Oleh Antoni Antra Pardosi (Op Adriell Pardosi)
“ANAK yang hilang”. Begitulah Pak GM menyebutku, tidak berapa lama dalam sebuah raker, setelah aku meninggalkan SIB, pada tahun 1995.Kalimat itu kudengar dari salah seorang rekan peserta raker dua tahun kemudian di Jakarta. “Tampaknya Ketua merasa kehilangan kau, wartawan kesayangannya,” katanya. Ya, kami akrab memanggil Pak GM, dengan “ketua” juga.
Sejatinya, datang dan pergi adalah peristiwa biasa dalam perjalanan SIB. Tetapi entah kenapa Pak GM (GM Panggabean, pendiri dan pemred harian “Sinar Indonesia Baru” atau SIB) sampai menyinggung kepergianku.
Seistimewa apakah diriku di mata beliau? Entahlah.
Mestinya tak begitu. Siapa pun tahu, bahwa dulu itu aku menyebalkan. Tak disiplin waktu. Suka-sukakulah menabrak jam kerja. Susah diatur. Pendek kata menjengkelkan. Penugasan Pak GM pun pernah kuacuhkan sampai aku diskors.
“Ini bukan perusahaan milik ompungmu. You kerja di SIB. Perusahaanku. Patuhi peraturan di SIB. Patuhi perintahku, ” katanya dengan kekuatan amarah penuh.
Kalau sudah bicara seperti itu, biasanya, siapapun bawahannya pasti akan merasa copot jantungnya; “tarmalitondi”. Ruangannya yang sejuk tiba-tiba dirasakan bisa berubah seperti neraka. Kala itu, Pak GM memanggilku ke ruang kerjanya. Pasalnya, aku masuk kerja lagi, padahal sudah kurang lebih satu tahun bolos dari kantor. (Kurang ajar, ‘kan?).
Aku meneken surat teguran dan surat perjanjian taat aturan, berlembar-lembar, rangkap sekian. Aku santai saja. Melihat itu, Pak Arifin Siregar, OSL Tobing, dan RM Hutagalung tampak jengkel. Para petinggi redaksi itu diundang Pak GM ke ruang kerjanya untuk mengikuti persidanganku itu.
Itu peristiwa tahun 1994. Sebulan kemudian, setelah kembali aktif, aku terpilih (lagi) jadi wartawan SIB terbaik, berkat salah satu reportaseku yang berdampak domino pada pemberitaan beruntun. (Begitulah memang gaya SIB dalam memperjuangkan sesuatu. Perpaduan jab, hook, cross, dan upper cut dalam bertinju).
Namun setahun kemudian, pada tahun 1995, aku benar-benar menghilang dari SIB; selamanya … Begitulah Pak GM yang amat kuhormati dan kukagumi itu, menganggapku anak yang hilang .. .
*****
Anak yang hilang itu akhirnya muncul Selasa kemarin, 27 tahun kemudian. Melewati pintu gedung lantai tiga di Jalan Brigjen Katamso, itu seperti menerobos lorong waktu berabad-abad dalam hitungan detik.Aku disambut Sumba Simbolon, salah seorang petinggi redaksi, kepada siapa aku memberitahu napak tilasku sore kemarin sebelumnya.
Di depan gedung aku bertemu dengan senior terbaik sedunia, Bang Toga Sitohang. Aku menunduk seperti sungkem. Kami berpelukan.
Teman lamaku, Yanti Sihombing petugas setting muncul dengan senyum sumringah. Juga Bang Kasidi. Kami juga berpelukan. Sebelum jadi wartawan, mereka adalah teman senasib sepenanggungan sewaktu kami berjibaku sebagai karyawan balbal percetakan.
Kak Minar Simanjuntak, kasir yang galak namun baik hati kalau kita pintar membaca suasana hatinya, menyongsongku dengan sumringah pula. Aku menabiknya dengan hormat. Kakak itu masih cantik.
Andreas R Lenore setengah berlari menuruni anak tangga. Kami berpelukan. Ia itu sahabat dekatku. Teman ke mana-mana bersama mendiang Mondang Simanjuntak. Teman curhat terbaik. Pertemanan kami seperti berjodoh barangkali karena sama-sama punya tipikal pemberontak, he he he …
Di akhir kunjungan aku bertemu Bang Victor Siahaan. Seniorku yang satu ini dikenal tegas dan gayanya terkesan sombong. Di eraku dulu ia menjabat Kepala Biro Medan dan belakangan diangkat jadi Penanggung Jawab SIB.
Aku dijamu makan malam oleh Sumba Simbolon, Toga Sitohang, Andreas R Lenore, dan Piktor Sinaga, Rikson Pardosi, yang datang menyusul. Pertemuan yang indah dan berkesan.
Sayang, dalam kunjungan singkat itu aku tidak sempat bertemu dengan teman lainnya yang masih mengabdi di SIB, ada Petrus Sembiring, Rasmeita Purba, Edy Bukit, dan Nelly Hutabarat. Aku salut atas pengabdian mereka seumur-umur di koran SIB. Tabik hormatku buat senioren semua.
Di balik itu aku jadi sedih karena belum lama kehilangan teman seperjuangan, Habibul Chair, Gaja Eddimar Sibarani, dan Johannes Surbakti. Damailah sobat di alam sana.
*****
Oh ya. Mumpung masih suasana bernostalgia. Aku bergabung di SIB pada tahun 1987. Pertama kali diterima sebagai desainer iklan shift malam. Sembari itu aku tetap intens menulis dan melukis kartun “Nasib Si Suar Sair”, yang telah kurintis sejak jadi penulis remaja SIB pada tahun 1985.
Dua tahun kemudian aku diterima di Pusdiklat Wartawan SIB (dari jalur khusus nonsarjana karena masih kuliah, seangkatan dengan Parluhutan Simarmata). Tidak berapa lama aku diangkat jadi wartawan Biro Medan dan hanya dalam hitungan semester promosi menjadi redaktur menangani rubrik mingguan “Pentas, Film, dan Musik”, menyusul kemudian rubrik “Siapa dan Mengapa” dan “Kawula Muda”.
Sembari itu aku masih ditugaskan sebagai pewarta liputan. Entah apa yang terlintas dalam pikiran Pak GM sehingga aku tak diberikan pos, melainkan jadi “Wartawan CHiPs”– julukan resmi Pak GM terhadap wartawan gempur, meminjam serial televisi populer bertema polisi, dibintangi Eric Estrada, Larry Wilcox, dan Robert Pine, dekade 1980-an (Temanku “Wartawan CHiPs” kala itu adalah Toga Sitohang dan Duga Munthe.)
Jujur, aku tetap bersyukur tak diberikan pos sebab aku memang benci pada release atau undangan temu pers. Aku lebih suka mengasah naluri jurnalis membuat liputan khusus, reportase feature, temanya juga suka-suka. Kesukaanku itulah membuat Victor Siahaan, sang kepala biro, kerap menghunjukku sebagai perangkum apabila kami melakukan liputan bersama.
Selain itu, aku juga masih rajin menulis cerpen, membuat illustrasi, melukis kartun “Nasib Si Suar Sair”, serta menulis artikel budaya, film, musik, pariwisata, dan permasalahan sosial lainnya. Pak GM senang dan bangga setelah beberapa kali aku membuat harum nama SIB dengan memenangi lomba karya tulis tingkat Sumut maupun tingkat nasional.
Sulit dipungkiri, besar kemungkinan itulah yang membuat Pak GM memperlakukanku istimewa. Padahal, seperti kuceritakan di awal, aku adalah tipe wartawan yang susah diatur. Pada rapat terbatas ia pernah berkata, meminjam pementasan tonil, “biarkanlah primadona itu bertingkah yang penting mampu mendatangkan banyak penonton”.
*****
Aku bergabung di SIB, secara keseluruhan pada periode 1987 sampai dengan 1995. Bagi saya, itulah bagian periode puncak kebesaran SIB sehingga pernah dijuluki sebagai koran paling berpengaruh khususnya di Sumut.
Ia dijuluki “Koran Batak” karena sejak awal getol menyuarakan kepentingan politik masyarakat Batak termasuk kawasan Tapanuli. Karakter pemberitaannya memang spesifik, keras, tegas, tak kompromi, serta lugas mengupas tiap masalah sampai ke akarnya.
Tentu, diakui SIB pernah terjebak dalam pemberitaan kontroversial. Tetapi, itu tidak akan menghapus peran SIB dalam ingatan kolektif masyarakat Batak, atas perannya tadi. Aku beruntung masih sempat seperiode dengan nama-nama besar seperti Arifin Siregar, penulis cerbung “Pariban dari Bandung” yang amat melegenda itu. Dari aku kecil sudah menjadi penggemar fanatiknya dan merasa tersanjung sempat membuat illustrasi beberapa cerbungnya, termasuk “Begini Rupanya Medan” dengan tokoh Amani Padot-nya.
Kala itu beliau menjabat wakil pemred. Di jajaran top eksekutif redaksi ada sederet nama mentereng, Nazar Effendi Erde dan M Zaki Abdullah, dua jurnalis berdarah Melayu yang ketularan karakter Bataknya; OSL Tobing yang kritis menulis “Tajuk Rencana”; RM Hutagalung yang juga guru besar seni beladiri Merpati Putih; dan Manapar Vritz Manullang sang jurnalistik nyentrik.
Lebih beruntung lagi sehari-hari bisa dekat dengan Pendeta Marganda Tobing yang gaul dan humoris. Ia adalah pengasuh rubrik “Olahraga” dan “Mimbar Kristen”; tidak lain juga adalah Kak Sondang, pengasuh rubrik “Sinar Remaja” yang membukakan peluang bagi banyak remaja menjadi penulis dan wartawan di kemudian hari.
Di jajaran redaksi ada juga nama jurnalis beken Michael Pasaribu, John Panjaitan, Jamail Siallagan, Janata Sitinjak, Rivyan S Gani, Efendy Naibaho, Sori Simaremare, Panogari Panggabean, dan Azrin Marydha. Jajaran redaksi didukung penerjemah Azhary Usman (kemudian menjadi wartawan BBC), Bahriun Yahya, Simson Gintingsuka, Jaholong Sitanggang yang juga pengasuh “Zodiak”, M Sidik Dalimunthe, dan Edy Pryono.
Beruntung pula bergabung dengan para senior Habibul Chair yang merangkap fotografer, Toga Sitohang, Victor Siahaan, Petrus Sembiring, Awaluddin, Rasmeitha Purba, Dermawan Sembiring, Ulamatuah Saragih, Nelly Hutabarat, Masdrenty Keliat, Timbul Simorangkir, Cornelius Simanjorang, Edy Bukit, Andreas Bresman (Ingot Simangunsong), dan Nian Poloan.
Generasi pelapis ada Gaja Sibarani, Amson Purba, Jumian Situmorang, Evalisa Siregar, Mondang Simanjuntak, Johannes Surbakti, Jenda Bangun, Andreas R Lenore, Yogi Suwanda, Dohardo Harianja, Duga Munthe, Sarsin Siregar, Parluhutan Simarmata, dan Pangihutan Rumapea. Dua nama terakhir seangkatan denganku sesama alumni Pusdiklat binaan Arifin Siregar dan OSL Tobing.
Generasi di bawahku ada Hitler Manalu, Robert Siregar anak Arifin Siregar, Martohap Simarsoit, Piktor Sinaga, Suwandi Purba, Sumba Simbolon, Proklamasi Naibaho, Relieve Sane, dan lain-lain.
Di Biro Jakarta ada Adi Kusuma Pasaribu wartawan istana, Jamida Habeahan, Hatorangan Sianipar, Jasudin Panjaitan, Jimmy Situmorang, dan Robinson Siagian. Daerah lainnya di luar Medan ada Robin Ch Manullang, Ramlo Hutabarat, Josmar Simanjuntak, Pariaman Pakpahan, Charles Simanungkalit, Turman Panjaitan, dan lain-lainnya.
Banyak di antara sejawatku tadi yang meninggalkan SIB karena mendapat pekerjaan baru atau menyeberang ke media lain. Sebagian dari mereka telah pula berpulang.
Dua kali peristiwa eksodus, hampir bersamaan, membuat SIB pernah limbung. Pertama eksodusnya Arifin Siregar Cs dengan mendirikan koran “Patriot”, kedua eksodus OSL Tobing – Nazar Effendi Erde Cs saat mendirikan koran “Perjuangan”. Dua koran tersebut kini tinggal nama sementara SIB tetap eksis, dengan keterbatasannya sekarang dalam persaingan jurnalisme modern, terutama pesatnya media online dan hegemoni dunia daring yang juga menghajar persuratkabaran.
Bagaimanapun SIB tetap melekat dalam ujung ingatan kami. Sebagian dari kami mantan SIB masih terikat pada romansa histori dengan menyebut diri “MAWAS” atau mantan wartawan SIB (Ada grup WA dan FB-nya, gabungan dengan mantan karyawan SIB).
*****
Si anak hilang memang pulang, tetapi hanya singgah menjenguk masa silamnya. Ia akan melangkah lagi entah ke mana seakan menangisi nasibnya karena merasa dirinya gagal dan tidak menjadi apa-apa. Dalam batin ia bergumam, puaslah sudah rinduku sebelum ajal datang menyapa .. .
Amplas-Medan, awal Maret Nan Mendung, 2022.
