk bersekolah di tempat yang lebih besar dan bertemu dengan teman-teman baru sangat berharga baginya. Ini tentu menjadi pengalaman yang membentuk kepribadian dan memperluas jaringan sosial Tarnama kecil. Pergaulan dengan teman-teman dari latar belakang yang berbeda juga bisa memperkaya pengetahuan dan pengalamannya di kemudia hari.
SMA dilaluinya di kota Medan. Dari sana kemudian merantau. Perjalanan panjang dan penuh harapan menuju Jakarta. Saat tiba di Tanjung Priok, Jakarta, Tarnama muda disambut dengan pemandangan yang berbeda dari apa yang dia bayangkan. Awalnya dia bekerja serabutan. Kehadiran pencari beras di dermaga menunjukkan realitas kehidupan di kota besar yang mungkin sangat berbeda dari pengalamannya di tanah kelahiran, Pangasean. Namun, semangat dan tekadnya untuk sukses tetap kuat, dan terinspirasi oleh idolamu, TB Simatupang dan AH Nasution. Ini bisa menjadi awal dari petualangan baru dan kesempatan untuk mencapai tujuannya.
Kisah keluarga yang unik dan penuh dengan dinamika adat Batak. Ayahnya berpoligami dan tokoh Parbaringin. Namun berpoligami ayahnya berhasil menjaga keharmonisan antara istri pertama dan istri kedua, yang juga merupakan adik iparnya. Ayahnya bernama Hiobaja dan ibunya boru Marpaung.
Kisah Tarnama, sepertinya namanya tersohor, terkenal tentang pekerja keras dan penghematan sangat menginspirasi. Sempat juga penyeludup barang-barang elektronik dari Singapura. Karena tertangkap dia berhenti. Kemudian, menata karier kembali dari nol. Awalnya, bekerja sebagai asisten pelaksana di PT Pembangunan Perumahan hingga menjadi staf keamanan Hotel Indonesia di bawah Kapten Wage, perjalanan karirmnya menunjukkan dedikasi dan semangat kerja yang kuat. Perubahan kariernya menjadi staf keamanan Hotel Indonesia membuka peluang baru dan menunjukkan bahwa kerja keras dan dedikasi dapat membawa perubahan positif dalam hidup.
Kisah cintanya dengan Damaris boru Tampubolon sangat romantis, kariernya tentu dibantu istrinya. Dari proses pertemanan yang berkembang menjadi pacaran, lalu dilanjutkan dengan pernikahan yang diberkati di Gereja Ayam, Pasar Baru, Jakarta, menunjukkan bahwa hubungannya dibangun atas dasar kecocokan dan keputusan yang matang. Dari pernikahan, Tuhan anugerahkan dia anak, Budi P Sinambela dan Santo Mulia Parulian Sinambela.
Setelah mengalami kegagalan dalam bisnis penyelundupan, Tarnama bertekad untuk memulai kembali dan membangun bisnis yang lebih stabil. Dengan dukungan dari istrinya, Damaris, Tarnama memutuskan untuk memanfaatkan relasi yang dimiliki untuk membangun bisnis leveransir bahan bangunan. Keputusan ini menunjukkan bahwa Tarnama memiliki kemampuan untuk belajar dari kesalahan di masa lalu dan beradaptasi dengan situasi baru. Dengan keyakinan dan tekad yang kuat, Tarnama siap untuk menghadapi tantangan baru dan membangun masa depan yang lebih baik.
Tentu berkali-kali gagal dalam kemitraan usaha. Pengalaman pahit dengan kontraktor nakal menjadi pelajaran berharga bagi Tarnama. Ia menyadari bahwa menjadi kontraktor bisa menjadi pilihan yang lebih baik daripada bergantung pada orang lain. Dengan dukungan dari istrinya, Damaris, Tarnama memutuskan untuk merintis usaha kontraktor sendiri. Meskipun memiliki pengalaman dalam proyek besar, ia sadar bahwa masih banyak hal yang perlu dipelajari.
Namun, dengan tekad yang kuat dan dukungan dari keluarga, Tarnama siap untuk menghadapi tantangan baru dan membangun CV Budi Mulia menjadi perusahaan yang sukses. Nama perusahaan yang diambil dari nama anak pertamanya menunjukkan betapa pentingnya keluarga dalam setiap keputusan yang diambil.
Awal kesuksesan Tarnama dimulai dengan keberhasilan CV Budi Mulia dalam tender proyek pembangunan 6 lokal sekolah dasar di kawasan Halimun, Jakarta Pusat. Setelah melewati proses verifikasi yang menegangkan, Tarnama menerima kabar baik bahwa perusahaannya berhasil memenangkan tender. Ini merupakan proyek pertama bagi CV Budi Mulia di lingkungan Pemprov DKI Jakarta, dan dengan batas waktu pengerjaan hanya enam bulan, Tarnama harus bekerja keras untuk memastikan proyek tersebut selesai tepat waktu. Keberhasilan ini tentunya menjadi momentum penting bagi pertumbuhan dan reputasi perusahaan.
Tarnama membutuhkan perusahaan yang berpengalaman dalam konstruksi jalan untuk meningkatkan peluangnya dalam tender proyek Pemprov DKI Jakarta. Meskipun awalnya ragu untuk melakukan kongsi, ia akhirnya mencari perusahaan yang tepat untuk dibeli. Kesempatan datang ketika temannya, Sofian, menawarkan untuk menjual CV Sumber Batu, sebuah perusahaan yang handal dalam membuat sarana-prasarana jalan dan berada di Kelas III.
Tarnama melihat ini sebagai peluang bagus untuk memperluas bisnisnya dan meningkatkan kemampuan perusahaan dalam menangani proyek-proyek yang lebih besar. Dengan akuisisi ini, Tarnama siap untuk menghadapi tantangan baru dan meningkatkan reputasi perusahaan, dan menunjukkan reputasinya sebagai pengusaha.
Kemudian, Tarnama menerima kepercayaan besar dari PT Cikini untuk membebaskan lahan seluas 500 hektare untuk kawasan industri Pulo Gadung. Awalnya, ia menganggap tugas ini tidak terlalu sulit, namun kenyataannya proses pembebasan lahan terbukti sangat kompleks.
Masalah harga patokan yang ditetapkan PT Cikini di bawah harga pasaran tanah menyebabkan penduduk menolak menjual lahannya. Negosiasi dengan penduduk menjadi tantangan besar, dengan penduduk menyatakan, keberatan atas harga yang ditawarkan. Tarnama harus menemukan solusi untuk mengatasi masalah ini agar proyek dapat berjalan lancar dan sesuai dengan rencana. Situasi ini memerlukan diplomasi dan negosiasi yang baik untuk mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan.
Tarnama memperluas bisnisnya dengan mendirikan unit usaha asphalt mixing plant atau pabrik pengolahan aspal beton sebagai bagian dari holding company. Ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku aspal beton yang semakin meningkat dalam proyek-proyek yang dikerjakan oleh PT Sumber Batu. Dengan membangun pabrik sendiri, Tarnama dapat mengontrol pasokan dan meningkatkan efisiensi dalam proyek-proyek yang menggunakan aspal beton.
Pembangunan pabrik di kawasan Cakung, Jakarta Timur, dilakukan dengan cara yang inovatif, yaitu dengan membeli rawa dan kemudian menggunakannya sebagai lahan pabrik setelah diurug dengan sisa puing proyek. Ini menunjukkan kemampuan Tarnama dalam memanfaatkan peluang dan mengelola sumber daya untuk mencapai tujuan bisnisnya.
Perkenalan dengan tokoh-tokoh penting di era Orde Baru membuka banyak peluang dan pengalaman baru bagi Tarnama. Salah satu momen yang paling berkesan adalah ketika ia berkenalan dengan salah satu raja dari Kerajaan Mataram di Solo. Peristiwa ini terjadi secara tidak sengaja pada tanggal 31 Januari 1985, dan mungkin menjadi titik balik dalam hidupnya, membawa Tarnama ke dalam lingkaran kerabat keraton dan membuka pintu bagi hubungan yang lebih luas dengan kalangan elite politik dan kerajaan. Ini bisa menjadi awal dari babak baru dalam kehidupan Tarnama, baik dalam bisnis maupun dalam hubungan sosialnya. Saat Keraton Solo terbakar, Tarnama tampil membantu dan akhirnya diberi gelar dari Keraton.
Tarnama telah mencapai banyak hal dalam hidupnya, dari membangun kerajaan bisnis hingga memiliki hubungan dekat dengan tokoh-tokoh penting di Indonesia, termasuk seorang raja dari Tanah Surakarta yang menganggapnya seperti anak kandung. Namun, di balik kesuksesannya, Tarnama juga menyadari adanya kemiskinan di Jakarta yang masih menjadi masalah besar. Ia melihat langsung kontras antara kehidupan yang makmur dan kehidupan yang penuh keterbatasan. Dengan latar belakangnya sebagai pemuda dari desa kecil yang gagal masuk akademi militer, Tarnama memahami pentingnya pendidikan dan kerja keras dalam mencapai kesuksesan. Pengalamannya ini mungkin menjadi inspirasi bagi dirinya untuk memberikan kontribusi lebih besar kepada masyarakat, seperti yang terlihat dalam rencananya untuk merintis Yayasan Budi Murni.
Tarnama memiliki visi untuk meningkatkan akses pendidikan di Jakarta dengan membangun sekolah-sekolah di berbagai lokasi. Ia memanfaatkan lahan kosong yang dimiliki untuk mendirikan sekolah mulai dari TK hingga SMA/SMK. Dengan dukungan Gubernur Ali Sadikin, Tarnama membangun sekolah di beberapa lokasi, seperti Kedoya, Cipayung, Duren Sawit, dan Cipinang Muara. Pembangunan sekolah-sekolah ini menunjukkan komitmen Tarnama untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan memberikan kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat Jakarta untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Yayasan Pendidikan Budi Murni menjadi wadah bagi Tarnama untuk merealisasikan visinya dalam bidang pendidikan, puncaknya Tarnama membangun universitas Mpu Tantular di Cipinang dan Kedoya. ***
