Oleh Padmono Sastrokasmojo
TANGGAL 8 Mei setahun lalu, (2021) Pdt. Dr. SAE Nababan LLD kembali ke rumah Bapa di surga. Beliau adalah Ephorus Emeritus HKBP. Beliau berpulang setelah menyelesaikan tugasnya, malang melintang mengembangkan gerakan oikumene di Indonesia (DGI ke PGI), Asia (CCA = Christian Council of Asia), bahkan dunia (WCC = World Council of Churches) dan juga LWF (Lutheran World Federation) sejak tahun 1967. Seluruh hidupnya diabdikan pada pelayanan gerejawi di bidang gerakan oikumene. Sebagai pendeta banyak sekali tulisan beliau dan kotbah yang telah disampaikan dari mimbar.
Membaca tulisan maupun kotbahnya di berbagai tempat, jelas menambah banyak ilmu. Ibaratnya kembali duduk di bangku kuliah dan mencermati perkuliahan yang diberikan oleh sang dosen. Itu yang saya alami ketika dipercaya untuk membaca, memilah-milah, memilih, ratusan tulisan. Tulisan-tulisan itu tidak hanya ungkapan pemikiran, tetapi juga kajian atas Firman Tuhan yang tertulis dalam Kitab Suci, dan kajian tersebut berbentuk kotbah!
Ribuan halaman yang saya hadapi itu adalah tulisan dan kotbah beliau. Itu terjadi menjelang akhir tahun 2019 saya disodori setumpuk tulisan beliau, ada kertas kerja yang disampaikan dalam berbagai forum, ada tulisan-tulisan kotbah yang disampaikan dalam berbagai ibadah dan seterusnya. Saya harus memilih dan memilahnya, dan di ujung jalan menjadikannya buku.
Puji Tuhan, sebelum beliau dipanggil Tuhan tanggal 8 Mei 2021, tulisan dan kotbah tersebut telah siap menjadi buku. Ada 3 (tiga) buku yang waktu itu diterbitkan (1) “Kepemimpinan, Adat, dan Pemuda”; (2) Perdamaian, Diakonia, dan Pembaruan; dan (3) Gerakan Oikumene dan Penginjilan.
Untuk memilah-milah dan mengelompokkan ke dalam judul-judul itu memang harus membaca tulisan-tulisan tersebut 3 sampai 4 kali. Harus diakui memang tidak mudah untuk mengeditnya, sebab untuk mengedit harus memahami kata per kata, kalimat per kalimat dan gagasan yang ingin disampaikannya. Setelah itu baru bahasanya dilancarkan sehingga mudah dan enak dibaca.
Namun yang saya jaga adalah, tetap menjaga agar karakter penulis dan pengkotbah itu tetap nampak jelas, sehingga ketika orang membacanya, seperti berhadapan dengan beliau. Saya bersyukur Pdt. Dr. SAE Nababan LLD merasa puas dan senang dengan hasil editing saya.
Di luar tiga buku di atas, ada satu buku lagi yang diserahkan ke saya untuk diedit. Buku itu merupakan catatan perjalanan beliau. Sebenarnya telah beberapa tangan yang menanganinya tetapi akhirnya saya diminta untuk menyelaraskan editingnya sehingga bahasanya lancar dan enak dibaca.
Buku itu akhirnya diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia dengan judul SELAGI MASIH SIANG: CATATAN PERJALANAN PDT. DR. S.A.E. NABABAN.
Proses untuk menjadikan kumpulan tulisan dan kotbah sebagai buku itu cukup panjang. Hampir setiap bulan saya datang ke rumahnya, berdiskusi bahkan selalu ditemani Ibu atau tim dari BPK atau tim lain, dan Beliau sangat terbuka untuk menerima kritik dan usulan. Beliau tidak pernah mengatakan “tidak setuju!” atau “harus begini atau begitu”. Sama sekali tidak! Beliau selalu bertanya, “menurut kamu bagusnya bagaimana?” Lalu kami berdiskusi panjang lebar.
Dalam dialog-dialog seperti itu saya merasakan sekali betapa beliau sangat rendah hati dan menghargai orang. Seperti dalam buku-buku yang terbit itu, semula beliau hanya ingin nama yang dicantumkan SORITUA NABABAN. Tetapi ketika panjang lebar berdiskusi dan kami katakan, “Nama Bapak yang dikenal adalah Pdt. Dr. SAE Nababan, bukan Soritua Nababan. Hanya orang tertentu saja yang mengenal nama Soritua Nababan”. Beliau sempat berpikir dan akhirnya menyetujui nama lengkapnya yang ditulis di buku-bukunya.
Juga dengan “Catatan Perjalanan” yang merupakan otobiografi akan diterbitkan. Buku itu diterbitkan BPK Gunung Mulia karena ada ikatan emosional antara BPK Gunung Mulia dengan DGI (kini PGI). Bertahun-tahun ketika menjadi Sekum DGI beliau terkait dengan kepengurusan BPK. Karena itulah BPK menjadi penerbitnya.
Lama kami berdiskusi untuk judul itu. Selagi Masih Siang adalah sebuah perintah langsung dari Tuhan Yesus dalam Yohanes 9, “Kita harus mengerjakan pekerjaan DIA yang mengutus Aku, selagi masih siang; akan datang malam di mana tidak ada ada seorang pun yang dapat bekerja”. Waktu itu kami sempat terpikir, kata “selama hari masih siang” atau “selagi hari masih siang”, tetapi kemudian disepakati “Selagi Masih Siang”, karena kata “masih siang” menunjuk waktu dan di situ sudah mencakup kata “hari”. Dari pihak BPK memberikan informasi sudah ada buku yang berjudul “Selama hari masih siang” yaitu buku tipis biografi Bapak Abednego, tokoh Parkindo.
Dengan masukan-masukan itu akhirnya beliau menerima judul tersebut dan merasa senang. Itu sesuatu yang luarbiasa. Kami sering tertawa bersama kala berdiskusi. Tetapi saya pun pernah ditegor keras ketika saya terlambat datang. Beliau sangat ketat dengan waktu, tidak boleh terlambat dari waktu yang disepakati. Kami janjian jam 10 saya datang jam 10.30. Ketika baru muncul beliau langsung menegor. “Jam berapa kita janji bertemu?” tegor beliau.
Saya menjelaskannya bahwa jam 09.30 saya sudah sampai di Pancoran dan tinggal belok. Tetapi mobil saya bernomor ganjil dan hari itu tanggal genap. Saya jelaskan bahwa saya harus memutar di Grogol untuk menunggu tidak berlakunya ganjil dan genap, baru kemudian masuk lagi agar tidak terkena tilang. Beliau bisa menerimanya dan hanya bertanya, “Oh, begitu ya? Repot juga ganjil genap itu”.
Akhirnya setiap mau ketemu kami janjian jam 11.00 setelah lewat pemberlakukan ganjil genap, atau saya minta tanggal yang sesuai plat nomor mobil saya, ganjil.
Kini, setelah satu tahun beliau kembali ke Pangkuan Bapa di Surga, apa yang ditinggalkan? Paling tidak menurut saya ada 2 (dua) pemikiran besar Pdt. Dr. SAE Nababan yang harus dirawat dan dikembangkan oleh gereja-gereja di Indonesia: (1) tentang GERAKAN OIKOUMENE; dan (2) TEOLOGI KESEIMBANGAN.
Pertama, tentang Gerakan Oikumene. Pdt. Dr. SAE Nababan mengabdikan diri dalam gerakan itu sejak masih muda. Ternyata memang tidak kebetulan beliau berkecimpung dan membaktikan diri dalam gerakan itu. Desertasinya yang berjudul “Bekenntnis und Mission in Roemer 14 und 15 (Eine exegetische Untersuchung) atau Pengakuan dan Misi Dalam Roma 14 dan 15 (suatau penelitian eksegetis) yang menghasilkan gelar doctor dengan predikat cumlaude itu yang memberikan kesadaran mendalam tentang penginjilan dan keesaan gereja.
Salah satu dari lima kesimpulan dari studi dan penelitiannya berbunyi, “karena pengakuan Kyrios ini menciptakan kesatuan dan di dalam kesatuan itu terjadi pemujian Allah. Gereja dan Pekabaran Injil adalah satu. Gerakan Oikumenis belakangan ini menunjukkan betapa erat hubungan keduanya sehingga yang satu tidak mungkin ada tanpa yang lain, karena masing-masing berdasar pada pengakuan Kyrios”
Pengakuan Kyrios adalah pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan, dan itulah yang seharusnya mempersatukan gereja-gereja di seluruh dunia. Kesatuan itu harus terus diupayakan oleh gereja, tidak boleh berhenti! Karena pengakuan itu pulalah gereja tidak bisa dibedakan antara yang oikumenis dan Injili. Karena sama-sama mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan.
Gereja yang mengaku Injili harus ikut terlibat dan mengembangkan gerakan oikumene, dan gereja yang mengaku oikumenis harus terus mengembangkan hakikatnya yang injili. Kesadaran itu yang menjadi dasar Pdt. Dr. SAE Nababan untuk berjuang dengan gigih mendorong keesaan gereja. Di tahun 2020 beliau masih mendapat penghargaan berupa medali Saint Mesrob Mashdot dari pimpinan tertinggi gereja Ortodhoks di Lebanon.
Kedua, pemikiran yang berkaitan dengan itu adalah TEOLOGI KESEIMBANGAN. Pemikiran tentang Teologi Keseimbangan itu bermula dari keikutsertaannya dalam Sidang Raya di Uppsala 1968. Beliau hadir sebagai Sekum DGI dan sekaligus anggota Komite Pemuda WCC. Salah satu tema yang dibahas dalam sidang raya itu adalah “keadilan dan perdamaian dalam hubungan internasional”.
Masalah pembangunan, masalah sosial politik, masalah keadilan dan perdamaian, sangat mewarnai persidangan. Bahkan banyak pemuda gereja berdemo karena kesenjangan dan ketidakadilan di bidang sosial politik maupun ekonomi.
Sebagai anggota komite pemuda, beliau ikut berdemo bersama-sama dengan pemuda yang menyerukan keadilan ekonomi, keadilan sosial dan politik serta pembangunan ekonomi untuk negara-negara miskin. Selama persidangan itu dipertontonkan kesenjangan antara yang kaya dan miskin. Orang-orang kaya memamerkan kekayaannya yang mencolok dengan kendaraan mewah. Melalui perjuangan para pemuda, akhirnya sidang itu merekomendasikan perubahan gaya hidup yang lebih sederhana, lebih adil, dan gereja-gereja kaya diminta menyisihkan dana untuk pembangunan di negara-negara miskin.
Pengalaman di Sidang Raya WCC Uppsala itu mendorong Pdt. Dr. SAE Nababan untuk mengembangkan teologi keseimbangan, sebuah teologi yang sangat relevan untuk gereja dan masyarakat di Indonesia. Tahun 1970-an beliau mulai memperkenalkan teologi itu dalam sidang-sidang raya DGI. Menurut catatan Dr. Sugeng Hardiyanto, orang yang pernah dekat dengan beliau, Teologi Keseimbangan itu dikembangkan akhir dasawarsa 1970-an. Beliau terus menerus menyerukan kepada gereja-gereja, baik di tingkat nasional, regional maupun di WCC untuk mengembangkan keadilan atas dasar teologi keseimbangan.
Ayat Alkitab yang beliau sering kutip dari Keluaran 16: 18 dan 2 Korintus 8: 15 yang berbunyi, “Orang yang mengumpulkan banyak tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit tidak kekurangan”. Dengan kutipan ayat itu beliau menegaskan bahwa dalam kehidupan bersama itu, baik dalam lingkungan gereja maupun masyarakat secara umum, setiap orang memiliki hak hidup yang setara: tidak ada yang berlebihan tetapi juga tidak ada yang berkekurangan. Setiap orang sadar akan kebutuhan sesamanya sehingga ada kehendak untuk saling menolong dan saling membantu.
Teologi keseimbangan itu menurut saya sangat relevan dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang didasarkan pada asas gotong royong ini. Gereja-gereja bisa memberikan sumbangannya untuk negara, untuk bangsanya dengan jalan mengembangkan teologi keseimbangan dalam tingkat praxis!
Namun pengembangan teologi keseimbangan itu harus disertai dengan kesadaran penuh untuk merasa cukup dan bersikap adil. Tanpa rasa cukup dan sikap adil, yang terjadi hanyalah rakus, tamak dan bersikap hidup seperti lintah yang hanya tahu “untukku” dan “untukku” seperti tertulis dalam Amsal 30: 15.
Ini selalu diingatkan oleh beliau ketika berbicara tentang pentingnya kesembangan dalam berbagai aspek khususnya aspek ekonomi. Gereja harus mendidik warganya untuk merasa cukup, tidak rakus, tidak serakah, seperti diajarkan Tuhan Yesus dalam Doa Bapa Kami, “..berikanlah kepada kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya”.
Dalam tulisan dan kotbah beliau, peringatan itu cukup tegas dan jelas. Ketika kotbah dalam mimbar agama Kristen di televisi pun, di jaman Orde Baru, beliau menyatakan hal itu dengan sangat gamblang!
Kini setelah setahun beliau meninggalkan kita, siapakah yang akan merawat, memelihara dan mengembangkan pemikiran-pemikiran beliau yang cemerlang itu? Adakah kader penerusnya yang mampu mencerna lalu mengembangkan dan melaksanakan dalam tataran praxis?
Sebagai orang yang diberi kepercayaan memilah, memilih, mengedit karya beliau, saya merasa bahwa pemikiran itu masih sangat relevan pada masa kini, baik untuk gereja maupun masyarakat. Arus informasi yang begitu deras dan modernitas yang ditandai dengan kapitalisme baru telah menerjang masyarakat. Pola hidup hedonis, jor-joran, pamer kekayaan, hilangnya rasa empati pada sesama manusia merupakan ancaman yang nyata.
Pdt. Dr. SAE Nababan telah memberikan peringatan tentang itu semua. Dalam 3 calon buku lagi yang sudah siap saya kerjakan dan tinggal menunggu terbit, beliau menjelaskan ancaman nyata itu namun juga memberikan petunjuk bagaimana orang beriman harus menghadapinya.
Tiga calon buku itu adalah (1) Kumpulan Kotbah – Panggilan Orang Kristen di Tengah Derasnya Arus Informasi; (2) Kumpulan Tulisan – Tanggungjawab Jemaat di Era Digital; dan (3) Kumpulan Kotbah – Makna dan Hakikat: Advent, Natal, dan Paskah.
Saya berharap setelah beliau, lahirnya tokoh oikumenis dan pemikir teologi yang cerdas namun rendah hati dan penuh penghayatan pada Firman Tuhan, yang tidak hanya mampu meneruskan pemikiran tetapi juga mengembangkan kedua bidang itu. Bukan sekadar meniru gaya berkotbahnya, tetapi mampu mengabdikan diri secara total dalam pilihan hidupnya.
Salam!
