Ijeck, Stabil Elektoral Rapuh Secara Institusional

Musa Rajekshah l Repro

formatnews.id – Dari sudut pandang akademik, kepemimpinan Musa Rajekshah, akrab dan enak dipanggil dengan Ijeck, di DPD Partai Golkar Sumatera Utara, merepresentasikan fase stabil secara elektoral, namun rapuh secara institusional.

Golkar memang tetap menjadi kekuatan politik dominan di Sumut selama periode tersebut, baik dalam pemilu legislatif maupun konsolidasi jaringan elite daerah. Namun stabilitas ini lebih bertumpu pada kapasitas personal, sumber daya dan jejaring kekuasaan, bukan pada penguatan mekanisme organisasi partai yang demokratis dan transparan.

Bacaan Lainnya

Secara teoritis, demikian pandangan akademis Shohibul Anshor Siregar, akademisi dan seorang  dosen militan itu, dalam percakapan dengan formatnews.id Jumat, 19.12.2025,  partai politik modern dituntut tidak hanya kuat secara elektoral, tetapi juga sehat secara internal. Tetapi ini bukan gendang dan rentak tari khas Sumatera Utara, melainkan dilema Golkar nasional yang tak lebih dari sekadar mainan penting bagi kekuasaan real politik Nasional.

Jika Airlangga saja digeser secara brutal, maka masalah Musa Rajekshah menjadi amat kecil dalam fenomena Golkar terbaru ini.

Dalam konteks Golkar kekinian, termasuk di Sumut, lanjut Shohibul, sentralitas kepemimpinan menunjukkan kecenderungan pemiskinan nalar pengambilan keputusan, yang dalam jangka pendek hasilnya sangat mungkin efektif, tetapi dalam jangka panjang sangat berpotensi melemahkan kaderisasi dan partisipasi internal. Ini membuat partai tampak solid di luar, tetapi rentan konflik di dalam.

Tentang Isu Pergantian Mendadak Plt. Ketua DPD Golkar Sumut

Pergantian mendadak Plt. Ketua DPD Golkar Sumut adalah sinyal yang, secara akademik, patut dibaca sebagai gejala problem tata kelola partai, bukan semata urusan teknis organisasi. Dalam ilmu politik, perubahan kepemimpinan yang tiba-tiba dan minim penjelasan publik biasanya menunjukkan adanya ketegangan elite, intervensi struktural dari pusat, atau ketidakselarasan kepentingan politik komando.

Namun yang mengherankan ini terjadi justru bukan pada saat menjelang momentum elektoral.

Musa Rajekshah dizolimi karena haknya dirampas untuk Pilgubsu 2024 setelah menunjukkan nilai kesuksesan elektoral. Ia tak memberontak sebagaimana Akhyar Nasution di Medan yang tetap maju pilkada meski partainya merampas haknya.

Fenomena ini menguatkan tesis bahwa Golkar, meskipun dikenal sebagai partai mapan, masih beroperasi dengan logika partai oligarkis, di mana keputusan strategis sering kali lebih ditentukan oleh kompromi elite nasional ketimbang aspirasi kader daerah. Jika dibiarkan, pola semacam ini dapat menimbulkan demoralisasi kader, erosi kepercayaan publik, dan melemahkan posisi Golkar di tingkat akar rumput.

Penilaian Akhir

Seorang ilmuan politik, lanjut Siregar,  akan melihat bahwa tantangan utama Golkar Sumut hari ini bukan soal figur semata, melainkan transformasi kelembagaan. Tanpa pembenahan tata kelola internal, transparansi kepemimpinan, dan penghormatan pada mekanisme organisasi, Golkar beresiko terjebak dalam paradoks: kuat dalam kekuasaan, tetapi lemah dalam demokrasi internal.

Tambahan

Sewaktu saya beri ceramah pada acara pembekalan legislator Partai Golkar Sumut Juli lalu, peserta dari Dairi bertanya, “Golkar Sumut segera akan bermusyawarah pergantian pengurus. Siapa figur yang tepat memimpin ke depan?”

Jawaban spontan saya waktu itu: “Ada kriteria khusus ukuran kinerja yang dibikin sendiri oleh Golkar Sumut dengan menyesuaikan program nasional di bawah Ijeck, di antaranya merebut Sumut 1, menggembleng sejuta kader dan memenangi pemilu. Jika prestasi yang akan dijadikan sebagai patokan, maka Ijeck tak usah disamanasibkan dengan Airlangga”.tulis

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, Musa Rajekshah disebutkan (lahir 1 April 1974) atau yang lebih dikenal dengan sapaan “Ijeck” adalah seorang politikus yang saat ini duduk menjadi wakil rakyat yaitu Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia 2024–2029 dari Fraksi Partai Golkar dapil Sumut 1 dan sebelumnya ia pernah menjabat sebagai Wakil Gubernur Sumatera Utara periode 2018–2023.

Sebelumnya, ia menjabat sebagai Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Medan sejak 2014. Musa Rajekshah juga merupakan Ketua Umum Pengurus Provinsi Ikatan Motor Indonesia (IMI) Sumatera Utara selama dua periode, sejak tahun 2003 sampai dengan tahun 2017.[3]

Musa Rajekshah anak kedelapan dari sembilan bersaudara dari pasangan H. Anif dan Hj. Syarifah Rahmah. Ijeck merupakan seorang pengusaha yang cukup sukses di Medan. Anak usahanya bervariasi mulai dari perkebunan kelapa sawit hingga otomotif. Selain itu sosok yang satu ini punya banyak prestasi dalam bidang olahraga dan kerap terlibat dalam aktivitas sosial.

Pada Pemilihan umum Gubernur Sumatera Utara 2018, Musa Rajekshah maju menjadi seorang Calon Wakil Gubernur Sumatera Utara mendampingi Edy Rahmayadi.***

Efendy Naibaho

Pos terkait