Oleh Pastor Giovanno Sinaga, OFMCap
1. Pengantar
Permasalahan ekologis adalah permasalahan kita bersama. Permasalahan itu terjadi di sekitar kita. Kita bisa bersoal siapa yang menjadi penyebabnya. Karena menjadi masalah kita bersama, maka kita juga yang bertanggung jawab atasnya. Untuk dapat dapat yakin bahwa kita lah yang bertanggung jawab atasnya, maka perlu dipahami arti Ciptaan dan Keutuhannya. Dalam tulisan pendek ini, akan dipaparkan pemahaman tentang Ciptaan dan Keutuhannya.
2. Ciptaan dan Keutuhannya
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ciptaan diartikan sebagai segala sesuatu yang dijadikan Allah. Dalam tradisi Yahudi dan Kristen, ciptaan mengacu kepada Kitab Kejadian tentang dunia ciptaan Allah (Sally McFague: Creation in Dictionary of Feminist Theology). Dalam dua kisah penciptaan, Kejadian 1:1-2:4a dan Kejadian 2:4b-25, dikisahkan bagaimana Allah menciptakan dunia dan segala isinya.
Dalam dunia teologi dan religius, ciptaaan disebut sebagai segala sesuatu yang bukan Allah dan yang keberadaannya tergantung pada Allah (Gerald O’ Collins: Creation in A Concise Dictionary of Theology).
Dengan menyebut ciptaan sebagai segala sesuatu yang bukan Allah dan yang keberadaannya tergantung pada Allah, maka ciptaan tidak ada karena dirinya sendiri, melainkan karena Pencipta yang menciptakannya dari ketiadaan (Katekismus Gereja Katolik/KGK nomor 296).
Allah menciptakan segala sesuatu bukan dari sesuatu yang sudah ada sebelumnya, melainkan dari ketiadaan melalui kebijaksanaan dan dengan kebebasan-Nya (KGK nomor 295). Karena diciptakan melalui kebijaksanaan dan dan dengan kebebasan-Nya, semuanya menjadi teratur dan baik (Bdk. KGK nomor 299. Secara teologis, istilah ciptaan mencakup segala sesuatu dan menunjuk pada hubungan segala sesuatu itu dengan Allah.
Lingkungan hidup tidak lagi utuh. Hal ini berdampak kurang baik pada kesalingberhubungan dan kesalingtergantungan lingkungan hidup dan seluruh ciptaan. Ciptaan yang utuh adalah ciptaan yang berada dalam keadaan sempurna sebagaimana adanya, tidak berubah dan tidak berkurang.
Namun demikian, pengertian seketat itu tampaknya tidak dapat kita pertahankan terus. Bagaimanapun juga, masalah-masalah ekologis yang mengganggu keutuhanciptaan tersebut telah terjadi. Perluasan penggundulan hutan telah menyebabkan punahnya berbagai jenis flora dan fauna.
Penelitian menunjukkan bahwa meluasnya penggundulan hutan-hutan dunia sudah menyebabkan punahnya 4-8 persen spesies pada tahun 2015 dan 17-35 persen pada tahun 2040 (Bdk. James Martin-Schrumm: Population Perils and the Churches Respons). Hal tersebut tentu akan mengganggu keutuhanciptaan di masa yang akan datang. Namun sebagai prinsip umum, pengertian di atas dapat kita pertahankan dalam upaya menjaga dan mengusahakan keutuhanciptaan.
Keutuhanciptaan menunjuk pada adanya kesalingtergantungan manusia dan lingkungannya secara harmonis. Keutuhanciptaan mempersatukan manusia, hewan, tumbuhan dan tanah sebagai subjek utuh dan saling menjalin dan berhubungan satu sama lain.
Di samping itu, keutuhanciptaan juga menekankan agar manusia memandang seluruh ciptaan secara integral dalam relasi yang saling membutuhkan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kesalingberhubungan dan kesalingmembutuhkan itu menjadi bingkai keutuhanciptaan.
Dalam konteks Indonesia (dan Kabupaten Samosir secara khusus), sebagai bangsa yang beragama: Hindu, Buddha, Katolik, Kristen, Islam, Konghucu dan Aliran Kepercayaan, umat seharusnya menyadari peranannya sebagai Citra Allah di dunia untuk menjaga dan mengusahakan keutuhanciptaan.
Keikutsertaan tersebut kiranya menjadi wujud panggilan teologis dan penghayatan imannya sebagai umat beragama. Selain itu, keikutsertaan tersebut hendaknya juga menyadarkan masyarakat bahwa: “Merusak keutuhan ciptaan ini, pada akhirnya berarti pula memusnahkan semua hal yang mendukung hidup manusia itu sendiri. Maka disinilah terdapat panggilan kepada suatu pola hidup baru yang berdasar pada penatalayanan dan pengasihan, bukan penguasaan dan eksploitasi atas ciptaan lain”.
3. Penutup
Lalu apa kemudian? Apakah kita saling mempersalahkan? Tentu bukan. Seperti yang hangat beberapa hari ini dibicarakan perihal pengambilan getah pinus di sekitar Samosir dan juga di Kabupaten Kawasan Danau Toba. Semua kita bertanggung jawab atas apa yang terjadi, tentu dengan kewenangan kita masing-masing. Dan mari kita jalankan kewenangan kita sebagai bentuk tanggung jawab kita. Citra Allah yang dicipta dengan cinta-Nya, kita wajib menjaga keutuhanciptaan ini.
Kewajiban itu menjadi tugas dan tanggung jawab kita bersama. Dengan demikian, ciptaan yang utuh dapat kita wariskan kepada generasi berikutnya di Samosir Negeri Indah Kepingan Surga ini.
Salam religi dan budaya. Salam Keutuhan Ciptaan.
Pangururan, 16 Februari 2021
