Oleh Dr Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl Ec, MSi
Pegiat Lingkungan dan Ketua Pusat Studi Geopark Indonesia (PS_GI)
PUSUK BUHIT, sebuah puncak yang menjulang agung di Barat Danau Toba, bukan hanya lanskap geologis, melainkan juga gunung sakral dalam kosmologi Batak Toba. Diyakini sebagai tempat turunnya Nenek Moyang Pertama, Si Raja Batak, dari kayangan, bukit ini menjadi pusat spiritualitas, jati diri dan identitas budaya masyarakat Batak. Namun pada akhir Juli 2025, kawasan ini dilanda kebakaran hebat yang mengubah lereng hijau menjadi abu dan bara. Dalam hitungan hari, gunung dari kayangan itu menjadi gosong dan hitam—secara ekologis, biologis dan kultural.
Luas Kawasan Terbakar dan Kondisi Terkini
Kawasan Pusuk Buhit membentang di Kecamatan Sianjur Mula-mula, Harian, hingga Pangururan (Kabupaten Samosir). Kebakaran besar yang berlangsung 13–30 Juli 2025 diperkirakan membakar lebih dari 235 hektar kawasan hutan, semak, dan agroforestry—termasuk lereng, punggungan, dan area sumber air yang selama ini menopang ekosistem Danau Toba dan masyarakat adat di sekitarnya.
Vegetasi alami seperti ilalang, pinus lokal, semak konservasi, dan tanaman rempah-obat musnah. Hutan sekunder dan kawasan penyangga mata air rusak parah, termasuk daerah tangkapan air Aek Nasogop, Aek Sitapigagan Bonandolok, dan Air Terjun Limbong yang menjadi pasokan utama untuk pertanian dan kebutuhan domestik.
Dampak Kebakaran: Manusia, Flora, Fauna, dan Budaya serta Dampak Terhadap Kesehatan dan Sosial Ekonomi antara lain : Asap pekat menyebabkan gangguan pernapasan di pemukiman padat seperti Siogung-ogung, Tanjung Bunga, Pangururan, Hutaginjang, Limbong-Sikkam, dan Boho-Peabang.
Sektor wisata spiritual dan adat terganggu; daya tarik sebagai “Tanah Leluhur” memudar di mata pengunjung dan peziarah. Pertanian lokal terganggu akibat hilangnya iklim mikro, dan produktivitas menurun karena tanah kehilangan unsur hara.
Kehilangan Flora dan Tanaman Obat Lokal
Pusuk Buhit adalah habitat puluhan spesies tanaman obat tradisional Batak, yang kini sebagian besar hilang atau terdegradasi.
| Nama Lokal | Kegunaan Tradisional | Potensi Ilmiah |
| Pirdot (Saurauia vulcani) | Obat diabetes dan jantung | Antioksidan, antidiabetik |
| Sitohap | Obat sakit perut | Anti-inflamasi |
| Babarus | Obat pernapasan bayi | Antiseptik alami |
| Purba Jolma | Simbol kesuburan/keturunan | Tumbuhan ritual |
| Centella asiatica | Luka luar, stamina | Stimulasi kolagen, revitalisasi |
Termasuk yang hilang atau kritis: Litsea cubeba (mint antarasa), Anggrek Toba, pohon pokki, cemara sampinur, dan jenis-jenis dari famili Zingiberaceae.
Dampak Terhadap Fauna dan Habitat : Kehilangan habitat bagi kambing putih lokal, burung endemik, reptil kecil, dan satwa hutan lainnya. Fragmentasi ekosistem mengganggu koridor satwa dan memperparah stres ekologi.
Erosi Budaya dan Spiritual
Kebakaran ini telah mengoyak “nadi spiritual masyarakat Batak”. Ritus turun temurun, ziarah ke puncak sebagai penghormatan terhadap leluhur, dan narasi asal usul kini berhadapan dengan lanskap hangus yang membungkam ingatan kolektif.
Risiko Run-Off dan Kerusakan Hidrologis ke Danau Toba
Pusuk Buhit berperan vital sebagai bagian dari Daerah Aliran Sungai (DAS) yang memberi pasokan air ke Danau Toba. Kebakaran menyebabkan: Infiltrasi air menurun karena struktur tanah rusak dan akar tanaman musnah, Run-off meningkat drastis, membawa abu, debu, dan sedimen kaya nutrien ke danau saat hujan akhir tahun.
Dampak Hidrologis: Pendangkalan dan penurunan kejernihan air danau. Potensi eutrofikasi yang mengganggu ekosistem akuatik (fitoplankton meledak, oksigen menurun). Erosi di tebing barat laut danau, mengancam kestabilan pantai dan jalur darat.
Strategi Restorasi Ekologis dan Budaya yang Direkomendasikan Rehabilitasi Tanah dan Vegetasi berupa penanaman pionir lokal: jahe, kunyit, serai, pirdot dalam sistem agroforestry tahan api, reintroduksi pohon keras endemik seperti pinus Tapanuli, makadamia, dan kemenyan, mulsa organik dan terasering untuk mencegah erosi lanjutan.
Restorasi Tanaman Obat : Kebun konservasi obat tradisional di desa adat seperti Limbong dan Sianjur Mula-Mula. Bank benih dan pembibitan ex-situ di Taman Eden dan lembaga lokal dan kolaborasi dengan dukun/paramedis lokal untuk mendokumentasikan kembali pengetahuan etnobotani yang hampir punah.
Strategi Hidrologis : Bangun sumur resapan, check dam, dan embung di bawah lereng, Lakukan reforestasi riparian zone di sepanjang Aek Nasogop, Aek Sitapigagan, dan Air Terjun Limbong dan melakukan monitoring kualitas air Danau Toba secara rutin menggunakan pendekatan partisipatif dan sensor otomatis.
Kebijakan Antisipatif dan Penanganan Kebakaran Berbasis Sistem, Hindari Reaktivitas: Bangun Sistem Pencegahan Permanen
Selama ini penanganan karhutla di Kawasan Toba terlalu reaktif dan musiman. Harus ada kebijakan antisipatif yang terstruktur dan permanen: Pembangunan jaringan hidran pemadam dengan sumber air dari Aek Nasogop, Aek Sitapigagan, dan Air Terjun Limbong. Pemasangan sekat bakar permanen yang dipelihara rutin sebagai batas api alami dan buatan. Pengadaan helikopter pemadam sebagai unit cepat tanggap berbasis di Bandara Sibisa atau Silangit. Early Warning System berbasis satelit dan drone, terhubung dengan Posko Jaga Huta di tiap desa.
Penegakan Hukum: Intelijen & Efek Jera : Bentuk tim penyelidikan terpadu yang melibatkan KPH, POLRI, TNI, dan komunitas adat. Pendekatan intelijen lingkungan untuk menelusuri pembakar dan pemicu kebakaran, bukan sekadar pemadaman. Proses hukum yang transparan dan diekspos ke publik, agar muncul efek jera terhadap pelaku dan pembiaran.
Sosialisasi dan Edukasi Berkelanjutan : Modul edukatif di sekolah-sekolah lokal tentang karhutla dan ekosistem Pusuk Buhit. Pelatihan Tim Jaga Huta, dilengkapi alat komunikasi, GPS, dan pelatihan pemadaman dini. Kampanye lintas generasi dan digital yang memanfaatkan media lokal dan bahasa Batak Toba.
Belajar dari Negara Lain: Studi Kasus Global
Beberapa negara memiliki strategi yang relevan untuk ditiru:
| Negara | Praktik Efektif |
| Australia | Sekat bakar berbasis satelit, pelibatan masyarakat adat dalam mitigasi |
| Kanada | Water bombing & real-time fire detection system |
| Korea Selatan | Pemanfaatan drone thermal imaging dan patroli volunteer desa |
| Chile | Reforestasi pasca-kebakaran dengan pohon tahan api & tanaman obat lokal |
Indonesia, termasuk kawasan Toba, bisa mengadopsi model ini dengan kearifan lokal Batak sebagai pondasinya.
Penutup: Menyelamatkan Pusuk Buhit, Menjaga Identitas Batak
Kebakaran Pusuk Buhit adalah tragedi ekologis sekaligus spiritual. Ia mencerminkan rapuhnya pengelolaan kawasan suci dan pentingnya peralihan dari pola reaktif menuju sistem yang berbasis pencegahan, perlindungan, dan partisipasi rakyat.
Kini saatnya bertindak. Restorasi ekologis dan pemulihan kultural tidak bisa ditunda. Semua pemangku kepentingan—pemerintah, masyarakat adat, akademisi, tokoh agama, dan generasi muda Batak—harus menyatu dalam satu gerakan: menjaga tanah leluhur, menyelamatkan gunung sakral.
Jika Pusuk Buhit benar-benar padam dalam ingatan ekologis dan budaya, maka doa dan asal mula Batak hanya akan tinggal mitos, sementara bara dan angin kering terus menyelimuti negeri leluhur.
“Tangkas ni huta, tangkas ni bangso.” Keteguhan desa menentukan tegaknya peradaban. ***
