Saut Marasi Manihuruk
SETELAH mengikuti ibadah Minggu (21/2) dengan perikop Minggu, Invocavit, Kejadian 9:8-17 dan tema “Janji dan Kuasa Allah,” sedikitnya kita diajari beberapa hal penting. Pertama, ada tiga pihak melakukan perjanjian: (1) Allah Semesta Alam (Inisiator Agung); (2) keluarga Nuh (manusia); (3) makhluk hidup secara turun temurun untuk selama-lamanya.
Isi perjanjiannya adalah yaitu sejak perjanjian itu tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi. Kedua, Pencipta memberikan janji kepada ciptaan-Nya yaitu manusia dan makhluk hidup.
Sungguh merupakan satu kasih karunia bagi manusia, Allah mengikat satu perjanjian dengan manusia sebagai ciptaan-Nya. Allah mana yang seperti Allah kita mau mengikat perjanjian dengan orang-orang yang mendapat perkenan-Nya? Tidak ada.
Ketiga, janji ini diberikan pada saat degradasi sikap dan perilaku benar di hadapan Tuhan pada zaman Nuh. Dalam konteks kekinian, apakah kita juga dalam kondisi yang serupa(?) Keempat, Nuh mendapat perkenanan dan kasih karunia di hadapan Allah. Kiranya kita semua mendapat kasih dan perkenanan di hadapan-Nya untuk menerima janji-Nya di dalam hidup kita saat ini sampai kesudahannya sebagaimana Nuh di hadapan Allah.
Namun setelah membaca konteks sebelumnya pada pasal 6:9, sedikitnya kita mendapatkan gambaran karakter Nuh: (1) benar, (2) tidak bercela, dan (3) hidup bergaul dengan Allah. Janji kekal di atas, dalam akal sehat kita, tentu diawali dengan Nuh yang “hidup bergaul dengan Allah.” Pastilah, orang yang hidup bergaul dengan Allah akan menjaga hidupnya tetap benar dalam standar Allah dan tidak hidup bercela. Jadi, orang yang senantiasa mencari perkenanan Tuhan dan bergaul akrab dengan-Nya kepadanyalah Dia menyampaikan isi hati-Nya.
Kebenaran janji-Nya terhadap Nuh dan keluarganya dan seluruh makhluk hidup nyata hingga sekarang. Pelangi merupakan tanda perjanjian itu—Tuhan tidak akan melenyapkan makhluk hidup dengan air bah. Apa itu janji Allah? Janji yang difirmankan-Nya dalam Alkitab kepada orang-orang percaya. Jadi, kita perlu membaca, memahami, dan mengimani Alkitab sebagai Firman Tuhan untuk menyampaikan janji-janji-Nya kepada orang percaya saat ini.
Hanya saja lanjutannya adalah bagaimana kita melakukan bagian kita yaitu hidup dengan melakukan seluruh perintah, ketetapan, dan hukum-hukum-Nya yang adil dalam hidup kita sehari-hari. Kita telah dibenarkan ketika kit percaya bukan karena kebenaran kita melainkan kebenaran Tuhan dalam diri kita yaitu Yesus telah mati untuk kita di Kayu Salib untuk menebus dan memerdekakan kita dari hukum dosa dan maut. Tidak hanya itu, Allah juga memberikan Roh Kudus-Nya tinggal di dalam kita untuk mengajari, membimbing, menegur, dan menuntun kita ke dalam seluruh kebenaran. Jadi, kiranya Tuhan menolong kita untuk hidup dalam jalan-jalan yang ditetapkanya untuk kita tempuh hingga kita memperoleh janji-janji-Nya.
Sesungguhnya, Alkitab itu terdiri dari dua bagian besar: (1) perintah dan (2) janji. Jika kita melakukan seluruh perintah-Nya dengan pertolongan Roh Kudus sebagai tanda kasih kita kepada-Nya, maka kita tidak perlu ragu akan janji-janji-Nya. Masalahnya, adakah kita melakukan bagian kita untuk senantiasa hidup bergaul akrab dengan melakukan perintah-perintah-Nya dan mencari perkenan-Nya seperti yang dilakukan Yesus? Fokus kita adalah melakukan perintah-perintah-Nya dalam ketaatan penuh kepada Allah sampai kita nanti meninggalkan dunia yang fana ini dan jangan ragu Tuhan pasti menepati janji-Nya sesuai dengan waktu- dan perkenan-Nya. Semua janji-Nya sudah ditepatinya, tinggal kita menunggu janji-janji-Nya setelah hidup di dunia ini selesai.
Sebagai orang percaya pada Perjanjian Baru, kita sedang menunggu janji Allah dalam Pengakuan Iman Rasuli yaitu adanya penghakiman orang yang hidup dan mati; adanya pengampunan dosa; kebangkitan orang mati; dan hidup yang kekal. Mari kita ulang untuk merenungkan Pengakuan Iman Rasuli kita ketika kita beribadah di gereja dan itulah garis waktu penantian kita akan janji-janji Allah.
Dari janji ini, adakah hidup kita berpadanan dengan Injil? Adakah hidup kita sejalan dengan kebenaran-kebenaran-Nya? Adakah kita mengerti isi hati Tuhan melalui Firman-Nya? Adakah hidup kita senantiasa disertai sukacita keselamatan bahwa Yesus telah menebus kita dari keberdosaan kita untuk terus bertumbuh di atas kasih karunia? Adakah kita merupakan orang yang mencintai Firman Tuhan dan merenungkannya siang dan malam serta bertindak hati-hati sesuai dengan tertulis di dalamnya?
Adakah kita menjadi pendoa syafaat atas keluarga, orang-orang di sekitar kita, alam sekeliling kita, dan situasi-situasi (yang baik dan sulit) yang kita hidupi setiap harinya dan meminta pertolongan-Nya? Adakah kita menjadi saksi yang hidup akan kebenaran Firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari? Adakah hidup kita dalam proses pemurnian oleh Tuhan untuk menjadi orang percaya yang Dia kehendaki dan tetap bergaul akrab dengan Dia?
Pertanyaan-pertanyaan refleksi ini sedikitnya dapat mengingatkan kita bahwa hidup yang berpadanan dengan kebenaran-kebenaran Firman Tuhan dalam konteks mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan kita serta mengasihi sesama manusia kiranya menguatkan kita untuk menerima janji-janji Allah untuk hidup hari ini, besok, dan sampai selama-lamanya. Percayalah akan janji Allah dan kuasa-Nya. Amin.
