Mengapa Eforus HKBP Victor Tinambunan Serukan Tutup TPL

Eforus HKBP Pdt Victor Tinambunan bersama Luhut Binsar Panjaitan
formatnews.id – Bertanya kepada ChatGPT: “Alasan Mengapa Ephorus HKBP Victor Tinambunan Menyerukan Penutupan Operasional PT TPL?”. Dikutip dari akun facebook Eforus HKBP Pdt Victor Tinambunan pekan ini, petikan lengkapnya sebagai berikut:
Seruan Ephorus HKBP untuk menutup operasional PT TPL tidak lahir dari emosi sesaat, tetapi dari proses panjang mendengar jeritan warga, mengamati realitas di lapangan, menimbang data, dan mempertimbangkan nilai-nilai iman serta mandat moral gereja.
Demo TPL di Medan l Foto2 : Aria Angkola 
Ada beberapa alasan mendasar: 1. Kerusakan Lingkungan yang Sangat Serius. Operasional TPL telah mengubah bentang alam di sekitar Danau Toba secara drastis. Hutan alam yang semestinya menjadi penyangga ekosistem kini hampir habis dan digantikan oleh tanaman ekaliptus yang tidak ramah tanah.
Dampaknya: • tanah kehilangan kesuburan dan kelembabannya, mudah erosi; • sungai kecil mati, sungai besar menyusut debitnya; • permukaan air Danau Toba turun; • keanekaragaman hayati terganggu, banyak makhluk hidup kehilangan habitat. Kerusakan yang demikian luas tidak lagi dapat dianggap sebagai “dampak biasa industri”, tetapi merupakan kerusakan struktural yang mengancam masa depan generasi Sumatera Utara.
2. Konflik Sosial dan Pelanggaran Keadilan.  Banyak warga adat, petani, dan masyarakat sekitar kawasan konsesi TPL mengalami: • intimidasi, kekerasan, atau kriminalisasi; • penggusuran dari tanah ulayat; • hilangnya ruang hidup, ruang budaya, dan sumber penghidupan; • stigma sebagai “perambah” atau “pengganggu” di tanah nenek moyang mereka sendiri. Gereja tidak dapat berdiam diri ketika manusia—gambar dan rupa Allah—diperlakukan tidak adil. Seruan tutup TPL adalah seruan untuk menghentikan sumber luka sosial yang berkepanjangan.
Demo TPL di Medan l Foto2 : Aria Angkola 
3. Dampak Ekonomi yang Tidak Seimbang. Meski industri sering mengklaim “membawa pembangunan”, kenyataannya: • manfaat ekonomi terbesar mengalir ke perusahaan, bukan masyarakat lokal; • kerugian ekologis ditanggung rakyat, tetapi keuntungannya terpusat; • masyarakat yang kehilangan lahan justru semakin miskin. Jika sebuah industri menambah beban rakyat lebih besar daripada manfaatnya, maka industri itu tidak layak melanjutkan operasionalnya.
4. Mandat Teologis untuk Menjaga Ciptaan. Sebagai pemimpin gereja, Eforus memegang tanggung jawab iman: membela kehidupan, menjaga ciptaan dan melindungi yang lemah. Kerusakan alam Danau Toba bukan hanya isu ekonomi dan politik; itu adalah pelanggaran terhadap mandat Allah agar manusia merawat bumi. Jika industri menjadi sumber kehancuran ciptaan, maka gereja wajib bersuara.
5. Sejarah Panjang Ketidakpatuhan dan Konflik Berulang. Konflik antara TPL dan masyarakat bukan satu atau dua kali, melainkan berulang dari generasi ke generasi: • janji perbaikan tidak ditepati; • pola-pola pelanggaran kembali terulang; • pendekatan perusahaan terhadap masyarakat sering tidak menghormati hak-hak dasar. Ketika sebuah perusahaan berulang kali gagal berubah, maka solusi yang paling rasional adalah menghentikan operasional yang merusak, bukan terus memberi toleransi.
Demo TPL di Medan l Foto2 : Aria Angkola 
6. Tanggung Jawab Moral kepada Warga Sumatera Utara. Sebagai pemimpin gereja terbesar di kawasan ini, Eforus melihat, mendengar, dan merasakan langsung penderitaan jemaat: • kehilangan tanah, • kehilangan sumber air,
• kehilangan mata pencaharian, • trauma kekerasan, • dan ketidakpastian masa depan. Tanggung jawab pastoral menuntut beliau mengambil posisi tegas, meski tidak populer di kalangan tertentu.
7. Kesadaran bahwa Ada Alternatif Ekonomi yang Lebih Berkelanjutan. Pembangunan tidak harus menindas rakyat. Danau Toba memiliki potensi: • pariwisata berkelanjutan; • pertanian, perkebunan, dan hortikultura yang ramah lingkungan; • keunggulan budaya dan tradisi lokal yang bernilai ekonomi tinggi. Keberadaan TPL justru menghambat potensi-potensi ini. Menutup TPL bukan menolak pembangunan, tetapi mengarahkan pembangunan pada jalur yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.
8. Tekanan Moral dari Rakyat: Suara Jeritan yang Tidak Bisa Lagi Diabaikan. Aksi damai besar-besaran yang dilakukan oleh berbagai unsur masyarakat—pendeta, pastor, suster, akademisi, aktivis lingkungan, mahasiswa, hingga warga adat—adalah tanda bahwa rakyat sudah melewati batas kesabaran. Sebagai pemimpin rohani, Eforus justru harus berdiri bersama mereka.
9. Demi Menghindari Kerusakan yang Tidak Dapat Dipulihkan. Jika operasional TPL dibiarkan: • kerusakan ekologis akan menjadi titik “no return”; • Danau Toba bisa kehilangan statusnya sebagai danau vulkanik raksasa yang sehat;
• bencana ekologis bisa meningkat—banjir, longsor, krisis air, gagal panen. Mengambil langkah tegas sekarang berarti menyelamatkan masa depan.
                                       Demo TPL di Medan l Foto2 : Aria Angkola 
Intinya: Seruan “Tutup TPL” adalah: deruan iman, seruan moral, seruan kemanusiaan, seruan keadilan dan seruan penyelamatan lingkungan. Itu bukan langkah politik, bukan emosi sesaat, melainkan keputusan setelah menimbang penderitaan rakyat yang panjang serta kerusakan alam yang semakin tak terkendali. *****
Efendy Naibaho

Pos terkait