ULOS, kain tenun khas orang Batak, awalnya merupakan pakaian sehari-hari orang Batak dan simbol upacara adat dari kelahiran, pernikahan, kematian. Kini, selain digunakan sebagai simbol lingkaran hidup orang Batak, fungsi Ulos telah meluas untuk dekorasi rumah (table runner, sprei runner, sarung bantal, hiasan dinding), untuk aneka cindera mata, untuk dibuat tas wanita, tas laptop, dompet pria/wanita, untuk busana modern elegan, kostum pemain musik, dan sebagainya.
Kain Ulos dianggap unik karena selain keberadaannya yang sudah sejak abad-14, teknik pembuatannya dengan alat tenun bukan mesin yang rumit, nilai seninya yang mendalam dengan motifnya yang sarat lambang berbagai filosofi hidup seperti restu, kasih sayang dan keberlangsungan hidup ; juga karena pemilihan aneka warna dengan lambang tertentu.
Keindahan, keunikan dan kekhasan serta keberagaman kain Ulos Batak dan kuatnya melekat di adat orang Batak yang merantau ke seluruh dunia, menjadikan Ulos berpotensi dikenal luas di dunia sebagaimana Sari, dikenal sebagai pakaian khas wanita India, Sombrero dikenal sebagai Topi khas Mexico, Cheongsam sebagai pakaian khas orang China, Kimono sebagai pakaian orang Jepang dan Hanbok sebagai pakaian orang Korea.
![]()
Berbagai upaya membawa Ulos mendunia telah dilakukan banyak pihak seperti pengenalan Ulos melalui Pameran Ulos maupun Fashion Show di berbagai belahan dunia termasuk di Moskow dan New York serta Paris. Upaya ini dilakukan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di berbagai belahan dunia, Pengusaha Ulos seperti Martha Ulos, dan Dame ulos serta Designer seperti Edward Hutabarat dan Merdi Sihombing.
Gondang Orchestra Indonesia, salah satu pelaku budaya Indonesia yang berkomitmen menduniakan musik Gondang melalui perpaduan harmoni perkusi batak tradisional dengan musik orchestra modern, berkomitmen juga mengenalkan Ulos kedunia dalam berbagai misi budayanya ke manca negara.
Pertama, Tim Gondang Orchestra Indonesia senantiasa mengenakan Ulos dalam Pertunjukan atau Konsernya. Kedua, pimpinan Gondang Orchestra Indonesia, Tigor Situmorang, selalu memberikan Ulos sebagai cindera mata kepada para pejabat Lembaga setempat terkait dengan misi budayanya di negara tersebut. Ketiga, Gondang Orchestra Indonesia dalam Workshop Musik Gondang dan Tari Tortor tak lupa mengenalkan Ulos kepada peserta. Keempat, dalam memperingati Hari Ulos Nasional tanggal 17 Oktober, Gondang Orchestra Indonesia dengan mengajak Kelompok/Perkumpulan masyarakat Batak di negara setempat mengucapkan Hari Ulos Nasional di Landmark Negara tersebut misalnya di Tokyo Skytree dan di Tokyo Tower ketika di Jepang dan di Eiffel Tower ketika di Prancis.
Kelima, ketika melakukan Misi Budaya ke Prancis dalam rangka Peringatan 75 Tahun Kerja Sama Prancis Indonesia, Gondang Orchestra Indonesia telah menyerahkan Ulos Ragi Hotang kepada Direktris dan Kurator Museum Sejarah Alam La Rochelle, Prancis, Dr. Elise Patole Edoumba, bertepatan dengan Peringatan Hari Ulos Nasional, 17 Oktober
2025. Ulos Ragi Hotang ini akan disimpan di Museum La Rochelle dan dapat dijadikan sebagai bahan pengajaran di Museum tersebut.
![]()
Ulos, sebagai kekayaan tanah Batak dan warisan budaya Indonesia, dapat mendunia dengan terus dilestarikan dan dikembangkan melalui berbagai upaya dan sinergi dari berbagai pihak seperti Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, Lembaga suasta, Perwakilan Indonesia di Luar Negeri (Kedutaan Besar Republik Indonesia, Konsulat Jenderal Republik Indonesia, Konsulat Republik Indonesia), para pelaku budaya, kalangan pengusaha, komunitas adat, maupun masyarakat Batak sendiri bersama masyarakat Indonesia lainnya dimanapun berada. Adanya inisiatif
pengakuan Ulos oleh UNESCO bukannya mustahil terwujud suatu hari nanti, asalkan diperjuangkan dengan sungguh-sungguh oleh berbagai pihak dan perlu kesabaran menjalani prosesnya . ***
Cicilia Rusdiharini, Pemerhati Budaya Indonesia.
