Orasi Tahun Baru-an

Oleh Bachtiar Sitanggang

SESUNGGUHNYA, tidak begitu tertarik lagi mengomentari perkembangan Kabupaten Samosir setelah pilkada dan terpilihnya Bupati/Wakil Bupati, sebab tehnik operasional harus disesuaikan pihak yang berwenang dan bertanggung jawab guna menyelenggarakan pemerintahan sesuai Peraturan Perundang-undangan.

Bacaan Lainnya

Alasan untuk tidak tertarik itu memang banyak, salah satunya, ada yang menganggap saya mendukung pihak tertentu, terlihat dari tulisan-tulisan saya tentang Samosir, menurut saya biasa saja.

Sejak tahun 1982 waktu kami, saya, Franz F Harahap dan Totok Soesilo melakukan “Safari 10.000 Km Safari Harian Umum SINAR HARAPAN, di Pulau Sumatera dengan laporan tersohor “Tapanuli Peta Kemiskinan di Sumatera Utara” selalu mengkritisi bagaimana agar pembangunan cepat dan tepat sasaran, termasuk mengkritisi Pemerintah Orde Baru dengan PT Inti Indorayon Utama-nya.

Waktu Raja Inal Siregar Gubsu dan Lundu Panjaitan sebagai Bupati Taput, saya kritik langsung saat bertatap muka.
Saat ini pun saya tetap menginginkan percepatan dan peningkatan taraf hidup masyarakat Samosir saja, tidak soal siapa penanggungjawab pelaksananya (Bupati/Wakil Bupati).

Sedikit banyak saya memahami betapa beratnya mengelola pemerintahan itu, walaupun saya tidak pernah Sekretaris RT sekalipun. Oleh karenanya saya tidak asal kritik, sebab tidak mungkin menginginkan laju pembangunan dalam waktu 3-6 bulan pemerintahan sekarang, masih seumur jagung, sedang sibuk “cuci piring kotor”.

Tetapi belakangan jadi tergelitik sejak beberapa hari lalu, karena banyak rekan-rekan mengirim video “orasi Tahun Baru-an” seorang tokoh putra Samosir yang “seolah menyerang” sesamanya sama-sama “tokoh/putra Samosir”.
Tidak tertarik untuk mengomentari “orasi Tahun Baru-an” tersebut dan juga yang disebut/dimaksud “bila perlu kita usir barang-barang” itu. Karena kelihatannya “emosional” serta “tidak substansial”.

Sebenarnya, setelah video itu viral, sudah ada rekan yang menanyakan ke saya apakah kejadian tersebut tidak melanggar Undang-Undang ITE atau Hukum Pidana, saya jawab “biarlah penasehat hukum dari yang merasa dirugikan menelaahnya”.

Hal-hal seperti itu akan melelahkan, seperti ungkapan “aek do ndang loja paihut-ihut rura. Anggo jolma loja do paihut-ihut sihataon” (Air yang tidak letih mengarungi sungai, kalau manusia akan susah dan capek melakukan perkara).

Mengapa, kalau itu ditarik ke ranah hukum, kita malu. Sebab “yang dituding belum tentu kotor” dan “penuding belum tentu bersih”. Kalau sampai proses hukum “yang diadukan dan pengadu“, sama-sama mempermalukan putra Samosir. Pada hal kita semua ingin agar Pemerintahan Kabupaten Samosir itu “bangun dari tidur” tidak seperti selama ini. Anggota DPRD-nya juga hendaknya sadar akan tanggungjawabnya sesuai tugas dan sumpahnya.

Kalau ada kekurangan, hendaknya menggunakan sarana yang telah disediakan sesuai Peraturan Perundang-undangan, apalagi partai terbesar. Kalau ada pelanggaran hukum ada instansi untuk itu, saat ini tidak lagi eranya “teriak di jalanan”.

Sebagai simpatisan partai, saya cemas dengan perlakuan para kader, seperti apa yang menyinggung perasaan komunitas di Jawa Barat, sebelumnya “penolakan vacsin” di parlemen, dan khusus di Samosir, menggunakan suasana “Tahun Baru” menyerang pihak lain.

Bagaimana efeknya tahun 2024 nanti? Mungkin perasaan saya saja yang bukan politisi dan “sok simpatisan”, para pelaku saja tidak memikirkannya. Lepas dari semua itu, terhadap isi “orasi Tahun Baru-an” tersebut, perlu diperhatikan oleh pihak yang “diserang”, sebab “tidak mungkin ada asap, kalau tidak ada api”.

Marilah sama-sama mengoreksi diri untuk kemajuan Samosir, kalau terus bertengkar, rakyat yang “menderita” dan kalian yang bertengkar itulah yang menanggung “dosanya”. Perlu diingat Samosir itu “satahi saoloan” dan bukan “negeri indah kepingan surga”, karena Surga adalah milik “Sang Pencipta”.

Memang pekerjaan dan perilaku yang paling enteng adalah “mengkritik”, pada hal belum tentu mampu berbuat seperti yang dikritik, dan posisi saya berada di situ, hanya mengkritik doang. Tetapi mereka yang dikritik itu tentu bisa menilai apakah kritik itu membangun atau sebaliknya.  Kalau kritik itu membangun, mengapa tidak direspons positif? Namun kalau “ada udang di balik batu”, silahkan saja menyikapinya.

Ketika saya meliput kampanye Probosutedjo di beberapa tempat di Sumatra Utara, di era Orde Baru dari Golkar (orsospol-bukan partai) sering mengemukakan, “menunjuk orang lain hanya satu jari yaitu jari telunjuk, sementara tiga jari lainnya menunjuk diri sendiri. Dan satu jari menunjuk ke atas”, barang kali tidak sulit bagi kita semua untuk menjabarkannya, bukan?

Oleh karenanya, marilah kita memandang jauh ke depan, ibarat mengemudikan mobil, jangan terlena ke kaca spion-mengenang masa lalu, agar perjalanan masyarakat Samosir cepat terbebas dari ketertinggalan.

Kalau semua pihak mampu menyumbangkan apa yang baik dari diri masing-masing, Samosir akan cepat bangkit. Hendaknya para komporador dan pencari kerja serta pembisik, apalagi yang membuat Samosir sebagai “daon lalap” (pengisi waktu kosong) untuk segera “move on”, tidak selalu terbelenggu dengan masa lalu dan keindahan. Biarlah hanya lagu Iwan Fals “Kemesraan ini janganlah cepat berlalu”, yang tidak berlalu, kalau hidup akan selalu seiring waktu.

Penulis adalah wartawan senior dan advokat domisili di Jakarta.

Pos terkait