formatnews.id – “Marhaen Menang….!!!”, teriak Syamsul Hilal, aktifis senior yang sudah malang melintang sebagai sosok tulen yang berjuang untuk keadilan dan prodemokrasi ketika dimntai komentarnya terkait dengan peristiwa 27 Juli yang disebutnya Kudatuli yang menjadi korban adalah PDI-P sedang hegemoni oligarki kapitalisme yang korban adalah seluruh rakyat Indonesia.
Kepada formatnews.id, Minggu 26 Juli 2026 sore, melalui pesan whatsApp-nya, Syamsul Hilal menegaskan Kudatuli adalah tonggak sejarah bagi PDI –sekarang PDIP– dimana sebuah rezim yang berkuasa bukan dengan kehendak rakyat harus menyingkirkan semua elemen politik yang bisa mengancam rezimnya. Bagi PDIP, Kudatuli adalah guru sejarah agar tetap waspada dengan rezim manapun yang berkuasa. Kalau rezim militer maka kekerasan fisik yang dihadapi dan rezim Neo Liberal kekerasan ekonomi. Hak hidup rakyat dirampas dan itulah yang dihadapi saat ini, ujarnya.
Kata Taufan, ada 21 orang pengurus DPD Sumatera Utara kala itu, namun yang setia bersama Mega hanya 5 orang. Selain Taufan, ada 4 orang lainnya yaitu Syahrul Azmir Matondang, Saleh Ginting, Alexander Toreh (Abeng) dan Maju PL Tobing.
Taufan adalah putra Simpang Ginting, tokoh Marhaenis Sumatera Utara yang bersahabat baik dengan keluarga Bung Karno. Setiap kali berkunjung ke Medan, Mega selalu berkunjung ke kediaman Simpang Ginting. Termasuk saat menemani Megawati & Taufik Kiemas menziarahi Makam Sisingamangaraja XII tahun 1976. Artinya, pilihan Taufan bersama Mega kala itu sifatnya historis & ideologis.
Taufan sempat dipaksa oleh aparat untuk menandatangani berkas untuk mendukung Soerjadi. Namun ia menolak. Taufan lalu memanfaatkan kediaman orangtuanya, Simpang Ginting di Perguruan Dipanegara Padang Bulan Medan menjadi kantor sekeretariat darurat PDI Pro Mega di Sumatera Utara.
Di Perguruan Dipanegara ini pula, Taufan membuat Dapur Umum bagi 200 orang yang rutin siaga di Sekeretariat darurat PDI Pro Mega tersebut. Setelahnya, Kantor Sekeretariat Darurat itu sering diserang oleh ormas suruhan aparat. Loyalis PDI Pro Mega diintimidasi fisik dengan kayu, kelewang & panah beracun.
Namun mereka bertahan & tidak melakukan serangan balik melalui jalan kekerasan sebagai mana arahan Mega. Mereka menempuh jalur hukum dengan mendatangi Kantor LBH Medan yang saat itu dipimpin oleh Alamsah Hamdani.
Intimidasi yang didapatkan Taufan & barisan PDI Pro Mega terjadi selama berbulan-bulan, utamanya setelah Kantor Pusat PDI diserbu massa Soerjadi ditanggal 27 Juli 1996. Prihatin atas situasi di Sumatera Utara, Megawati akhirnya mengutus Mangara Siahaan untuk datang ke Medan. Memberi penguatan & peneguhan atas semangat perjuangan.
Taufan Agung Ginting, Setia Sampai Akhir bersama Mega. ***
Efendy Naibaho
