DOKTER DAN PARAMEDIS PAHLAWAN KEMANUSIAAN

Ilustrasi l repro

Oleh Pirma Simbolon

DI Indonesia sering ada berita penganiayaan atau memarahi petugas layanan publik khususnya para medis oleh masyarakat. Sebut saja kasus penganiaan yang terjadi di Rumah Sakit Siloam Palembang April 2021 lalu. Kejadiannya hanya karena bekas infus di tangan anaknya yang sedang dirawat berdarah. Padahal itu biasa dialami pasien. Orang tua pasien langsung marah besar dan bahkan memukul perawatnya. Kejadian itu pun langsung viral dan berakhir urusan hukum.

Bacaan Lainnya

Beberapa hari yang lalu, di RSUD Pasar minggu Jakarta, seorang pasien terpapar Covid19 mengamuk dengan menyerang bahkan memukul dokter IGD yang sedang bertugas (sampai APD – nya robek), hanya ingin pulang paksa karena belum dapat kamar rawat inap.

Seorang perawat spontan berteriak ke security agar menolong dokter yang diamuk pasien. Secara spontan security berlari menolong dokter meskipun belum pakai APD karena baru ganti shift. Si security berhasil menahan pasien yang sedang meronta-ronta. Entah sengaja atau tidak, saat petugas memegangi si pasien yang meronta, si pasien batuk dihadapan security (sebelumnya tidak ada gejala batuk). Kasusnya sudah ditangani Polsek Pasar Minggu.

Setelah keadaan reda, si security di swab PCR dan kedua satpam tersebut dinyatakan postif covid19.

Dua hari lalu, seorang masyarakat, sebut aja Bapak PS, mengamuk di RSUD Cipayung. Kejadiannya hanya karena PS datang ke RSUD Cipayung hendak mau swab PCR bersama seorang anak yang dititipi seorang ibu dimana ibu si anak ternyata sudah terpapar covid19 dan dirawat di RSUD Cipayung.

Bapak PS belum dapat dilayani karena pasien berjubel (penuh) dan petugas menyarankan agar diswab PCR di rumah sakit yang lain. Bapak PS pun mengamuk sampai dorong-dorongan dengan petugas. Untung tidak sampai ada pemukulan.

Bapak PS mengamuk karena ingin di Swab PCR karena dia berkeyakinan bahwa dia dan anak yang dititipi tersebut sudah terpapar. Disnilah letak permasalahannya. Si bapak PS dan anak tersebut belum tentu sudah terpapar meskipun ibu si anak terpapar. Toh tidak ada gejala yang dirasakan.

Lagi pula seandainya Bapak PS pengen di swab PCR segera , kenapa tidak bersabar untuk mengikuti saran petugas untuk PCR di rumah sakit yang lain? Bukankah Puskesmas juga bisa melakukan swab PCR? Apalagi Puskesmas di DKI Jakarta sudah sangat maju dan lengkap dan bahkan mungkin sudah lebih bagus dari RSUD di Daerah.

DERITA PARA MEDIS SELAMA PANDEMI COVID19

Merdeka.com edisi 28 Juni 2021 memberitakan rilis data Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) bahwa sampai dengan 25 Juni 2021 terdapat 401 dokter yang meninggal akibat Covid-19. Para dokter itu terdiri dari dokter umum 226 orang, spesialis 190 orang, residen 5 orang. Sebanyak 22 orang diantaranya menduduki jabatan akademik guru besar (Profesor). Indonesia kehilangan luar biasa atas gugurnya para pahlawan kesehatan itu.

Bukan itu saja, berdasarkan data Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) ada 315 perawat yang meninggal, tenaga laboratorium 25, dokter gigi 43, apoteker 15, dan bidan 150.

Dengan data tersebut menunjukkan betapa berisikonya dokter dan para medis yang berada di garda terdepan dalam menghadapi dan melayani masyarakat yang terpapar covid19 baik saat melakukan vaksin, swab Anti Gen, Swab PCR maupun merawat pasien terpapar covid19.

MASIH LAYAKKAH MASYARAKAT MEMARAHI BAHKAN MENGANIAYA PARA DOKTER DAN PARAMEDIS?

Dengan memahami dua fenomena diatas (i) kecenderungan perlakuan tidak adil kepada dokter dan paramedis oleh masyarakat; dan (ii) tingginya resiko kematian dan dan terpapar para dokter dan para medis, HENDAKNYALAH kita masyarakat lebih bersabar dan menahan diri jika pelayanan yang mereka berikan tidak sepenuhnya sesuai harapan dengan segala kondisi psikologis yang mereka hadapi.

Kondisi psikologis para dokter dan para medis khususnya yang bersinggungan langsung dengan masyarakat terkait covid19 (vaksin, swab antigen, swab PCR dan merawat terpapar vovid19) sangatlah memprihatinkan. Mereka kewalahan, kelelahan bahkan stress setiap harinya khususnya saat 2 bulan terakhir akibat peningkatan penyebaran covid19 yang tidak terkendali itu.

KITA MASYARAKAT sangat tidak pantas untuk memperlakukan mereka tidak adil. Harusnya kita mendoakan mereka agar mereka sehat dan kuat menunaikan tugasnya. Coba kita bayangkan andaikan mereka mogok kerja akibat kejadian – kejadian tersebut? Untungnya mereka tidak mogok.

DOKTER DAN PARA MEDIS PAHLAWANKU.

Hai para dokter dan para medis dan pegiat sosial kesehatan yang saya banggakan dan hormati. Mungkin ada diantara kalian yang tidak pulang ke rumah berbulan – bulan karena menunaikan panggilan tugas, ada yang tidak sempat bercanda dengan keluarga karena melayani masyarakat dan ada yang kelelahan bahkan setres setiap hari akibat melayani lonjakan covid19.

Mungkin juga harus melayani telefon atau wa pasien atau keluarga pasien sampai tengah malam membuat tidur dan istirahatmu terganggu. MAAFKANLAH masyarakat yang pernah menghinamu atau bahkan menganiayamu saat kamu berbuat baik dan melayani mereka. Tetaplah melayani dengan setulus hatimu, UPAHMU ADA DI SURGA.

SALAM SEHAT
Bekasi, 1 Juli 2021

Akademisi STIE Jayakarta”

Pos terkait