Gerakan Sejuta Pohon dan Sejuta Bibit Ikan di Danau Toba Pada 2026

Ditemani kopi panas, semilir angin Danau Toba, dan panorama biru yang membentang tenang, diskusi ringan namun sarat gagasan mengalir di sebuah coffee shop di Jalan Tele, Desa Tanjung Bunga, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, Jumat (30/1/2026). Tiga jurnalis Kabupaten Samosir, Efendy Naibaho, Niolando Naibaho, dan Samsir Sitanggang, larut dalam perbincangan hangat seputar arah pariwisata dan kebudayaan Sumatera Utara.

formatnews.id l Samosir — Sebagai wujud kecintaan terhadap kelestarian Danau Toba, Ketua Yayasan Pusuk Buhit, Efendy Naibaho, mencanangkan Gerakan Menanam Sejuta Pohon dan Menebar Sejuta Bibit Ikan di Kawasan Danau Toba pada tahun 2026.

Efendy Naibaho, yang juga merupakan mantan anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara sekaligus tokoh pers yang dikenal peduli lingkungan menegaskan, gerakan ini merupakan upaya kolektif untuk mengembalikan ekosistem Danau Toba ke habitat alaminya.

Bacaan Lainnya

“Gerakan menanam sejuta pohon dan menebar sejuta bibit ikan, utamanya pora-pora, akan dilaksanakan di tujuh kabupaten kawasan Danau Toba, yakni Kabupaten Samosir, Humbang Hasundutan, Toba, Tapanuli Utara, Dairi, Karo, dan Simalungun,” ujar Efendy,  Sabtu (31/1/2026) sebagaimana dikutip dari deliksumut.com.

Gerakan ini akan digerakkan melalui jejaring sosial berbasis media dan melibatkan berbagai elemen masyarakat, komunitas, organisasi, serta tokoh-tokoh lingkungan. Pelaksanaannya dirancang secara terstruktur, sistematis, dan masif, dengan satu tujuan utama: menjaga dan memulihkan kelestarian lingkungan Danau Toba, baik perairan maupun kawasan darat di sekelilingnya.

Dengan mengusung tagline #SaveTheTao, gerakan ini menjadi ruang konsolidasi bagi berbagai elemen yang selama ini mendambakan Danau Toba kembali lestari dan berkelanjutan.

Sejumlah komunitas dan organisasi telah menyatakan kesiapan untuk terlibat, di antaranya Forum Peduli Danau Toba, Aliansi Rakyat Danau Toba, Yayasan Pusuk Buhit, Yayasan Budaya Hijau, We Care Samosir/Pature Samosir, KERMAHUDATARA, Punguan Pomparan Namora Sojuangon Medan, Perkumpulan Aliansi Jurnalis Hukum, Komite Masyarakat Danau Toba (KMDT), Org Projurnalismedia Siber Toba, DPD Ormas dan Perjuangan Kabupaten Samosir, serta DPP Protap yang dipimpin Ketua Umum Dr JS Simatupang SH MA CGRP bersama Sekjend Ir B Siahaan.

Selain itu, sejumlah tokoh dan perorangan seperti Ganda Sirait, DLH Simamora, Sahala Arfan Saragih, Warto Sinurat, Aris Setteng Sinurat, Nikanor Sitohang, dan nama-nama lainnya turut menyatakan dukungan.

Efendy juga menunjukkan pesan WhatsApp dari Ganda Sirait yang menyatakan kesiapan penyediaan bibit.
“Kita punya 500.000 benih pohon lamtoro gung, cukup untuk satu Pulau Samosir, sejuta itu untuk seluruh Sumatera Utara,” tulis Ganda Sirait dalam pesan singkatnya.

Menurut Efendy, pohon lamtoro gung dinilai sangat cocok untuk kawasan Danau Toba karena tahan banting dan mampu tumbuh di dataran tinggi, perbukitan curam, serta tanah berbatu vulkanik. Dengan jarak tanam lima meter, lamtoro gung dinilai mampu menghijaukan Pulau Samosir secara signifikan.

Khusus kawasan Pusuk Buhit, yang diyakini sebagai asal muasal orang Batak, penanaman akan difokuskan pada tiga jenis pohon bernilai budaya dan ekologis, yakni beringin, jabi-jabi, dan hariara, dengan sistem adopsi pohon.

Rangkaian kegiatan gerakan ini dijadwalkan dimulai sejak Januari dengan tahapan administrasi, Februari melakukan audiensi ke pimpinan pemerintahan, Maret memastikan ketersediaan bibit serta peninjauan lokasi, hingga puncaknya penanaman dan penebaran bibit ikan secara serentak.

Penanaman massal direncanakan berlangsung pada April, bertepatan dengan peringatan Hari Gerakan Sejuta Pohon Dunia yang pertama kali dicetuskan pada 10 April 1872 di Amerika Serikat.

Untuk menyukseskan gerakan ini, panitia membuka ruang partisipasi publik. Bantuan berupa bibit pohon, bibit ikan, maupun dukungan operasional dapat disalurkan secara terbuka dan transparan, serta akan dipublikasikan melalui grup WhatsApp resmi gerakan.

“Kami mengajak seluruh elemen masyarakat, koperasi, gereja, ormas, hingga partai politik di kawasan Danau Toba untuk bersama-sama menjaga warisan alam ini,” pungkas Efendy. ***

Samsir Sitanggang

Pos terkait