formatnews.id – Pembangunan monumen Silang Hangoluan Habatahon di Samosir, yang diklaim sebagai titik awal peradaban Batak, memicu polemik dan penolakan dari berbagai kalangan. Shohibul Anshor Siregar, Dosen FISIP UMSU Medan, mengungkapkan bahwa konflik ini mencerminkan pertarungan simbolis yang lebih dalam terkait identitas dan hegemoni kolonial, ujarnya kepada formatnews.id, Kamis (08/05).
“Sebagian komunitas muda dan intelektual Batak menolak pembangunan salib setinggi 30 meter ini, karena salib dianggap sebagai simbol agama Kristen dan tidak representatif terhadap identitas kultural universal Batak,” ujar Shohibul Anshor Siregar. “Ada kecurigaan bahwa proyek ini merupakan kelanjutan hegemoni simbol keagamaan warisan kolonial,” tambahnya.
Penolakan ini didukung oleh analisis historis yang mengungkap keterkaitan antara kolonialisme Belanda dan kristenisasi paksa di Tanah Batak pada abad ke-19. Penelitian terbaru membongkar bias dalam historiografi lama yang dipengaruhi perspektif kolonial dan Kristen, menunjukkan bahwa kristenisasi seringkali disertai kekerasan simbolik dan fisik.
Shohibul Anshor Siregar juga menyoroti bahwa ruang budaya Batak pascakolonial menjadi arena pertarungan simbolis yang sengit. Pembangunan Silang Hangoluan dianggap sebagai upaya mengukuhkan narasi “Batak = Kristen” dan meminggirkan kelompok minoritas seperti Malim dan Muslim Batak, serta melanjutkan stigmatisasi kolonial terhadap kepercayaan lokal.
“Upaya para penentang monumen Titik Nol Habatahon adalah bagian dari perlawanan terhadap hegemoni melalui data dan solidaritas,” tegas Shohibul Anshor Siregar. “Digitalisasi naskah kuno Batak menjadi sarana penting dalam perjuangan ini,” lanjutnya.
Digitalisasi naskah kuno Batak diharapkan dapat membuka akses luas terhadap sumber-sumber sejarah yang beragam, mengungkap kekayaan keyakinan dan praktik budaya Batak pra-Kristen. Namun, Shohibul Anshor Siregar mengingatkan bahwa digitalisasi harus dilakukan secara inklusif dan terbebas dari niat buruk untuk menghilangkan referensi terhadap entitas lain.
Lebih lanjut Shohibul Anshor Siregar menekankan pentingnya repatriasi naskah-naskah Batak yang kini banyak tersimpan di institusi asing. “Kolonialisme pengetahuan dan fragmentasi sejarah adalah tantangan besar. Repatriasi dan pembangunan infrastruktur berdaulat sangat mendesak untuk merebut kembali kedaulatan atas narasi sejarah,” pungkasnya.
Sementara salah seorang tokoh Samosir, Benny S Pasaribu menyampaikan kekesalannya seakan demokrasi di Samosir seperti ini, medsos dan media mainstreem diam saja terkait adanya pembongkaran baliho yang menolak rencana pembangunan salib tersebut.
Benny Pasaribu mendapat info sebelumnya 12 Maret 25, salib hangoluan tersebut dibangun di Parik Sabungan, kampung Si Raja Batak yang diunggah dalam sebuah video. Ini harus diiprotes, boasa dang boi menyampaikan aspirasi lewat baliho. Hape baliho ni halak boi do marbulan ate, ujar Bennny, politisi dan ekonom handal sembari menambahkan arga dope Parik Sabungan dohot Pusuk Buhit di hita halak Batak.
Terkait balihonya, Benny Pasaribu menyatakan faktanya, yang tidak disukai adalah substansi/ tulisannya. Bukan marga=marga seperti Pasaribu. Kalau isinya mendukung bisa saja berbulan-bulan di situ, ujar Benny, serius. ***
Efendy Naibaho
