formatnews.id – Diketahui, satu-satunya destinasi wisata di Samosir yang sudah menggunakan CCTV, kamera pengawas, adalah di Sipitudai, objek wisata alam yang menggunggulkan adanya aliran air yang bisa dirasakan mengandung tujuh rasa yang terletak di Sipitudai, Sianjurmula-mula, Samosir, Sumatera Utara.
![]()
Direktur BUMDes Aek Sipitudai, Sianjurmula-mula, Samosir, Saut Limbong, kepada media di Sipitudai Rabu (06/08/2025) panjang lebar mengurai objek wisata itu yang sudah dikelola BUMDes yang dewasa ini semakin ramai dikunjungi wisatawan bukan saja Nusantara tapi Mancanegara.
Banyak program baik jangka pendek dan jangka panjang di Sipitudai ini akan dikemas bertahap, mulai penataan parkir dan souvenir-souvenir penunjang dan berbagai spot yang memanjakan wisatawan termasuk selfi maupun pengenaan ulos dan tongkat yang intinya semakin meningkatkan PAD untuk Pemkab Samosir.
Yang paling penting, ujar Saut Limbong, pelayanan kepada pengunjung dan memberi penjelasan apa dan bagaimana Aek Sipitudai yang sarat sejarah dan sudah ada sejak peradaban Batak di Tanah Sianjur dengan marga besar di sana khususnya Limbong.
Hari itu, rencana pengembangan tertata dibicarakan dengan adanya kunjungan dari BUMN Injorney di Objek Aek Sipitudai. Juga mereka berkunjung ke Kantor Desa Sipitudai yang semakin apik tertata rapi.
Dari berbagai sumber, Desa Aek Sipitudai berada di Kabupaten Samosir yang dimekarkan dari Kabupaten Toba Samosir berdasarkan Undang-undang Nomor 36 Tahun 2003. Awalnya, desa ini berada di bawah pemerintahan Kecamatan Harian di Kabupaten Tapanuli Utara (dulu Kabupaten Toba Samosir juga berada di bawah pemerintahan Kabupaten Tapanuli Utara.
Pada tahun 1997, setelah terbentuknya Kecamatan Sianjur Mulamula, Desa Aek Sipitudai yang merupakan gabungan dari Desa Sihole, Desa Sidaguruk dan Desa Habeahan, bergabung dengan kecamatan baru tersebut. Kemudian pada tahun 2011, Desa Habeahan pun mekar menjadi Desa Habeahan Naburahan. Saat ini, Desa Aek Sipitudai terdiri dari tiga dusun : Dosroha, Saroha dan Aek Baringin. Dengan pembentukan dan pemekaran wilayah ini, diharapkan pembangunan dan pelaksanaan pemerintahan desa lebih efektif karena wilayah administrasi yang lebih kecil.
Desa Aek Sipitudai, yang kaya akan budaya dan tradisi Batak, dikenal dengan berbagai perayaan yang menggambarkan kekuatan dan kebersamaan masyarakatnya. Setiap pencapaian penting, seperti tersedianya air bersih atau panen yang melimpah, dirayakan dengan tradisi syukuran yang dihadiri oleh seluruh warga desa, termasuk tokoh-tokoh penting. Tradisi ini tidak hanya menjadi simbol rasa syukur, tetapi juga menjadi ajang untuk mempererat tali persaudaraan dan menjaga nilai-nilai kebersamaan.
![]()
Jurnalis juga foto -foto di ruang kerja Saut Limbong
Perayaan-perayaan ini, yang terus dipertahankan meskipun zaman telah berubah, menunjukkan bagaimana masyarakat Desa Aek Sipitudai tetap menghormati warisan leluhur mereka, menghubungkan masa lalu dengan masa kini dan merayakan berkah dengan cara yang penuh makna. Tradisi ini memastikan bahwa setiap nikmat yang diterima tidak hanya disyukuri secara pribadi, tetapi juga dirayakan bersama-sama dalam semangat gotong royong yang menjadi ciri khas desa ini.
Sipitudai, dijelaskan Saut Limbong, dulunya lebih terkenal dengan sebutan Parhutuan. Sayang, tradisi mencari kutu ini tak bisa lagi terpantau CCTV. ***
Efendy Naibaho
