BASUKI PROBOWINOTO, NASIONALISMENYA MELEBIHI SEGALANYA

Oleh Padmono Sk

KESADARAN Nasional atau nasionalisme di Indonesia tumbuh sebagai dampak dari politik etik Belanda. Iklim kemajuan yang ditumbuhkan dengan dibukanya sekolah bagi Bumi Putera di awal Abad 20 ikut mendorong tumbuhnya kesadaran nasional tersebut. Memang kesadaran itu masih terbatas pada masalah pendidikan, namun kemudian berkembang meluas menjadi kesadaran akan kemajuan, kesadaran akan kesetaraan, kesadaran akan kemerdekaan dan seterusnya.

Bacaan Lainnya

Lahirnya Boedi Oetomo 20 Mei 1908 merupakan salah satu tonggak sejarah lahirnya kesadaran nasional. Kelahiran BO tersebut kemudian diakui sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Bagi sebuah bangsa yang terjajah, bangkitnya kesadaran nasional itu merupakan simbol dimulainya sebuah proses kemerdekaan.

Semenjak itu kesadaran nasional semakin meluas. Berbagai ideologi mulai berpengaruh dalam kebangkitan nasionalisme. Kelompok-kelompok agama tidak mau kalah, mulai mengekspresikan kesadaran nasionalismenya. Seperti lahirnya Syarikat Islam. Bahkan dalam perkembangannya di tahun 1920-an pertarungan ideologis mulai merasuki organisasi seperti yang terjadi pada Syarikat Islam.

Di tengah-tengah tumbuhnya kesadaran nasional tersebut, pers memegang peranan yang sangat penting. De Express yang digawangi oleh Trio Douwes Dekker, Suwardi Surjaningrat, dan Dr Tjipto Mangunkusumo merupakan simbol kesadaran nasional yang radikal.

Tulisan Suwardi Surjaningrat yang berjudul “Als ik een Nederlander was“ (Seandainya Aku Seorang Belanda) menunjukkan kesadaran akan kesetaraan! Trio tersebut sebelumnya telah membentuk Indische Partij, sebuah partai politik yang memiliki semangat nasionalisme yang radikal.

Kesadaran nasional seperti itu juga tumbuh di kalangan pemuda-pemuda gereja. Dasawarsa kedua abad 20 di Jawa Tengah dan Jawa Timur sudah bermunculan organisasi-organisasi pemuda Kristen yang menanamkan kesadaran nasional kepada para pemuda. Organisasi-organisasi yang memiliki ciri kekristenan lahir seperti Partai Kaoem Christen (PKC), Christelijke Etischer Partij, Moeda Christen Djawi, Persatuan Pergerakan Pemuda Kristen, Perserikatan Guru Christen (PGC), dan seterusnya.

Konferensi-konferensi organisasi pemuda Kristen juga dilakukan setiap tahun di Solo (1926), di Padalarang (1927), di Bandung (1928) di Merbabu (1929), di Jakarta (1930 dan 1931). Salah satu pokok penting yang dibahas dalam konferensi tersebut adalah “Peranan Pemuda Kristen dalam Pergerakan Nasional”.

Tumbuhnya kesadaran nasional di kalangan pemuda Kristen itu tidak hanya terjadi di Jawa, tetapi juga di luar Jawa. Persekutuan Mahasiswa Kristen tahun tahun 1926 yang kemudian berkembang menjadi CSV of Java yang diakui sebagai Cooresponding Movement dari persekutuan Mahasiswa Kristen se dunia (WSCF) tahun 1932.

Kesadaran nasional yang tumbuh di kalangan pemuda Kristen itu telah menghantarkan banyak tokoh pemuda Kristen terlibat dalam even nasional seperti Kongres Pemuda yang melahirkan Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928.

JEJAK BASUKI PROBOWINOTO (BP)

Ketika semua itu sedang berjalan, Basuki Probowinoto masih remaja. Namun ketika menginjak masa pemuda, di situlah kita akan menemukan hal-hal yang mengagumkan! Melacak perjalanan hidupnya kelihatan bahwa BP memang orang yang cerdas! Sekolahnya yang selalu loncat kelas dan keinginannya untuk tahu banyak dan berbuat banyak (sejak sekolah di HIK Solo sudah baca buku filsafat dan politik) menunjukkan bahwa BP adalah orang di atas rata-rata. Dalam konteks kehidupan bangsa, nasionalisme BP melebihi segalanya!

Membaca secara teliti perjalanan hidupnya, nasionalisme BP tumbuh jauh ketika masih bersekolah di HIK Solo (1932 – 1937). Cita-citanya bukan sebagai guru, apalagi pendeta. BP bercita-cita menjadi ahli bahasa. Bahkan pernah melamar sekolah Stovia di Jakarta, tetapi tak diterima. Bahkan lamarannya ke Stovia yang jatuh ke tangan gurunya di HIK menyebabkan BP harus menempuh ujian HIK walau masih kelas 5 (padahal seharusnya 6 tahun). Ternyata lulus! BP sangat tertarik untuk mempelajari bahasa kuno: Iberani dan Yunani. Tetapi karena guru bahasa itu adalah pengajar di sekolah teologi, maka BP “terpaksa” sekolah teologi.  Jadilah BP sekolah pendeta!

Selama sekolah teologi itulah BP banyak bergaul dengan Christen Jongeren Vereniging atau Persatuan Pemuda Kristen. Namun yang lebih besar pengaruhnya dan menggembleng kesadaran politiknya justru dari Taman Siswa. BP sambil sekolah teologi, mengambil kursus jurnalistik di Taman Siswa dan bertemu langsung dengan Douwes Dekker, salah satu pendiri Indische Partij.

Taman siswa adalah perguruan yang didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara atau Suwardi Surjaningrat, kawan seperjuangan DD. Di perguruan Taman Siswa itulah BP berdiskusi soal nasionalisme. Sikapnya yang revolusioner yang sebenarnya sudah ada dalam dirinya semenjak masih bersekolah di HIK Solo, semakin berkembang dalam perjumpaannya dengan tokoh di Taman Siswa.

Sikapnya itu yang membedakan BP dengan “tokoh-tokoh” Kristen lainnya. Nasionalisme yang ada di kalangan orang kristen pada waktu itu boleh dikatakan sebagai “nasionalisme injili”, yaitu nasionalisme yang bertumpu pada semangat untuk mengabarkan Injil. Seperti yang terjadi dalam konferensi-konferensi yang dilakukan oleh zending, lebih banyak diarahkan untuk membicarakan pekabaran Injil. Sementara di pihak lain, seperti yang dilakukan oleh Partai Kaoem Christen (PKC) pendidikan nasionalisme diarahkan pada ketaatan Alkitab yang menyatakan tidak boleh melawan pemerintah karena pemerintah adalah wakil Tuhan (Roma 13). BP “melawan” pemahaman seperti itu!

Pemahaman orang Kristen yang seperti itu bisa dipahami karena semangat penginjilan pada masa-masa itu sangat kuat. BP secara revolusioner memberikan pemahaman yang berbeda. Hal itu ditunjukkan ketika BP menginisiasi untuk mendirikan PARKINDO, yang sebelumnya bersama kaum republiken berkumpul di Kramat Raya 65 untuk mengusulkan hilangnya 7 kata dalam konsep pembukaan UUD 1945 dan usulan tentang Presiden yang harus beragama Islam.

Ketegangan dalam pembentukan PARKINDO dapat dirasakan, karena banyak orang Kristen yang memiliki inferioritas, merasa rendah diri sebagai minoritas. BP menebas sikap itu dan berdirilah partai.

Melihat jejak perjalanan BP, agaknya harus diragukan data yang mengatakan bahwa nasionalisme BP tumbuh dalam perjumpaannya dengan CSV of Java. Tahun 1932 – an ketika CSV dilahirkan dan dikembangkan dan kemudian menjadi anggota Corresponding Movement dari Persekutuan Mahasiswa Kristen Sedunia, BP masih sekolah di HIK Solo. Nasionalisme BP tumbuh melalui buku-buku yang dibacanya dan berkembang dalam perjumpaannya dengan orang-orang di Taman Siswa yang diasuh oleh DD.

Jauh sebelum lahirnya GMKI tahun 1932, nasionalisme telah tumbuh di kalangan pemuda gereja. Banyak organisasi pemuda kristen yang bersifat nasionalis tumbuh subur di berbagai daerah. Memang tokoh-tokoh seperti AA Maramis, Latuharhary, Sam Ratulangi, St. Gunung Mulia, dan Leimena merupakan orang-orang Kristen sekaligus tokoh nasionalis. Namun sebelum kemunculan tokoh-tokoh tersebut, nasionalisme telah menyebar sebagai virus di kalangan pemuda gereja.

BP merupakan tokoh nasional yang nasionalismenya tidak termasuk “nasionalisme injili”. Nasionalismenya lebih revolusioner dan itu diwujudkan dalam perbuatannya. Kemampuannya menyerap ilmu dari buku-buku yang dibacanya menunjukkan bahwa BP tumbuh dalam “self education” di semua bidang. Rasa hausnya akan pengetahuan, cita-cita, serta tindakannya melebihi segalanya. Karena itu nasionalismenya pun melebihi segalanya. ***

 

 

 

Pos terkait