Oleh Padmono SK STh
PAK SAE NABABAN dikenal di kalangan gereja-gereja di Indonesia tetapi juga tingkat Asia dan Dunia. Sedangkan Pak Mamad hanya dikenal di lingkungan Salemba Raya 10, Jakarta Pusat, kantor PGI yang kini memiliki nama keren, Graha Oikoumene. Pak Nababan menjadi Sekretaris Umum DGI (kini PGI) sejak tahun 1967 hingga 1984 ketika nama DGI berubah menjadi PGI. Di PGI, beliau adalah Ketua Umum.
Pak Mamad adalah karyawan DGI/PGI yang termasuk karyawan Sekretariat Umum. Tugas utamanya melayani Pak Nababan. Pak Mamad orang Sunda dan muslim yang taat. Kalau tidak salah dari Sukabumi. Orangnya halus, kalau bicara tidak meledak-ledak, dan sifatnya sabar. Semua orang menghormatinya.
Ketika saya mulai bekerja di lingkungan DGI menjadi staf redaksi Berita Oikoumene sejak awal tahun 1977 (paruh waktu karena masih kuliah di STT Jakarta), saya mengenal Pak Mamad sebagai orang tua yang bijak. Tak pernah marah! Dengan sabar ia melayani karena ia menyadari, sebagai Sekretaris Umum Pak Nababan sangat sibuk. Pak Mamad tahu betul apa yang dibutuhkan Pak Nababan saat sedang bekerja. Puluhan tahun Pak Mamad melayani pak Nababan, sehingga antara keduanya terjalin persaudaraan yang indah. Dialah yang paling tahu tentang Pak SAE Nababan.
Dalam persidangan-persidangan gerejawi, Pak Mamad sering terlihat di kalangan sekretariat. Dia tahu tugasnya di mana, kapan diperlukan dan kapan harus bekerja. Pak Mamad tahu bahwa Pak Nababan adalah orang yang sangat disiplin dengan waktu. Jadwal kerjanya pun sangat padat dan semua teratur rapi. Karena itu dia tidak pernah terlambat dalam menyiapkan kebutuhan Pak Nababan. Jam berapa datang ke kantor, jam berapa makan siang, jam berapa pulang, sudah dihafal oleh Pak Mamad.
Semua orang yang mengenal pak Nababan (hingga sekarang) pasti memiliki kesan yang sama, disiplin dalam soal waktu. Kalau sudah berjanji untuk ketemu, tidak boleh terlambat sedikitpun. Namun saya pernah terlambat 20 menit. Janji ke rumahnya jam 10 dan saya terlambat. Gara-garanya peraturan ganjil genap. Mobil saya bernomor ganjil padahal hari itu tanggal genap. Saya sudah sampai di Pancoran jam 09.30, tinggal keluar tol dan memutar sedikit akan saampai di rumahnya jam 09.50.
Tetapi jalan keluar tol Pancoran dijaga polisi yang siap menilang kendaraan yang dianggap melanggar peraturan. Terpaksa saya berjalan merayap di tol tengah kota dan baru keluar di Kemanggisan setelah jam 10.00, muter di kolong flyover Taman Anggrek baru kembali masuk tol, keluar di Pancoran dan menuju rumahnya, jalan Rasamala.
Pak Nababan nampak tidak suka. Ketika saya jelaskan bahwa saya sudah sampai di Pancoran jam 09.30 dan terkena ganjil genap, beliau memahami. “Rupanya merepotkan juga aturan itu”, komentar beliau. Semenjak itu setiap janji ketemu selalu menyesuaikan tanggal atau jam sesudah ganjil genap.
Antara Pak Nababan dan Pak Mamad saling menghormati. Pak Nababan kendati sebagai tokoh yang sangat dihormati, tidak pernah merendahkan Pak Mamad atau menganggap Pak Mamad sebagai pesuruh. Bagi Pak Nababan, pelayan atau pesuruh itu hanya pekerjaan. Selebihnya Pak Mamad adalah manusia, makhluk Tuhan yang harus dihormati. Karena itulah Pak Mamad sangat nyaman bekerja di lingkungan para pendeta dan orang Kristen.
Dia tetap menjalankan agama yang diyakininya. Tak ada orang yang mengusiknya. Karena itu ketika Menteri Agama mengeluarkan surat keputusan yang melarang penyebaran kepada orang yang sudah beragama, yang sebetulnya dilatarbelakangi oleh ketakutan akan kristenisasi (yang sebetulnya dihinggapi penyakit paranoid), kalangan pendeta di DGI cukup marah! Isu kristenisasi yang menjadi momok bagi orang Pemerintah seperti Menteri Agama waktu itu sebetulnya hanya bayangan semu yang menimbulkan ketakutan.
Pak Mamad sudah puluhan tahun bekerja melayani Pak Nababan dan tidak pernah sekalipun terusik. Dia tetap menjalankan kewajiban agamanya dengan nyaman. Karena itu aturan-aturan yang dikeluarkan Pemerintah itulah yang sebenarnya mengusik dan merusak relasi antarmanusia dan antarumat beragama.
Pak Nababan sangat menjunjung tinggi persaudaraan antarmanusia. Beliau sangat menghormati tokoh-tokoh dari agama lain seperti Buya Hamka. Beliau-beliau itu memiliki relasi kemanusiaan yang menjunjung tinggi persahabatan.
Dengan sifatnya yang tegas dan disiplin itu beliau sangat peduli dan menghargai kreativitas pemikiran seseorang. Saya mengalaminya ketika diajak untuk menyusun buku laporan hasil Konsultasi Teologi tentang Tentena tahun 1978. Penyusunan buku laporan itu dilakukan di Pondok Sentosa Cempaka Putih. Di dalam tim penyusun itu selain Pak Nababan, ada Pak Mamesah, Pak Binsar Sianipar dan mas Th Sumartana. Saya yang paling junior ditugasi untuk menyusun hasil diskusi dari pokok-pokok yang dibahas. Beliau hanya memberi arahan secara garis besar saja. Dan ketika semua selesai dan masing-masing menyerahkan hasil kerjanya, Pak Nababan menerimanya dengan senang. Kalau ada hal yang kurang pas beliau akan bertanya, “menurutmua apa ini sudah bagus?” atau “menurutmu yang bagus itu bagaimana?”
Pertanyaan seperti itu dimaksudkan untuk menggugah orang untuk memiliki pendapat sendiri. Beliau tidak pernah berkata, “kamu harus begini” atau “kamu harus begitu”.. tetapi selalu membangkitkan semangat untuk berdialog dan berpikir. Pada waktu itu saya merasa sebagai yunior, dan saya bangga diajak serta dalam penyusunan laporan itu. Di situ saya merasakan betapa beliau peduli dan menghargai karya dan pemikiran orang lain.
Kepedulian seperti itu seringkali dilakukan untuk mendorong dan membangkitkan semangat orang-orang yang lebih muda untuk terus belajar dan maju. Dorongan itu tidak hanya berupa kata-kata tetapi juga diwujudkan dengan tindakan nyata, membuka jalur hubungan dengan pihak lain. Ada banyak yang kemudian meneruskan studinya di luar negeri hingga meraih gelar doctor (S-3) di bidangnya masing-masing. . Itu sebabnya banyak pendeta muda yang merasa sebagai kadernya.
Salah satu hasil nyata yang bermula dari dorongan beliau adalah Seminar Agama-agama yang diselenggarakan oleh Litbang PGI (dulu bernama LPS = Lembaga Penelitian dan Studi), yang dalam perkembangannya melahirkan aktivis-aktivis lintas-agama
Studi di bidang itu dan seminar agama-agama itu bermula dari Keputusan SR DGI tahun 1980 di Tomohon. Menyikapi perkembangan dunia Islam dengan Revolusi Iran, gereja-gereja disadarkan untuk menaruh perhatian pada studi agama Islam dan agama-agama. Beberapa orang yang berpendidikan teologi diarahkan untuk studi agama Islam di bawah bimbingan Prof Dr Olaaf Schumann, guru besar Islamologi yang pernah menempuh studi di Al Azhar Mesir.
Dari situlah berkembang studi agama dan masyarakat. Banyak cendekiawan Islam, Katolik, Budha, Hindu, diundang untuk berbicara di seminar tersebut, yang kemudian membangun relasi yang indah di antara cendekiawan lintas-agama. Walaupun saya bukan akademisi, tetapi saya ikut menikmati berada dalam seminar agama-agama yang diselenggarakan setiap tahun hingga 20 kali.
Seminar itu pula yang kemudian membangun pluralism di kalangan aktivis. Prof. Olaaf Schumann menetap dan mengajar di Indonesia karena diminta oleh Pak Nababan. Tujuannya memang mendidik teolog-teolog di bidang agama-agama khususnya Islam. Murid-murid Prof. Schumann sekarang ini telah tersebar di berbagai lembaga pendidikan teologi.
Kepedulian untuk mendorong dan membangkitkan orang muda untuk maju itu tidak sekadar maju bagi dirinya sendiri, tetapi juga berbuat sesuatu bagi bangsa ini. Tak hanya di bidang agama-agama tetapi juga di bidang sosial. Sejak dimulainya pemerintahan Orde Baru tahun 1968, gereja-gereja di Indonesia sudah melihat gejala bahwa pembangunan yang dirancang pemerintah akan membawa dampak yang luarbiasa di masyarakat dan akan banyak orang terpinggirkan oleh pembangunan tersebut.
Menyikapi hal itu DGI menyiapkan strategi pelayanan kepada mereka yang akan menjadi korban pembangunan dengan menyelenggarakan workshop dan membentuk tim PMKI (Pelayanan Masyarakat Kota dan Industri). Beberapa orang mengikuti workshop dan terjun ke daerah-daerah kumuh di kota-kota dan daerah industri.
Sedangkan untuk membangun perdesaan, DGI membentuk lembaga yang disebut Development Centre yang kemudian berubah menjadi Dharma Cipta. Di badan itulah dididik motivator desa yang diterjunkan ke desa-desa
DGI sebagai representasi dari gereja-gereja di Indonesia berada di garis depan dalam berpartisipasi dalam pembangunan.
Namun dalam partisipasi tersebut Gereja-gereja mendapat amanat yang cukup kuat yang harus diwujudkan secara praksis yaitu bagaimana “keadilan bergulung-gulung seperti air mengalir”. Ketika industry digalakkan maka buruh harus disadarkan untuk memahami eksistensinya. Buruh bukan alat industry tetapi subjek daripadanya. Karena itu penyadaran dan pengorganisasian buruh pun harus dilakukan. Dan langkah konkret yang diinisiasi Pak Nababan adalah berdirinya PMK (Pelayanan Masyarakat Kota) yang ditempelkan pada gereja HKBP Jakarta.
Penggerak lembaga non-pemerintah itu adalah Pak Indera Nababan, adik Pak SAE Nababan. Beliau membuka kran relasi dengan badan-badan donor dan Pak Indera yang mengeksekusi. Gerakan penyadaran dan penguatan (empowering) buruh itu berlangsung dengan sangat hebat. Boleh dikatakan bahwa gerakan buruh sekarang ini tidak lepas dari empowering yang sejak tahun 1970-an dilakukan.
Dari PMK HKBP Jakarta itulah lahir tokoh-tokoh buruh seperti Muchtar Pakpahan dkk. Saya pernah menyaksikan bagaimana pendidikan dan penyadaran buruh dilakukan di sel-sel, kontrakan mereka yang sempit di sekitar pabrik tempat mereka bekerja. Lembaga itu bahkan mengontrak sebuah rumah di pinggiran Jakarta, dekat dengan konsentrasi buruh pabrik sebagai kantor. Dari sana mereka menyusun program kerja, mengajarikan pengorganisasian, melatih para pelatih dan seterusnya.
Dalam tingkatan praksis, itu yang dikategorikan sebagai diakonia sosial yang transformative, Pelayanan sosial yang tidak sekadar karitatif yang hanya memberikan bantuan sosial kepada mereka yang terpinggirkan, tetapi membangkitkan kesadaran dan kekuatan untuk mengubah keadaan akibat dampak pembangunan yang berpihak pada pemilik modal.
Dampak pembangunan yang banyak menimbulkan korban itu menjadi perhatian Pak Nababan. Kepeduliannya terhadap rakyat kecil dan praksisnya memberikan hidup kepada mereka yang terpinggirkan sangat mengharukan. Walaupun beliau tidak terjun sendiri ke lapangan dan menangani kasus-kasus yang terjadi, namun beliau selalu menguatkan dan memberi semangat serta membangkitkan motivasi yang benar kepada orang-orang yang dipercaya untuk bertindak.
Karena itu manakala PMK HKBP Jakarta melakukan workshop atau seminar-seminar dan mengundangnya, beliau tidak pernah melewatkannya. Sampai sekarang PMK HKBP Jakarta masih aktif melaksanakan misinya. Semoga terus berjuang walaupun Pak Nababan sudah meninggalkan kita. Pesan yang berbunyi “Selagi Masih Siang” yang menjadi judul buku catatan perjalanan hidupnya itu mengajak kita untuk terus bekerja keras selama kita masih diberkati kekuatan dan kesehatan.
Salam damai. ***
