Hingga aksi bubar, tak ada pernyataan resmi Pemko Medan

Puluhan jurnalis dari berbagai media cetak,elektronik dan online berunjukrasa memprotes arogansi oknum pengamanan Walikota Medan.

fnews – Puluhan jurnalis dari berbagai media cetak, elektronik dan online berunjukrasa memprotes arogansi oknum pengamanan Walikota Medan Bobby Nasution di depan Kantor Walikota Medan , Kamis (15/4. Para jurnalis menggelar aksi demo di depan pagar gedung Pemko Medan itu, memprotes pengamanan berlapis terhadap Bobby Nasution, mulai dari personel Polisi, Satuan Polisi Pamong Praja hingga anggota Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres)dan dianggap berlebihan dan mulai bersikap arogan.

Seperti yang dialami jurnalis Harian Tribun Medan, Rechtin Hani Ritonga bersama salah satu rekannya sesama jurnalis, kemarin, saat akan melakukan kegiatan jurnalistik mewawancarai Bobby Nasution, Hani diusir oleh ketiga unsur pasukan pengamanan Bobby Nasution tersebut.

Bacaan Lainnya

“Saya dan jurnalis Pakar Berita hendak menanyakan penyebab pegawai dan tenaga honor di sejumlah sekolah dan Badan Pengelola Pajak Retribusi Daerah yang belum menerima gaji hingga tiga bulan”, kata Hani kepada awak media.

Melihat mobil dinas Bobby Nasution parkir di halaman Kantor Wali Kota Medan, Hani berupaya menemui Bobby. “Saya menunggu di depan pintu masuk utama,Rabu sejak pukul 16.00 WIB, dengan maksud ‘doorstop’. Namun sekitar pukul 17. 20 WIB, kami dilarang meliput dan diusir oleh tim pengamanan Walikota dari unsur Kepolisian, Satpol Pamong Praja dan Paspampres”, sebutnya. Saya mengenali mereka karena sehari – hari saya bertugas meliput di Kantor Walikota Medan”, ucap Hani.

Alasan Hani dilarang dan diusir, menurutnya, karena kehadiran jurnalis mengganggu ketenangan Wali Kota Medan. “Beruntung rekan saya sempat mengambil video perlakuan mereka kepada saya. Padahal saya sudah menjelaskan identitas dan maksud mewawancarai Walikota Medan”, ujar Hani.

Menurut Hani, perlakuan tim pengamanan Bobby Nasution yang dinilainya berlebihan membatasi ruang gerak jurnalis mencari berita di Kantor Walikota Medan sudah berlangsung sejak Bobby dilantik sebagai Walikota,” ujar Hani.

Salah satu peserta unjuk rasa, Liston Damanik, yang juga Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Medan menyesalkan pengusiran jurnalis. Damanik membandingkan walikota sebelum Bobby Nasution yang mudah ditemui untuk konfirmasi urusan pemberitaan.

“Jurnalis bekerja untuk mengabarkan informasi yang layak dipublikasi. Tidak ada alasan mengusir dan menolak wartawan saat akan melakukan kegiatan peliputan meski Bobby menantu Presiden. Aksi unjuk rasa ini adalah puncak kefrustasian jurnalis menghadapi Walikota Medan”, kata Liston.

Hingga aksi bubar, tak ada pernyataan resmi dari pihak Pemko Medan. diurnawan

Pos terkait