Oleh Hotman J Lumbangaol
RABU 13 Agustus 2025, saya bersama Jansen Sinamo dan Pendeta Martin Sinaga mengikuti diskusi tentang Parakitri T Simbolon berkaitan bukunya “Menjadi Indonesia” yang diterbitkan ulang penerbit Gramedia Pustaka. Yang hadir saya lihat tak ada orang Batak di luar kami bertiga. Padahal, dalam rangka HUT ke-80 Indonesia, buku ini dibahas di berbagai tempat, termasuk Salihara, komunitas kreatif yang bicara banyak tentang kebudayaan.
Nama Parakitri bagi orang Batak saya kira kurang dihargai atau “kurang populer?” Jangankan di orang Batak, di marganya sendiri dia sepertinya tak diberi tempat. Padahal dia sosok penulis yang berani menggugat paradigma berpikir lama dan menantang arus utama pemikiran. Melalui tulisan-tulisannya, Parakitri berusaha untuk membuka wawasan dan perspektif baru, serta mendorong pembaca untuk berpikir kritis dan reflektif. Dengan demikian, karya-karyanya tidak hanya sekadar menghibur atau memberikan informasi, tetapi juga memicu diskusi dan perdebatan yang konstruktif.
Bagi saya, Parakitri sosok yang lengkap, sangat berpengaruh dalam budaya Indonesia, dengan kiprahnya sebagai esais, sosiolog, cerpenis, novelis, dan jurnalis senior di Harian Kompas. Kontribusinya dalam dunia sastra dan jurnalistik Indonesia sungguh signifikan, membuka wawasan dan memperkaya khazanah budaya bangsa.
Kehadiran saya bersama Pendeta Martin Sinaga dan Jansen Sinamo dalam diskusi buku “Menjadi Indonesia” di Gramedia Jalan Melawai (Jalma) adalah bukti nyata bahwa masih ada orang-orang yang mengapresiasi karya-karya Parakitri dan memahami pentingnya warisannya. Namun, sekali lagi, saya merasa masyarakat Batak tampaknya kurang peduli dengan Parakitri.
Dia sudah meninggal tetapi karya-karyanya masih bicara. Ketidaksadaran ini mungkin disebabkan oleh kurangnya lierasi kita tentang pentingnya karya-karyanya. Namun, sebagai seorang yang menghargai karya-karya Parakitri, saya menulis ini untuk membagikan pengetahuan tentang warisannya kepada orang Batak dan bangsa ini.
Saya beruntung mengenal Parakitri. Mungkin sekitar 15 tahun lalu, dia pernah ajak saya untuk bertemu di satu pojok di Mall Pondok Indah. Dia dari Cirende, saya dari Bekasi. Ternyata ajakannya ini bicara tentang Batak, karena dia tahu saya mengelola blog Ensiklopedia Tokoh Batak, sedangkan beliau hendak menerbitkan Ensiklopedia Batak. Sampai dia meninggal buku “Ensiklopedia Batak” itu tak pernah terbit. Saya berasumsi saja, barangkali karena dia tak mendapat dukungan dari masyarakat Batak.
Saat itu penyusunan naskah sudah berjalan. Kemarin saat diskusi buku terungkap beberapa hari sebelum meninggal dia menyerahkan naskahnya ke pihak Kompas Gramedia untuk dijaga. Naskah yang ditulisanya berbagai hal sepuluh tahun terakhir. Lagi-lagi Parakitri dan warisannya amat bernilai dan pemikirannya dapat terus hidup dan memberikan inspirasi bagi generasi-generasi mendatang.
Parakitri Tahi Simbolon memiliki latar belakang pendidikan dan karier yang sangat impresif. Setelah lulus dari SMA Katholik Budi Mulia Pematangsiantar, dia melanjutkan studi di Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Sebenarnya, dia awalnya ingin menjadi pastor, tetapi kemudian memilih jadi kuliah di UGM. Dari sana dia mendapatkan beasiswa kerja sama Indonesia-Prancis untuk belajar di Institut International d’Administration Publique (IIAP), Paris, yang semakin memperluas wawasannya.
Kariernya sebagai jurnalis dimulai ketika dia bergabung dengan Harian Kompas pada Februari 1976 dan menjadi redaktur senior. Parakitri juga memperoleh gelar Doktor dari Vrije Universitet Amsterdam, Belanda pada 1991, yang menunjukkan keseriusannya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.
Menjadi Indonesia
Karya-karya Parakitri sangat beragam dan mendapat pengakuan luas. Novel “Ibu” memenangkan sayembara mengarang cerita anak-anak muda UNESCO dan Ikapi pada 1969. Novel “Si Bongkok” meraih hadiah kedua dalam sayembara mengarang novel Gramedia Kompas pada 1981. Skenario film “Gadis Penakluk” memenangkan Piala Citra dalam Festival Film Indonesia (FFI) pada 1981. Buku “Menjadi Indonesia” membahas proses kebangsaan Indonesia dengan perspektif yang lebih luas dan kritis.
Buku “Menjadi Indonesia” karya itu memang dimaksudkan sebagai buku sejarah, namun penyajiannya yang menggunakan gaya bertutur seorang jurnalis beken membuatnya menjadi sangat menarik untuk dibaca. Dengan cara penyampaian yang demikian, buku ini tidak hanya menyajikan fakta-fakta sejarah, tetapi juga menghidupkan kembali peristiwa-peristiwa masa lalu dan membuatnya lebih mudah dipahami dan diingat oleh pembaca. Gaya bertuturnya juga membantu pembaca untuk merasakan kedalaman dan kompleksitas sejarah Indonesia, serta memahami proses pembentukan identitas bangsa.
Buku monumentalnya, “Menjadi Indonesia”, yang diterbitkan pertama kali 30 tahun silam, merupakan karya yang sangat penting karena menekankan gagasan bahwa Indonesia adalah proses menjadi, bukan identitas yang telah beku. “Menjadi Indonesia” merupakan usaha awal untuk menuliskan sejarah Indonesia dengan perspektif yang lebih luas dan kritis di zaman ketika informasi masih sangat terbatas dan pemerintah Indonesia sangat otoriter. Buku ini merupakan bukti sejarah tentang semangat menolak satu versi saja sejarah resmi ala pemerintah, dan menunjukkan keberaniannya untuk menantang narasi dominan pada saat itu.
Kecintaannya terhadap menulis telah membuahkan banyak karya yang beragam, tidak hanya artikel dan buku, tetapi juga skenario film. Hal ini menunjukkan bahwa dia memiliki kemampuan menulis yang luas dan dapat beradaptasi dengan berbagai format dan genre.
Eulogi Batak
Parakitri juga pernah menerima penghargaan sastra untuk tulisannya “Eulogi tentang Batak” yang dimuat di “Horizon”. Selain itu, dia juga pernah menerima Piala Citra sebagai penulis skenario film “Gadis Penakluk” yang memenangkan Festival Film Indonesia (FFI) pada tahun 1981. Penghargaan-penghargaan ini menunjukkan bahwa Parakitri adalah seorang penulis yang sangat berbakat dan telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam dunia sastra dan film Indonesia.
![]()
“Eulogi tentang Batak” merupakan sebuah karya yang mendalam tentang mitologi Batak, yang merupakan kepercayaan tradisional orang Batak terhadap dewa-dewi. Meskipun agama Batak tradisional hampir menghilang pada saat ini, Parakitri memiliki keyakinan yang kuat akan eksistensi roh dan pengaruhnya dalam hidup sehari-hari.
Tulisan “Eulogi tentang Batak” karyanya ini merupakan sebuah kajian yang mendalam tentang adat dan budaya Batak, dengan fokus pada penerapan nilai-nilai Batak seperti Dalihan Na Tolu dalam kehidupan sehari-hari. Dalihan Na Tolu adalah sebuah konsep yang sangat penting dalam budaya Batak, yang menekankan pentingnya hubungan antara keluarga, masyarakat, dan spiritualitas.
Parakitri juga menyoroti bagaimana nilai-nilai Batak berinteraksi dengan agama Kristen, yang telah memiliki sejarah panjang di tanah Batak. Dengan demikian, buku ini tidak hanya membahas tentang budaya Batak secara umum, tetapi juga mengeksplorasi dinamika antara tradisi dan modernitas, serta antara kepercayaan lokal dan agama yang datang dari luar.
Dia seperti ensikopedia berjalan, kita tanya tentang Dinasti Sisingamangara, Parakitri punya narasi sendiri. Karya-karynya membantu kita memahami lebih baik tentang kekayaan budaya Batak dan bagaimana nilai-nilai tradisional dapat tetap relevan dalam konteks modern. Akhirnya, bagi mereka yang ingin memahami lebih dalam tentang budaya dan sejarah Batak baca jugalah Parakitri. ***
