Titik Nol Peradaban Batak?

SG Bakara bersama Manogar Naibaho pose bersama usai FGD Titik Nol

Oleh Efendy Naibaho l Ketua Yayasan Pusuk Buhit

SENGAJA saya buat tanda tanya untuk judul tulisan ini, yang sedang dibahas dalam FGD – Fokus Grup Diskusi di Parbaba, Pangururan, Samosir, Sumatera Utara, Kamis (17/03/22) hingga Sabtu (19/03/22) yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Samosir.  Judulnya Titik Nol Peradaban Batak.

Bacaan Lainnya

Tetti Naibaho, SSos, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Samosir yang menggagas FGD ini menyebutkan dalam rangka  pengembangan objek pemajuan kebudayaan di Kabupaten Samosir, dianggap perlu untuk menggali dan mengemas cerita tentang Titik Awal Peradaban Batak, agar kekayaan budaya Batak semakin dicintai oleh Bangso Batak dan dikagumi dunia sekaligus dapat dikelola sebagai daya tarik wisata.

Danau Toba, Pulau Samosir dan Pusuk Buhit adalah pusat pertumbuhan dan pelestarian budaya Batak, dimana peradaban suku Batak dimulai di wilayah ini dan kebudayaan menyatu dalam kehidupannya sejak dulu sampai sekarang. Untuk memperkaya informasi tentang titik awal peradaban Batak dimaksud,  dilaksanakanlah Focus Group Discussion (diskusi terpumpun)  selama tiga hari itu.

Dalam hori-hori dinding, percakapan permulaan, sudah disepakati titik nolnya di Kawasan Pusuk Buhit. Mengapa disebut sebagai peradaban, bukan Titik Nol Orang Batak atau Titik Nol Batak? Kok enggan atau tidak tegas saja menyebut Batak atau Halak Batak?

Syamsul Dwi Maarif – dalam tulisan panjangnya pada 24 Maret 2021 dikutip dari tirto.id, peradaban adalah seluruh hasil budi daya manusia yang mencakup seluruh aspek kehidupan, baik fisik (bangunan, jalan) maupun non-fisik (nilai-nilai, tatanan).
Masyarakat yang maju dalam kebudayaan tertentu berarti memiliki peradaban yang tinggi. Peradaban memiliki ciri-ciri dan karakteristik untuk memperjelas dan membedakannya dengan kebudayaan. Sebab, peradaban dan kebudayaan merupakan hal berbeda. Setiap masyarakat memiliki peradabannya sendiri dan ditandai dengan kehidupan yang nyaman.
Selain itu, peradaban memiliki wujud moral, norma, etika, dan estetik. Arti Peradaban Dikutip dari buku Pengantar Antropologi: Sebuah Ikhtisar Mengenal Antropologi oleh Gunsu Nurmansyah dkk (2012:100-101), peradaban secara umum adalah bagian dari kebudayaan.
Dalam bahasa Belanda, peradaban disebut “bescahaving” dan dalam bahasa Inggris disebut “civilization”. Sedangkan, dalam bahasa Jerman “Die Zivilsation”. Asal kata “civilization” dalam bahasa latin adalah “civilis” yang berarti sipil, berhubungan dengan kata “civis” (penduduk) dan “civitas” (kota).
Secara bahasa, peradaban atau “civilation” adalah penduduk yang memiliki kemajuan dan lebih baik. Masyarakat pemilik kebudayaan tersebut sudah pasti memiliki peradaban yang tinggi. Sementara menurut Arnold Toynbee dalam buku The Disintegrations of Civilization (1965:1355), peradaban adalah kebudayaan yang telah mencapai taraf perkembangan teknologi yang sudah lebih tinggi.
Pengertian lain menyebutkan, peradaban adalah seluruh hasil budi daya manusia yang mencakup seluruh aspek kehidupan baik fisik (bangunan, jalan) maupun non-fisik (nilai-nilai, tatanan). Antropolog Koentjaraningrat mengatakan, peradaban adalah bagian-bagian yang halus dan indah seperti seni. Masyarakat yang telah maju dalam kebudayaan tertentu berarti memiliki peradaban yang tinggi. Istilah peradaban dipakai untuk menunjukkan pendapat dan penilaian terhadap perkembangan kebudayaan. Pada waktu kebudayaan mencapai puncak perkembangannya, unsur-unsur budaya bersifat halus, indah, tinggi, sopan, dan luhur.
Masyarakat pemilik kebudayaan dikatakan memiliki peradaban tinggi. Ciri-ciri Peradaban Secara harfiah, peradaban berasal dari kata “adab” yang berarti akhlak, yaitu kesopanan budi pekerti. Peradaban merupakan tahapan kebudayaan tertentu yang bercirikan ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan lain-lain. Setiap masyarakat memiliki peradabannya sendiri dan ditandai dengan kehidupan yang nyaman. Ciri-ciri peradaban membantu dalam membedakan peradaban dan kebudayaan.
Adapaun ciri-ciri kebudayaan secara umum sebagai berikut : 1. Pembangunan kota baru dengan tata ruang baik dan indah. 2. Sistem pemerintahan yang tertib (adanya hukum dan peraturan). 3. Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. 4. Strata Sosial yang kompleks dan bermacamnya perkerjaan (keahlian) masyarakat. Wujud Peradaban

Dikutip dari buku Manusia dan Sejarah : Sebuah Tinjauan Filosofis oleh Yulia Siska (2015:62), menurut Koentjaraningrat wujud peradaban sebagai berikut : 1. Moral adalah nilai-nilai yang berhubungan dengan kesusilaan dalam masyarakat. 2. Norma adalah aturan, ukuran, atau pedoman untuk menentukan benar, salah, baik, dan buruk sesuatu. 3. Etika merupakan nilai-nilai norma moral atau sopan santun dalam mengatur tingkah laku manusia. 4. Estetik adalah keindahan yang mencakup kesatuan “unity”, keselarasan “balance” dan kebaikan “contrast” dalam segala sesuatu. Baca selengkapnya di artikel “Apa Arti Peradaban, Ciri dan Wujudnya dalam Antropologi?”, https://tirto.id/gboP

Nah, untuk Titik Nol dalam kaitan peradabannya, apa yang akan dimaui dan akan dilakukan di Pusuk Buhit? Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, Pusuk Buhit (“puncak bukit”) adalah nama salah satu puncak di pinggir barat Danau Toba. Dalam mitologi suku Batak, puncak tersebut diceritakan sebagai tempat “kelahiran” suku tersebut.

Pusuk Buhit adalah salah satu gunung berapi (G.Sibayak, Sinabung, Sorik Merapi) yang terdapat di Sumatra Utara. Gunung ini memiliki ketinggian 1972 mdpl (meter di atas permukaan laut) dan mencakup beberapa desa di Kecamatan Sianjur Mula-mula dan Kecamatan Pangururan. Kabupaten Samosir

Pemandangan Danau Toba dengan latar belakang Pusuk Buhit (tahun 1910-an).

Pusuk Buhit memang harus memiliki master plan atau rencana induk yang jelas. Mau dijadikan apa Pusuk Buhit dan kawasannya itu?. Apakah di sana akan dibuat monumen titik nolnya? Terus terang, saya tidak setuju. FGD yang pas sebenarnya adalah berjudul, Pusuk Buhit; Najolo, Saonari & Haduan. Jika dibangun dengan berbagai bangunan, kesakralannya tidak akan bisa dijamin dengan baik karena sudah menjadi kebiasaan banyak orang, kalau sudah ada bangunan acap akan diikuti kamar mandi, tempat memasak dan tempat beristirahat.

Pusuk Buhit itu harus dibiarkan alami, tidak diganggu dengan bangunan sekecil apapun. Bagian atasnya ditanami saja dengan tiga jenis pohon yakni beringin, bintatar dan jabi-jabi. Bagian lereng ke bawahnya, ditanam tanaman Batak yang mengandung obat-obatan. Di bagian bawahnya, perkampungan warga yang sudah kompak dan menata ulang bangunan  sekitarnya termasuk Aek Rangat di kawasan itu. Keasrian Aek Rangat dengan belerangnya harus dilestarikan termasuk bangunan – bangunan di sepanjang pinggir Danau Toba-nya apakah sudah semakin membaik atau tidak.

Kiranya Bupati Samosir Vandiko T Gultom yang mengusung tagline proPerubahan, bisa merubahnya. ***

Pos terkait