formatnews.id – TUTUP TPL, seruan Eforus HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) Pdt Victor Tinambunan yang diposting di akun facebook-nya pekan ini semakin bergaung, bergema. Hingga Kamis (08/05/2025), yang me-like/suka dengan cepat mencapai 2.000, yang memberi komentar 1,4 ribu dan membagikan tercatat hingga 504 kali.
Kompas TV pun, dalam program Sapa Indonesia, Kamis (08/05) pagi, menyiarkan langsung wawancara dengan Eforus Victor. KOMPAS TV mengundang saya bergabung di SAPA PAGI, pagi ini 08.00. Para sahabat silakan menyaksikan layar TV, live KOMPAS TV. Tuhan memberkati Indonesia dan memberkati kita semua. Kiranya kita terhindar dari bencana dan seluruh rakyat sejahtera sebagaimana tekad dan imbauan yang kita hormati dan banggakan, Bapak Presiden Prabowo Subyanto, tulis Victor dan dalam waktu singkat sudah mendapat jempol dan hati dari 620 orang dan dikomentari 119 warganet dan 77 kali dibagikan.
Kepada formatnews.id sendiri, atas pertanbyaan apakah sudah dibuat surat ke Presiden Prabowo atau bagaimana Pak Eforus, Victor menjawab singkat, belum, karena HKBP berharap audiensi langsung. Kami sudah kirim surat permohonan tapi kita maklum Bapak Presiden sangat sibuk, ujarnya.
Di akun facebook-nya, Pdt Victor Tinambunan menulis, lengkapnya sebagai berikjut: Bapak/Ibu Pemilik dan Pimpinan PT Toba Pulp Lestari (TPL) yang terhormat, Perkenankan saya menyampaikan beberapa hal secara terbuka melalui media sosial ini, sebagai bentuk keprihatinan dan tanggung jawab moral sebagai bagian dari masyarakat di Tano Batak dan Pimpinan Gereja HKBP:
1. Saya secara pribadi, dan kemungkinan besar mayoritas masyarakat di Tanah Batak, tidak mengenal secara langsung siapa sesungguhnya pemilik maupun pimpinan utama PT TPL. Ini merupakan suatu ironi yang mencolok, sebuah perusahaan berskala besar yang telah beroperasi selama puluhan tahun di atas tanah leluhur kami, tetapi relasi sosial dan komunikasi dasarnya dengan masyarakat sekitar tetap asing dan tidak terbangun.
Dalam konteks etika bisnis dan tanggung jawab sosial perusahaan, serta norma adat yang kami hidupi, absennya relasi ini merupakan sebuah kegagalan struktural serta bentuk pengabaian etika hidup bersama di masyarakat.
2. Berdasarkan pemberitaan media dan berbagai laporan publik, kami mengetahui bahwa PT TPL telah memperoleh keuntungan finansial yang sangat besar, bernilai triliunan rupiah dari pemanfaatan sumber daya alam di wilayah Tano Batak. Ironisnya, akumulasi kapital tersebut tidak tampak berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan ekonomi dan pendapatan masyarakat lokal. Ketimpangan ini menjadi cermin ketidakadilan distribusi manfaat ekonomi, dan menunjukkan adanya relasi yang eksploitatif.
3. Fakta yang paling menyakitkan adalah bahwa keberadaan PT TPL telah memicu berbagai bentuk krisis sosial dan ekologis: mulai dari rusaknya alam dan keseimbangan ekosistem, rentetan bencana ekologis (banjir bandang, tanah longsor, pencemaran air, tanah, dan udara, perubahan iklim), jatuhnya korban jiwa dan luka, hilangnya lahan pertanian produktif, rusaknya relasi sosial antarwarga, hingga akumulasi kemarahan yang tidak mendapat saluran demokratis karena ketakutan dan represi.
Ini bukan sekadar dampak insidental, tetapi sebuah jejak panjang dari konflik struktural yang tidak kunjung diselesaikan secara bermartabat.
Melihat ironi kehidupan yang terjadi dalam kurun 30 tahun terakhir ini, dengan segala hormat dan tanggung jawab moral, saya menyerukan kepada Bapak/Ibu Pemilik dan Pimpinan PT TPL: tutup operasional perusahaan TPL sesegera mungkin. Penutupan ini bukanlah sekadar desakan emosional, melainkan langkah preventif untuk menghindari krisis yang lebih parah di masa depan, bagi masyarakat di Tano Batak, bagi Sumatera Utara, dan bahkan bagi keberlanjutan ekologis di tingkat global.
Satu lagi, seluruh karyawan/ karyawati yang akan berhenti tolong diberi pesangon besar supaya mereka ada modal usaha. Doa saya kiranya Tuhan Yang Mahakuasa melindungi Bapak/Ibu dan memberikan bisnis yang sehat yang mensejahterakan Bapak/Ibu serta masyarakat luas. ***
Efendy Naibaho
