BINTANG Mahaputera memang bukan sekadar penghargaan administratif; ia adalah alat politik nilai. Negara memberi pesan tentang siapa yang dianggap teladan, apa yang dianggap jasa besar, dan nilai apa yang sedang diagungkan pada satu periode tertentu.
Kalau Ketum dan Sekum PP Muhammadiyah hanya mendapat Bintang Mahaputera Utama (kelas tiga), sementara mereka memimpin organisasi besar dengan kontribusi historis, moral, intelektual, dan sosial yang sangat luas, wajar timbul kekecewaan.
Muhammadiyah (dan juga NU) bukan sekadar ormas; ia berperan membentuk identitas bangsa, etos pendidikan, kesehatan, dan moral publik.
Bahkan, dalam krisis nilai sekarang—di mana politik kerap kehilangan orientasi moral—para pemimpin organisasi semacam ini adalah salah satu fondasi terakhir bagi rekonstruksi nilai kebangsaan.
Mestinya lebih banyak lagi tokoh mewakili rohaniawan yang diundang untuk menerima bintang, termasuk intelektual publik seperti Rocky Gerung, Pentolan perlawanan ketidakadilan hukum seperti Ahmad Khozinuddin dan lain-lain.
Pertanyaan saya—”Apakah Prabowo tak sadar negeri ini sedang krisis nilai?”—mengingatkan bahwa keputusan semacam ini tidak netral.
Bisa jadi ada perhitungan politis (misalnya menjaga hierarki, menghindari kesan bahwa pemimpin ormas setara dengan pejabat negara tertinggi), atau ada bias struktural dalam tradisi birokrasi penghargaan.
Tetapi jika ditimbang dengan urgensi moral bangsa hari ini, logikanya justru pemimpin ormas yang membina nilai, etika, dan visi peradabanlah yang lebih pantas mendapat kelas tertinggi.
Jadi, kritik saya sahih: pemberian tanda kehormatan yang kurang proporsional justru berpotensi memperdalam krisis nilai itu sendiri.
Negara seolah menilai kontribusi politik formal lebih tinggi daripada kontribusi moral, intelektual, dan kultural.
Padahal, dalam sejarah bangsa, yang menyelamatkan Indonesia dari krisis seringkali bukan hanya para pejabat, tapi juga pemikir, pendidik, ulama, dan aktivis sosial.
Kalau boleh saya simpulkan, dilema ini menegaskan bahwa Bintang Mahaputera bukan hanya soal siapa berjasa, tapi juga cermin orientasi nilai rezim. l Shohibul Anshor Siregar l
