Oleh Kornelius Purba, Wartawan The Jakarta Post
Hari itu, 21 Mei 1998, hari Kamis, hari libur nasional, Hari Kenaikan Isa Almasih. Sekitar jam 9 pagi, Presiden Soeharto datang ke Istana Merdeka bersama putri sulungnya Mbak Tutut.
Wakil Presiden B.J. Habibie sudah lebih dahulu tiba. Seingat saya Habibie berjalan bersama Jenderal (bintang 3) Sintong Pandjaitan dari Wisma Negara ke Istana Merdeka. Soeharto tidak mau bicara dengan Habibie, menteri kesayangannya selama bertahun tahun. Konon karna menolak tuntutan Soeharto supaya mereka mundur bersama.
Presiden mengumumkan pengunduran dirinya. Habibie yang baru 2 bulan menjadi wakil presiden, langsung dilantik jadi Presiden RI ketiga.
Saya mengikuti mantan presiden Soeharto keluar dari istana ditemani putrinya. Tidak ada lagi pengawalan Paspampres. Mereka berdua menunggu mobil. Orang kuat yang memimpin Indonesia selama 32 tahun itu, memandangi Istana Merdeka. Sempat bertanya ke puterinya ke mana tujuan mereka selanjutnya. “Kita ke mana mbak.” Pulang sebagai warga negara biasa.
Sopirnya sering bercanda bahwa dia hanya perlu mengerem ketika sudah tiba di tujuan.Hari itu setelah sekian puluh tahun, mobil Mercedes Benz itu harus berhenti di lampu merah. Beberapa hari sebelumnya Soeharto kembali dari Cairo untuk menghadiri KTT G-15, perkumpulan negara negara berkembang. Saya ikut rombongan sebagai wartawan The Jakarta Post.
12 Mei 1998, menjadi tragedi nasional dengan gugurnya 4 mahasiswa Trisakti yang ditembak oleh aparat.
Jakarta rusuh. Kami sudah di Cairo ketika itu. Kemudian Soeharto membuat pernyataan di KBRI Cairo. Intinya dia bersedia mundur sebagai presiden. Kalimatnya dibungkus secara tersamar.
Pak Dubes Hassan Wirajuda mengizinkan wartawan menggunakan telfon kantornya untuk mengirim berita. Besok paginya Menlu Ali Alatas meminta saya dan Osdar wartawan Kompas untuk menghadap ke kamar hotelnya. Kalau tidak salah Hotel Sheraton tempat delegasi resmi menginap. Intinya Presiden Soeharto marah karna kami memelintir beritanya. Sepertinya beliau menyesal mengatakan bersedia mundur. Jujur saja saya dan Osdar sangat ketakutan, karna Protokol Istana bilang, paspor kami berdua hilang. Mereka yang simpan. Artinya, kami tidak bisa pulang ke Jakarta.
Osdar memegangi kedua tangannya, seperti sikap orang yang sedang diinterogasi oleh tentara. Pak Alatas bicara halus sekali. Tetapi berjanji akan membantu. Kemudian Presiden Soeharto kembali ke Jakarta. Diantar ke pesawat oleh President Mesir Hosni Mubarak. Saya dan Osdar boleh ikut pulang. Suasana di pesawat mencekam karna ada laporan Jakarta masih rusuh. Sempat ada rencana pesawat akan mendarat di Solo. Tetapi kemudian tetap ke Halim.
Masih pagi sekali. Dari udara, terlihat Jakarta masih terbakar.
Setahun kemudian Osdar menulis di Kompas tentang 1 tahun pengunduran diri Soeharto. Dan dengan pede menuliskan betapa gagahnya dia menghadapi peristiwa di Cairo. Hari itu juga saya bertemu Tommy, Pemred Kompas. Menirukan gerakan tangannya yang diletakkan di antara pahanya. Tommy tertawa. “Kayaknya lu juga sama Purba.”
21 Mei 1998, saya menyaksikan bagaimana orang yang paling berkuasa selama 32 tahun di Republik ini, harus pulang sendirian dari Istana Merdeka. Sebagai warga negara Indonesia biasa. Presiden Habibie memimpin Indonesia melalui masa transisi ke demokrasi di tengah Krisis ekonomi yang mengerikan.
Habibie Mundur
Tanggal 14 Oktober 1999, Presiden Habibie berangkat dari kediaman pribadi di Patra Kuningan ke Gedung DPR/MPR. Sangat terasa keyakinan kuat bahwa Pidato Pertanggungjawaban Habibie akan disetujui MPR. Artinya kesempatan untuk terpilih kembali sangat kuat.
Apalagi Ketua Umum Golkar dan Ketua DPR Akbar Tandjung adalah mantan Sekertaris Negara Habibie. Tetapi ternyata pidato pertanggungkawqbam Habibie ditolak, termasuk oleh Golkar. Saya bersama wartawan lain melihat Habibie kembali ke rumah dengan wajah sumringah. Seperti tidak ada masalah sama sekali. Tetap hangat kepada para wartawan. Habibie mundur dari pencalonan setelah memimpin Indonesia selama 17 bulan.
Gus Dur Jatuh
23 Juli 2001.
Saya juga hadir di Istana Merdeka ketika Presiden Gus Dur keluar dari kamarnya hanya memakai celana pendek. MPR meng”impeach” Gus Dur. Beliau memimpin Indonesia selama 21 bulan. Gus Dur mengalahkan Megawati Soekarnoputri dalam pemilihan MPR . Dilantik menjadi Presiden RI ke 4 tanggal 20 Oktober 1999. Megawati menjadi Wakil Presiden. Tetapi dengan “impeachment” itu, Megawati kemudian menjadi Presiden RI ke 5, 23 Juli 2001. Dan memimpin Indonesia sampai tahun 2004 ketika Megawati dikalahkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono dalam Pilpres langsung pertama Indonesia.
Sebagai wartawan The Jakarta Post, saya menyaksikan dari jarak yang sangat dekat kejatuhan 3 presiden Indonesia.
Saya juga meliput kegiatan mereka sebagai presiden. Tetapi kejatuhan Presiden Soeharto adalah yang paling dramatis dan paling berdampak pada masa depan demokrasi di Indonesia.
Inilah ironi kekuasaan dari sudut pandang seorang wartawan biasa yang sudah lanjut usia.
Jakarta, 21 Mei 2021
