Jurnalis Samosir Ikut Bantu Korban Bencana Banjir

Jurnalis di Samosir ungkap nuraninya untuk aksi kemanusiaan dari pada sekadar menonton ataupun menulis saja, dengan menggalang bantuan secara mandiri sebagai kritik moral atas lambatnya bantuan ke lokasi yang sampai saat ini belum terakses petugas.

formatnews.id – Para jurnalis di Samosir yang kerap mangkal di Rumah Makan Sederhana, Pangururan, ikut membantu korban bencana di Sumatera Utara dengan memberikan bantuan berupa sembako beras, mie instan dan baju bekas yang layak pakai yang berhasil dikumpulkan dari internal para wartawan yang selama ini aktif melakukan fungsinya sebagai fungsi kontrol pemerintahan di Kabupaten Samosir.

Seluruh bantuan diserahkan para jurnalis melalui HKBP Distrik VII Samosir, Minggu, 07 Desember 2025 untuk kemudian mulai disalurkan HKBP Distrik VII Samosir, Selasa, 09 Desember ke daerah terdampak bencana di Sumatera Utara.

Bacaan Lainnya

Di tengah besarnya skala bencana banjir yang melanda Sumatera Utara, Aceh dan Sumatera Barat, para jurnalis di Samosir mengungkapkan  nuraninya untuk aksi kemanusiaan dari pada sekadar menonton ataupun menulis saja, dengan menggalang bantuan secara mandiri sebagai kritik moral atas lambatnya bantuan ke lokasi yang sampai saat ini belum terakses petugas.

Komunitas para jurnalis itu sepakat mengumpulkan bantuan untuk korban bencana yang terjadi di Sumatera Utara, Aceh dan Sumatera Barat pada 25 November 2025 dan telah menewaskan hampir 1.000 jiwa dan 500 orang hilang serta jutaan orang terpaksa mengungsi. “Seluruh bantuan yang terkumpul hari ini bukti dari kepedulian para kuli tinta. Kami mengumpulkannya dari segala kekurangan kami dan berdoa pada Tuhan agar bantuan ini berguna meringankan beban para saudara kami korban bencana di sana,” ujar Fernando Sitanggang sebagai perwakilan para jurnalis didampingi Ambrosius Simbolon, Jefry Sitanggang, Juan Simarmata, Junjungan Marpaung, Dian Sinaga, Ranto Limbong dan Efendy Naibaho.

Mereka juga menyatakan apresiasinya kepada Praeses HKBP Distrik VII Samosir yang bersedia menjadi posko pengumpulan segala jenis bantuan untuk para korban bencana. “Saya apresiasi tinggi Praeses HKBP Distrik VII Samosir Pendeta Rintauli Sianturi yang sigap memberikan perhatian dan membuka posko dari seluruh pihak. Apalagi akan rela langsung ke lokasi bencana untuk menyalurkan kepada warga korban,” pungkas Fernando Sitanggang yang kesehariannya adalah Ketua IWO Samosir ini.

Praeses HKBP Distrik VII Samosir melalui Staf Distrik Ana Sinabutar menyampaikan apresiasi kepada para jurnalis di Samosir yang telah menunjukkan kepeduliannya. “Terimakasih kepada para jurnalis di Samosir yang telah berperan memberikan donasi untuk meringankan beban para saudara kita korban bencana banjir. Bantuan ini akan kita salurkan mulai hari Selasa ke Sibolga, Tapteng dan Tapsel,” ungkap Ana Sinabutar.

Wartawan senior Efendy Naibaho berharap bantuan ini segera disalurkan sembari meminta Pemerintah Pusat dan Provinsi Sumatera Utara serius menangani seluruh korban bencana. “Bantuan ini tidak seberapa tapi kami lakukan dengan ikhlas, karenanya kami meminta Pemerintah Pusat dan Provinsi untuk segera menyalurkan bantuan ke lokasi yang belum terakses. Kalau perlu dinaikkan status bencana ini menjadi Bencana Nasional supaya penanganannya lebih baik dan terarah,” tegas Efendy Naibaho.

Ditambahkannya, dari musibah bencana ini, diharapkannya adanya tobat ekologi dan bagi perusak lingkungan dan yang berpotensi merusak lingkungan agar dicabut semua bentuk perijinannya tanpa pandang bulu.

Terkait adanya kerusakan lingkungan yang diduga memperparah dampak banjir tersebut, jurnalis Ranto Limbong meminta segera diusut setiap pihak yang terlibat. “Kami meminta pemerintah khususnya Kementerian Kehutanan mengusut tuntas perusak lingkungan yang melakukan penambahan hutan di Tapsel, Tapteng, Sibolga dan Taput. Tangkap dan bawa ke pengadilan, yang paling penting Tutup dan Usut TPL,” tegas Ranto Limbong yang diamini Efendy Naibaho yang juga ikut demo 10 November 2025 ke Medan bersama Fernando dan Hayun Gultom.

Langkah para jurnalis Samosir ini bukan hanya tindakan sosial, melainkan cermin dari krisis tata kelola lingkungan dan kesiapsiagaan bencana yang masih rapuh di kawasan barat Indonesia. **^

Samuel Parningotan

Pos terkait