formatnews.id – Saya sebagai jemaat gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan), sangat setuju gereja menyentuh politik untuk kesejahteraan sosial yang memengaruhi kebijakan, tapi bukan untuk berkuasa maupun terlibat dalam kekuasaan.
DR Edward Pakpahan, SH, MH, salah seorang advocat yang akan ikut mengajukan Class Action terhadap perusak Danau Toba bersama rekan-rekannya yang seluiruhnya nanti berjumlah 100 orang, menegaskannya menjawab jurnalis di Medan, Selasa (19/08/2025).
Melalui saluran medsosnya, Pakpahan, menyebutkan bahwa Danau Toba dan lingkungannya mengalami kerusakan yang serius, ditandai dengan pencemaran air, penurunan kualitas air dan kerusakan ekosistem. Faktor penyebabnya Danau Toba diekploitasi menimbulkan limbah budidaya ikan, penggundulan hutan, serta aktivitas industri dan pertanian yang tidak terkendali. Industri pulp atau bubur kertas, tidak berdampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat Danau Toba yang cenderung merusak lingkungan Danau Toba.
Peran gereja dalam konteks teologi sosial tidak hanya berfokus pada doktrin atau ajaran agama di dalam gereja setiap minggu, tetapi implementasikan dalam kehidupan sosial manusia, ekonomi dan kebijakan pemerintah. Sebab sumber masalah adalah kebijakan yang dicetuskan dalam keputusan politik, maka gereja yang menyoroti masalah sosial, ekonomi warga sekitar Danau Toba sangat menyentuh asal keputusan politik sebagai dasar hukum perusahaan raksasa yang mencemari Danau Toba dan merusak alam Danau Toba.
Pakpahan menegaskan hal tersebut menanggapi adanya suara-suara yang menyebutkan agar Eforus dan Pendeta menghentikan kampanyenya terkait lingkungan tersebut.
Eforus HKBP sendiri, Pdt Victor Tinambunan dikutip dari akun facebook-nya pekan ini, menuliskan, Bapak, Ibu dan Saudara yang satu hati berdoa dan berjuang untuk kelestarian Tano Batak dan Danau Toba serta seruan penutupan PT TPL, perkenankan saya menyampaikan beberapa hal berikut berkaitan dengan sikap dan cara-cara yang kita tempuh:
1. Perjuangan kita didasarkan pada iman bahwa Tuhan menghendaki Tano Batak dan Danau Toba (manusia, makhluk dan alam) hidup damai, harmoni dan sejahtera.
2. Kata-kata kita selalu mengalir dari pikiran yang jernih dan hati yang damai dan dipenuhi kasih,sehingga tidak menyakiti atau melukai siapa pun. Saya sendiri dan banyak di antara kita telah menerima hujatan, kata-kata kotor dan fitnah dari pihak pendukung TPL. Tetapi itu adalah salib yang harus dipikul. Kita mengampuni. Mereka adalah saudara kita juga. Jangan terpancing. Penting kita sadari: jauh lebih banyak yang mendukung perjuangan kita, bahkan di Porsea sendiri. Itu pasti!
3. Sudah banyak yang mengatakan supaya kita lakukan gerakan massa besar-besaran di Toba. Tetapi kita jalani dulu proses penyampaian aspirasi kepada yang kita hormati Pemerintah, DPR dan yang lain. Kita evaluasi terus dalam suasana perenungan, doa dan diskusi cerdas.
4. Kita harus benar-benar menghindari tindakan anarkis dan segala bentuk gerakan dan tindakan yang bertentangan dengan norma adat Batak yang bernilai tinggi, hukum, dan terutama ajaran Kristus.
Tuhan kita hidup dan tetap bekerja di antara kita. Mari kirta mengedepankan Tuhan dan kehendakNya. Tuhan memberkati Indonesia dan memberkati kita semua.
Eforus tak lupa memosting beberapa foto Ibadah Doa Merawat Alam, Tugu Proklamasi-Jakarta, 18/8/2025). ***
Efendy Naibaho
