Oleh Sarmedi Purba
SAYA termasuk alumni Jerman yang mengagumi Pdt SAE Nababan. Umur kami beda 6 tahun dan saya kagum melihat kemampuannya berpidato meniru gaya Presidan Soekarno pada Jubileum HKBP ke – 100 tahun pada 1956 di Medan.
Pada Minggu berikutnya saya yang waktu itu menjabat Ketua Namaposo Kristen Protestan Simalungun (NKPS) Kota Medan dan sekitarnya, ikut mendengar pidatonya di gereja HKBP Simalungun Merekraya. Pidatonya selalu memukau membangkitkan semangat pemuda untuk bersatu dalam Gerakan Oikumene di Indonesia.
Setelah Pdt SAE Nababan kembali ke Indonesia dari Jerman, saya menyusul sebagai mahasiswa kedokteran dengan beasiswa RMG (Rheinische Missionsgesellschaft) 1964 di Jerman. Jejak Pdt Soritua di Eropa masih terasa pada kehidupan mahasiswa waktu itu.
Saya juga pernah sebagai Ketua PERKI Eropa mengumpulkan mahasiswa dari semua negara Eropa di Wina tahun 1969, yang dihadiri oleh tokoh Golkar Dr Midian Sirait, yang khusus datang dari Jakarta untuk meyakinkan kami atas Pemerintah Orde Baru di bawah Presiden Soeharto.
Jejak Pdt SAE Nababan kami ikuti di Asian Seminar di John Knox House di Jenewa yang diprakarsai almarhum, di mana gerakan oikumene dan masalah di negara-negara Asia didiskusikan untuk mencari solusi yang lebih baik. Joke Sakiman dari Negeri Belanda dan saya dari Jerman menjadi peserta dari Indonesia pada tahun 1967 di Asian Seminar.
Sepak terjang SAE Nababan saya ikuti pada Konsultasi Nasional Gereja di Bali 1983 dan Sidang Raya DGI di Ambon 1984. SAE Nababan dan TB Simatupang pada awalnya menolak perubahan Anggaran Dasar PGI di mana organisasi nasional gereja ini diharuskan mencantumkan Pancasila sebagai landasannya. Akhirnya pada Sidang Raya DGI yang berubah nama menjadi PGI pada Sidang Raya di Ambon 1984, disepakati menerima asas Pancasila dalam kehidupan ber-Negara.
Pada perpecahan di tubuh HKBP tahun 90-an, kami dengan teman-teman di GKPS dan warga Jerman di Pematangsiantar mengikuti permasalahan yang timbul. Kesan saya bahwa gagasan perubahan cara berpikir dan berorganisasi yang sangat cepat oleh Pdt SAE Nababan belum dapat dicerna oleh sebagian pendeta dan pemuka gereja HKBP waktu itu, sehingga terjadi gerakan oposisi yang bermuara pada terjadinya dua HKBP yang berseberangan. Banyak teman-teman kami yang menjadi korban represi Pemerintah Orde Baru waktu itu yang sebagian mengalami luka dan masuk penjara.
Banyak teman saya yang berkecimpung dalam organisasi oikumene sampai di Eropa dan khususnya di WCC dan LWF maupun di gerakan kemahasiswaan seperti WSCF di Jenewa atau ESG di Jerman, tetapi tidak sampai sebanyak pengalaman Pdt SAE Nababan dalam organisasi oikumene Sedunia.
Ini hanya mungkin karena kepiawaian almarhum dalam teknik organisasi, teknik berpidato dan berkomunikasi, khususnya disiplin menjalankan roda organisasi termasuk sistem keuangan, sehingga alm mendapat kepercayaan dari partner di semua gereja.
Gagasan SAE Nababan yang menentang diskriminasi di RMG (misalnya menentang larangan menonton bioskop untuk pendeta) kami masih rasakan sebagai penerima beasiswa RMG sesudah era SAE Nababan. Kami dan semua pendeta senior diperlakukan seperti anak kecil yang belum mampu mengurus dirinya. Semua pakaian termasuk pakaian dalam dibeli oleh CEO/ Geschรคftsfรผhret RMG waktu itu. Baru sesudah Pdt Dr Lothar Schreiner ditugaskan mengurus penerima beasiswa, hal itu berubah. Kami dipercayakan mengurus diri sendiri.
Pada akhir perjuangan ini gereja di Asia dan Afrika diubah statusnya sebagai partner yang berkedudukan sama tinggi dan sama rendah diciptakan dengan terbentuknya United in Mission (UIM) di mana Pdt Dr SAE Nababan menjadi moderatornya.
Saya bersyukur dengan beberapa pertemuan pribadi dengan Pdt Dr SAE Nababan, 3 tahun yang lalu di rumah Pdt Detlev Nonne di mana kami berdua mengingat masa lalu dan latar belakang kami masing-masing khususnyqa waktu pendidikan di Jerman dulu. Terakhir sekali pertemuan kami adalah kehadirannya yang tidak saya duga dan lupakan pada hari ulang tahun saya ke – 80 pada tahun 2019 di rumah kami di Pematangsiantar.
Rest in Peace Aang Soritua Albert Ernst Nababan.***
