formatnews.id – Perumnas Mandala banjir dan tetap banjir walau sudah puluhan tahun menjadi pemukiman kompak dan padat penduduk. Ketika hujan Rabu (19/03), banjirnya semakin menjadi-jadi. Jalan utama di sana, persisnya Jalan Garuda Raya, tergenang di beberapa titik mulai dari arah simpang empat Jalan Rajawali hingga di bawah Jembatan Tol Belmera hingga ke arah Malvinas, Mandala Pinggir Perumnas.
Selain jalanan yang tergenang, ada juga di depan Perguruan Parulian, paritnya pun tumpat di banyak tempat. Akibat air yang melimpah ke jalanan, arus lalulintas terganggu dan anak sekolah juga terhalang. Warga pun tak bisa beraktifitas dan terpaksa menenteng sandalnya.
Jalanan tergenang ini sudah menjadi pemandangan rutin seperti disaksikan formatnews.id kemaren siang. Di kiri kanan Jalan Cucakrawa, jalanan tergenang hingga ke arah gereja HKBP Jalan Elang dan yang di sebelahnya lagi ke arah Puskesmas Medan Denai di Jalan Cucakrawa itu.
Perumnas Mandala ini dikutip dari wikipedia, salah satu dari 21 kecamatan yang berada di Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Kecamatan Medan Denai berbatasan dengan Medan Kota dan Medan Area di sebelah barat, Kabupaten Deli Serdang di sebelah timur, Medan Amplas di sebelah selatan, dan Medan Tembung di sebelah utara. Daerah ini adalah bekas kawasan perkebunan Tembakau Deli yang terkenal.
Di kecamatan ini, terdapat kompleks pemukiman padat penduduk yang dibangun sekitar tahun 1976 dan mulai dihuni sekitar tahun 1978. Pemukiman penduduk tersebut dikenal dengan nama Perumnas Mandala, yang merupakan singkatan dari “Perumahan Nasional Mandala II Medan”.
Penduduk yang mendiami kawasan ini merupakan campuran dari berbagai suku. Nama-nama jalan di kompleks ini menggunakan nama-nama burung. Proses pembelian Perumnas Mandala ini dilakukan secara mengangsur selama 20 tahun kepada Bank Tabungan Negara. Jalanan di kawasan ini setiap bulan Ramadan ramai dipenuhi pedagang makanan kecil yang menjual dagangannya untuk berbuka puasa.
Selain itu, tepat di tengah Perumnas Mandala, melintas jalan bebas hambatan yang menghubungkan antara Belawan, Medan dan Tanjung Morawa, yang dikenal dengan nama Tol Belmera. Dibangun sekitar tahun 1984 oleh PT. Hutama Karya, yang masih merupakan bagian dari perusahaan milik Siti Hardijanti Rukmana atau lebih dikenal dengan panggilan Mbak Tutut.
Yang pasti, Perumnas Mandala yang sejak awal rumah di sana lebih dari 10.000 unit dengan berbagai tipe, masuk ke Kotamadya Medan dan kemudian beralih ke Deli Serdang, persisnya Kelurahan Kenangan 1 dan 2, Kecamatan Percut Sei Tuan. Sebelah timur barat utara selatan-nya semuanya Kota Medan hingga batas rel kereta api dan arah ke Sungai Denai. Perumnas Mandala ini terjepit di tengahnya.
Efendy Naibaho, Anggota DPRD Sumatera Utara sejak periode 1999 hingga dua periode, sejak lama berharap dan sangat wajar Perumnas Mandala ini masuk Kota Medan dengan berbagai pertimbangan. Di antaranya mayoritas warga di sana berasal dari Kota Medan dan bekerja di Kota Medan. Sekelilingnya juga sudah Medan dan urusan birokrasi terasa jauh ke Lubuk Pakam sebagai ibukota Pemkab Deli Serdang.
Ompung Jonathan Naibaho yang tinggal di Perumnas Mandala sudah puluhan tahun itu, jarang merasakan sentuhan tangan Bupati Deli Serdang untuk membangun perumnas khususnya genangan air dan banjir-banjir serta parit-paritnya. Untuk membuat portal yang menghubungkan Jalan Rajawali ke Jalan Garuda Raya pun sampai kini tidak pernah terwujud, termasuk tanah wakaf untuk pemakaman umum.
Pengelolaan sampah juga lebih banyak menumpuk dan pasar di sana pun tak terlihat geliat ekonominya. Mudah-mudahan Walikota Medan yang baru mau memasukkannya ke Kecamatan Medan Denai atau Kota Medan dan Bupati Deli Serdang yang baru pun mau melepasnya menjadi masuk ke Kota Medan.
Batas antara Deli Serdang dan Medan diharapkan Efendy Naibaho, seorang jurnalis itu, dibuat dalam bentuk batas alam. Batas alam maksudnya berbatas dengan jalan dan sungai. Tidak seperti “gitar spanyol” lagi, melengkung ke bagian pinggang. ***
Samuel Parningotan
