Safari Sinar Harapan: Samosir, Kesuburan dan Keindahannya Kini Tinggal Kenangan

Bachtiar Sitanggang-

Pengantar.
Tim Safari Harian Umum Sinar Harapan, terdiri dari Franz F Harahap, Totok Suslio dan Bachtiar Sitanggang, mengadakan perjalanan jurnalistik menelusuri delapan provinsi di Sumatera dari tanggal 8 Oktober – 5 November 1982. Dari sejumlah liputannya,  ada tentang Samosir) (40 tahun lalu sebelum kabupaten) dimuat di Harian Umum SINAR HARAPAN, 26 November 1982, untuk membandingkannya dengan kondisi masyarakat, lingkungan hidup dulu dan saat formatnews.id memuat ulang selengkapnya sebagai berikut:

SEORANG anak muda berdiam di sebuah lembah yang dialiri sebuah sungai dengan berdinding gunung – gunung yang merupakan bagian dari jajaran Bukit Barisan. Di suatu sore, si anak muda, petani yang suka memancing di sungai berhasil menangkap seekor ikan besar.

Bacaan Lainnya

Mengingat besarnya ikan dan jauhnya rumah, si anak muda tersebut kewalahan. Di dekat situ ada sebuah gubuk tempat berteduh para petani. Karena lelahnya, pemuda itu putus asa. Melihat hal tersebut sang ikan berkata, “daripada kamu kepayahan membawa saya ke rumahmu, lebih baik saya antarkan ke gubuk di sebelah sana. Dan besok pagi baru jemput saya”. kata ikan tersebut.

Benar juga. Apa kata ikan itu dilaksanakan oleh sang pemuda. Esok harinya, sang pemuda mencari ikan yang dititipkan, namun tidak ditemukan, malah dijumpai seorang wanita cantik. Dengan keheranan, ia mendekati wanita itu, tetapi sang wanita menyahut, “Akulah yang kamu antar kemarin. Nah, sekarang bawalah saya dan jadikanlah saya isterimu”.

Tetapi si gadis memberikan syarat. “Kalau kamu mau menjadikan saya istrimu, dengan senang hati saya mau. Hanya kamu jangan sekali-sekali mengatakan bahwa saya berasal dari ikan, juga keturunan kita”. Sang pemuda menyanggupinya. Setelah mereka mempunyai anak dan bisa disuruh mengantarkan makanan bagi ayahnya di sawah, terjadilah cobaan berat.

Sang putra tidak mengantarkan makanan ayahnya seperti dijadwalkan. Petani itupun dengan kalapnya membentak sang anak. “Dari mana kamu? Benar-benarlah kamu anak ikan, tidak tahu aturan, saya sudah capek kerja untuk nafkahmu tetapi kamu tidak menghargainya”, bentak si bapak.

Mendengar kata ayahnya, si anak menangis dan cepat-cepat kembali ke rumah. Sang anak langsung mengatakan isi hatinya kepada ibunya, “Ibu, apakah saya anak ikan?”. Bagaikan halilintar di siang bolong kata-kata ini terdengar. Tanpa komentar, sang ibu menyuruh anaknya pergi. “Pergilah kamu ke kaki gunung sana. Secepat kamu tiba secepat itu juga lembah ini akan berubah menjadi danau”, ujarnya.

Si anak berlari sampai ke kaki Gunung Pusuk Buhit saat itu pulalah datang hujan, sedikit demi sedikit daerah itu menjadi danau. Terendamlah lembah itu. Itulah Danau Toba yang kita kenal sekarang yang membatasi Pulau Samosir dari Pulau Sumatera, menurut legenda penduduk.

Keindahan Danau Toba dan keserasiannya dengan Pulau Samosir juga diabadikan oleh Guru Nahum Situmorang dalam bentuk lagu. Memang indah pulau itu. Anggun pula Danau Toba untuk dipandang. Tetapi itu waktu dulu. Sekarang sudah berubah.

Tinggal Kenangan

Pulau Samosir menurut Nahum Situmorang dalam syair lagunya dipenuhi kacang, padi dan bawang. Bertebaran pula ternak di pegunungan. Sekarang memang masih ada seperti kata lagu itu, tetapi tidak seperti 10 atau 20 tahun lalu. Ketika Tim Safari “SH” melintasi daerah itu, keadaan Pulau Samosir sudah pada tingkat mengkhawatirkan.

Tanah persawahan maupun ladang yang ada, tetap digarap sebagai sumber mata pencaharian sejak beratus tahun lalu, tetap tanpa ada usaha untuk mengetahui masih mampukah ia untuk menghidupi penggarapnya. Tidak ada lagi tanah yang bisa memberikan penghidupan yang wajar di Samosir seperti dulu. Kalau dulu nenek moyang orang Samosir mempunyai lumbung besar hampir mendekati besarnya rumah, sekarang untuk diisi dalam karung hasil bumi itu tidak memadai.

Bawang dan kacang tidak seperti yang dibayangkan dalam lagu. Sebenarnya penghasilan petani di daerah ini masih bisa ditingkatkan kalau dilakukan pemupukan. Tetapi masalah pupuk itu kan harus dibeli, komentar seorang penduduk. “Untuk membeli pupuk itulah yang menjadi persoalan. Pupuk kandang tetap kita pergunakan, karena itulah ada hasilnya sedikit – sedikit seperti sekarang ini”.

Beberapa tempat di Pulau Samosir terutama di pantai bagian timur beberapa tahun yang lalu boleh dikatakan surplus (untuk ukuran sana). “Sekarang untuk kebutuhan petaninya saja tidak mungkin”. Berarti pertanian secara keseluruhan harus mendapat perhatian secara konsepsional, harus ditentukan dalam waktu dekat untuk dapat mengetahui bagaimana taraf hidup masyarakat di pulau itu untuk kemudian meningkatkannya.

Pulau Samosir secara administratif terdiri dari lima kecamatan namun hanya ada 4 kecamatan di pulau itu masing – masing Pangururan, Simanindo, Onan Runggu dan Mogang. Sedangkan Harian berada di luar Pulau Samosir atau di daratan Sumatera.

Jumlah penduduk pulau itu mungkin sampai sekarang masih tetap sama dengan 10 tahun yang lalu. Mereka kebanyakan merantau ke luar, misalnya ke persawahan – persawahan yang baru dibuka di Sumatera Timur maupun ke tempat-tempat lain, di samping anak-anak muda pergi ke kota-kota besar dengan tujuan tidak menentu. Tidak ketinggalan pula yang sanggup melanjutkan sekolahnya. Kebanyakan dari mereka hampir tidak banyak jumlahnya yang mau kembali.

Di pulau itu juga terdapat hutan pinus, yang bisa diambil hasilnya. Bagi penduduk terutama yang di pegunungan, hutan itu termasuk sebagai mata pencaharian utama. Bahkan mereka menanam kembali dan memeliharanya. Tetapi setelah PRRI, pemeliharaan terhadap hutan minim sekali. Maka hutan pun jadi gundul. Penghijauan sebenarnya pada Pelita I dan II direncanakan Pemerintah ke daerah ini seperti tempat – tempat lainnya, namun hasilnya hampir tidak kelihatan.

Termakan Musim

Menurut penuturan beberapa petani di Pulau Samosir, kekurangan hasil bumi mereka disebabkan berbagai hal. Pertama, tanah yang diusahakan dari dulu sampai sekarang tetap saja. Kalau ladang di pegunungan setelah 3 atau 4 tahun tidak memadai lagi hasilnya, mereka pindah lagi mencari lahan lain.

Sawah terutama di tepian pantai sebagian besar adalah tadah hujan. Tetapi permasalahan yang dihadapi mereka secara keseluruhan adalah musim yang tidak menentu. Sebab menurut keterangan mereka musim tanam biasanya Oktober, karena biasanya hujan sudah turun.

Tetapi kini musim tak dapat diramalkan lagi. Untuk menanam palawija hal ini bisa merugikan misalnya kacang. Sebab bila saat tanaman kacang mulai berakar ditimpa hujan deras, maka tanaman itu akan busuk. Bagi sawah yang mendapat air dari gunung saat ini tidak cerah lagi, karena air tidak lancar lagi. Mungkin hutan di tengah-tengah pulau itu tidak mampu menyimpan air karena sudah gundul.

Kalau di beberapa daerah atau di tempat-tempat luar Samosir banyak yang mengenal bibit padi yang baru, yang memungkinkan bisa panen duakali setahun bahkan 3 kali, di pulau ini mereka tidak mengenal penemuan baru itu. Pupuk maupun Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) belum menyentuh daerah ini.

Danau Toba

Air Danau Toba yang biru menggenang indah di antara Bukit Barisan dan Pulau Samosir sungguh menarik perhatian wisatawan. Selain panorama yang indah masih ada sebenarnya daya tarik bagi pengunjung untuk melihat berbagai objek di sana. Namun hanya sampai di situ, karena Pulau Samosir kini hanya bermodalkan tortor (tarian) dan ulos (selendang) saja.

Mungkinkah memanfaatkan keindahan Danau Toba ini bisa merubah nasib penduduk di sekitarnya? Hanya Pemerintah yang bisa melakukan hal ini dengan mengeluarkan dana dan daya yang besar. Pertama-pertama  harus dikelola objek wisata yang ada serta menyiapkan masyarakat menerima wisatawan.

Untuk menarik wisatawan, cara hidup masyarakat setempat harus disiapkan untuk menerima kenyataan. Para wisatawan memerlukan suasana santai dan pandangan yang serba baru yang tidak ditemukan di tempat asal mereka. Di sekitar Danau Toba maupun Samosir ada tradisi menggali tulang belulang orang tua-tua yang meninggal untuk dipindahkan ke tempat yang lebih layak menurut keturunannya yang disebut Tugu.

Sebab salah satu kebudayaan Batak adalah mengangkat tulang belulang dari kuburan tanah ke tempat yang merupakan suatu penghormatan bagi si meninggal. Ini merupakan atraksi yang menarik.

Perlu ada langkah – langkah konkret antara lain masalah administratif, agar Danau Toba dan Pulau Samosir ditangani secara khusus oleh administratur tersendiri yang tujuannya memadukan daerah ini sebagai kawasan wisata. Pulau itu hendaknya ditata sedemikian rupa, hingga jembatan-jembatan  dirobah menjadi jembatan beratap dengan bentuk menyerupai rumah adat Batak.

Di tiap-tiap kota di pinggiran danau dilangsungkan acara kesenian secara teratur dengan topik yang berbeda. Kepada penduduk setempat diadakan semacam pendidikan khusus mengenai pariwisata. Adanya Desa Limbong tempat Sianjurmulamula, yang menurut masyarakat setempat adalah asal muasal orang Batak dengan air sebanyak tujuh buah dengan tujuh macam rasa pula, perlu dikembangkan, juga bekas Pertahanan Kerajaan Raja Sisingamangaraja (istana) di Bakkara serta Batu Gantung menyerupai manusia di Sibaganding, Prapat kalau dipugar bisa memperlaris pariwisata di daerah ini selain yang sering atau yang sudah diketahui orang – orang.

Tiupan angin segar dan percikan ombak danau itupun perlu disuguhkan kepada wisatawan dengan mengoperasikan feri lengkap dengan kamar-kamar. Feri yang mengitari danau itu dengan menyinggahi pelabuhan-pelabuhan dengan suguhan kesenian atau hiburan yang teratur dan terencana. Pendek kata, wisatawan itu tidak perlu kembali ke darat, ke hotel lagi menikmati panorama yang indah itu.

Penghijauan

Seperti di Tanah Toraja, di sekeliling Danau Toba ada pula acara-acara untuk orang yang mati yaitu memindahkan tulang belulang. Pihak Badan Pariwisata Daerah (Baparda) Sumatera Utara perlu mengatur waktu-waktu kapan penggalian tulang-belulang dan acara-acara yang harus dilakukan, tanpa menghilangkan kekhidmatan acara tersebut.

Sehingga tidak lagi seperti sekarang acara-acara tersebut bertumpuk pada bulan-bulan Agustus, September dan Oktober.

Tetapi kelihatannya Danau Toba itu sendiri sudah meminta perhatian serius mengenai kelestariannya, mengingat air yang sudah semakin menciut. Jalan satu-satunya untuk menanggulanginya adalah dengan penghijauan di sekitar Danau Toba,  bukan soal peningkatan taraf hidup rakyat saja, tetapi yang paling mendesak adalah penyediaan air secara besar dan teratur untuk proyek raksasa di Sigura-gura.

Dari Tarutung menuju Siborong-borong ketika Team Safari “SH” bergerak terus ke Balige, masih terlihat banyak tanah yang gundul. Begitu juga antara Kabanjahe ke Sidikalang terus ke tepian Danau Toba, ribuan hektar tanah masih ditumbuhi lalang yang tidak berguna.

Semua sungai sebagian besar bermuara ke Danau Toba. Di Pulau Samosir sendiri, 75 % tanah masih gundul. Mungkin kalau semua ini dapat dihijaukan, maka kekhawatiran akan surutnya air Danau Toba tidak ada lagi atau paling sedikit berkurang, sekaligus dapat menambah kesejukan pandangan para pengunjungnya.

Dengan pengairan yang terencana ditunjang penghijauan yang benar – benar dilaksanakan ditambah dengan peningkatan objek wisata masyarakat di Pulau Samosir dan sekitar Danau Toba mungkin akan dapat merasakan apa yang didendangkan Komponis Guru Nahum Situmorang. ***

Bakhtiar Sitanggang  – Tim Safari Sinar Harapan

Pos terkait