Oleh Efendy Naibaho l Ketua Yayasan Pusuk Buhit
SENGAJA saya buat tanda tanya untuk judul tulisan ini, yang sedang dibahas dalam FGD – Fokus Grup Diskusi di Parbaba, Pangururan, Samosir, Sumatera Utara, Kamis (17/03/22) hingga Sabtu (19/03/22) yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Samosir. Judulnya Titik Nol Peradaban Batak.
Tetti Naibaho, SSos, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Samosir yang menggagas FGD ini menyebutkan dalam rangka pengembangan objek pemajuan kebudayaan di Kabupaten Samosir, dianggap perlu untuk menggali dan mengemas cerita tentang Titik Awal Peradaban Batak, agar kekayaan budaya Batak semakin dicintai oleh Bangso Batak dan dikagumi dunia sekaligus dapat dikelola sebagai daya tarik wisata.
Danau Toba, Pulau Samosir dan Pusuk Buhit adalah pusat pertumbuhan dan pelestarian budaya Batak, dimana peradaban suku Batak dimulai di wilayah ini dan kebudayaan menyatu dalam kehidupannya sejak dulu sampai sekarang. Untuk memperkaya informasi tentang titik awal peradaban Batak dimaksud, dilaksanakanlah Focus Group Discussion (diskusi terpumpun) selama tiga hari itu.
Dalam hori-hori dinding, percakapan permulaan, sudah disepakati titik nolnya di Kawasan Pusuk Buhit. Mengapa disebut sebagai peradaban, bukan Titik Nol Orang Batak atau Titik Nol Batak? Kok enggan atau tidak tegas saja menyebut Batak atau Halak Batak?
Dikutip dari buku Manusia dan Sejarah : Sebuah Tinjauan Filosofis oleh Yulia Siska (2015:62), menurut Koentjaraningrat wujud peradaban sebagai berikut : 1. Moral adalah nilai-nilai yang berhubungan dengan kesusilaan dalam masyarakat. 2. Norma adalah aturan, ukuran, atau pedoman untuk menentukan benar, salah, baik, dan buruk sesuatu. 3. Etika merupakan nilai-nilai norma moral atau sopan santun dalam mengatur tingkah laku manusia. 4. Estetik adalah keindahan yang mencakup kesatuan “unity”, keselarasan “balance” dan kebaikan “contrast” dalam segala sesuatu. Baca selengkapnya di artikel “Apa Arti Peradaban, Ciri dan Wujudnya dalam Antropologi?”, https://tirto.id/gboP
Pusuk Buhit adalah salah satu gunung berapi (G.Sibayak, Sinabung, Sorik Merapi) yang terdapat di Sumatra Utara. Gunung ini memiliki ketinggian 1972 mdpl (meter di atas permukaan laut) dan mencakup beberapa desa di Kecamatan Sianjur Mula-mula dan Kecamatan Pangururan. Kabupaten Samosir
Pusuk Buhit memang harus memiliki master plan atau rencana induk yang jelas. Mau dijadikan apa Pusuk Buhit dan kawasannya itu?. Apakah di sana akan dibuat monumen titik nolnya? Terus terang, saya tidak setuju. FGD yang pas sebenarnya adalah berjudul, Pusuk Buhit; Najolo, Saonari & Haduan. Jika dibangun dengan berbagai bangunan, kesakralannya tidak akan bisa dijamin dengan baik karena sudah menjadi kebiasaan banyak orang, kalau sudah ada bangunan acap akan diikuti kamar mandi, tempat memasak dan tempat beristirahat.
Pusuk Buhit itu harus dibiarkan alami, tidak diganggu dengan bangunan sekecil apapun. Bagian atasnya ditanami saja dengan tiga jenis pohon yakni beringin, bintatar dan jabi-jabi. Bagian lereng ke bawahnya, ditanam tanaman Batak yang mengandung obat-obatan. Di bagian bawahnya, perkampungan warga yang sudah kompak dan menata ulang bangunan sekitarnya termasuk Aek Rangat di kawasan itu. Keasrian Aek Rangat dengan belerangnya harus dilestarikan termasuk bangunan – bangunan di sepanjang pinggir Danau Toba-nya apakah sudah semakin membaik atau tidak.
Kiranya Bupati Samosir Vandiko T Gultom yang mengusung tagline proPerubahan, bisa merubahnya. ***
