Selamat Jalan Pak Rudolf ….

Edy Rahmayadi dan Rudolf Pardede l Ilustrasi - Repro
Menyesak juga memang membaca berita singkat yang beredar di grup-grup WhatsApp, isinya:  Telah pulang ke rumah Bapa di surga Bapak Drs Rudolf M Pardede jam 21.35 di RS Siloam Medan. Disemayamkan di rumah duka Jl. Selamat Riyadi Medan. Iya, Pak Rudolf telah menghadap Yang Maha Kuasa, Selasa 27 Juni 2023 setelah lama juga menderita sakit. Di RS Murni Teguh juga pernah opname dan lainnya. Saat ketemu dengan Ibu Vera, isterinya, saya ngga bisa membezuknya karena masih dalam perobatan.
Di hari-hari terakhirnya, sobat saya, Bathara Yusuf, relawan, bersama teman-temannya, sudah bersusah payah dan gigih menyiapkan plasma darah (apresias) dan PRC (donor darah). Sudah disiapkan dan sudah ready. Namun, rencana Tuhan yang jadi, dan kita mengucapkan Selamat Jalan Pak Rudol….
Doa-doa terbuka untuk kesembuhannya juga banyak di media sosial,  Dan, setelah berpulang pun, ucapan berduka semakin ramai. Salah satu di antaranya, R. I. P Drs. Rudolf M Pardede, ex. Gubernur Sumut isteri Vera Tambunan selasa 27 Juni 2023 jam 21.00 di RS Siloam Medan, “Berbahagialah mereka yang mati di dalam Tuhan, agar mereka beristirahat dari lelahnya dan segala perbuatannya menyertai mereka” (Wahyu 14:13) : “,,,kita hanya melihat rupa bayang bayang dalam cermin selama ini, tetapi nanti di Samayim Surga kita melihat muka dengan muka,,, ” (I Kor. 13:12) berita langsung dari isterinya ny Vera Tambunan. Tuhan Yesus memberi Penghiburan keoada semua keluarga dan handaitolan. ‘Berbahagialah mereka Yang berduka cita karena mereka akan dihibur” (Mat. 5:4)> Ini doa Pdt. Mis. Ev. Daniel Pardede.
Mediadelegasi, pertama sekali saya baca dan sudah memublikasi kepergiannya dengan judul : Mantan Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Rudolf Matzuoka Pardede meninggal dunia dalam usia 82 tahun di Medan, Selasa (27/6) malam. Lengkapnya, Informasi yang dihimpun Mediadelegasi, almarhum meninggal dunia di Rumah Sakit Siloam Medan sekitar pukul 21.35 WIB setelah sebelumya sempat menjalani perawatan intensif.

Rudolf Pardede lahir di Balige, Kabupaten Toba, Sumut pada 4 April 1942, meninggalkan seorang istri bernama Vera Natarida Br Tambunan dan empat orang anak, masing-masing Yohana Pardede (almarhumah), Beby Fedy Camelia Pardede, Salomo Tabah Ronal Pardede dan Josua Andreas Pardede.

Mantan Wakil Gubernur Sumut ini dilantik menjadi Gubernur Sumut pada 10 Maret 2006 setelah menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur menggantikan Tengku Rizal Nurdin yang meninggal dunia akibat kecelakaan pesawat Mandala pada 5 September 2005. Gubernur Sumut ke-14 dan pertama dari kalangan sipil sejak pemerintahan Orde Baru ini pernah menjabat sebagai Ketua DPD PDI Perjuangan Sumut tahun 2000-2010.

Rudolf Pardede adalah salah satu putera dari pengusaha terkenal almarhum TD Pardede dan Hermina Br. Tambunan. TD Pardede semasa hidupnya pernah menjabat sebagai Menteri Berdikari di era pemerintahan Presiden Sukarno tahun 1964. D|Red-04K

Wikipedia yang saya kutip menulisnya sebagai berikut:
Rudolf Pardede
Official Portrait of Rudolf Pardede as the Governor of North Sumatra (cropped).jpg
Gubernur Sumatra Utara ke-14
Masa jabatan
5 September 2005 – 16 Juni 2008
(Pelaksana Tugas sampai 10 Maret 2006)
PresidenSusilo Bambang Yudhoyono
PendahuluTengku Rizal Nurdin
PenggantiSyamsul Arifin
Wakil Gubernur Sumatra Utara ke-5
Masa jabatan
16 Juni 2003 – 5 September 2005
PresidenMegawati Soekarnoputri
Susilo Bambang Yudhoyono
GubernurTengku Rizal Nurdin
PendahuluAbdul Wahab Dalimunthe
PenggantiGatot Pujo Nugroho
Ketua DPD PDI Perjuangan Sumatra Utara
Masa jabatan
2000 – 2010
Informasi pribadi
Lahir4 April 1942 (umur 81)
BaligeTapanuli UtaraSumatra Utara
Partai politik  Gerindra
Suami/istriVera Natari br. Tambunan
Orang tua
ProfesiPolitisiPengusaha
Tanda tangan Rudolf Pardede pada prasasti di HKBP Gedung Johor, Medan

Drs. Rudolf Matzuoka Pardede (lahir 4 April 1942) adalah Gubernur Sumatra Utara di Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Ketua DPD PDIP Sumatra Utara. Saat ini Rudolf menjadi anggota Dewan Pembina Partai Gerindra.[2]

Dalam riwayat hidup yang disampaikan pada saat pencalonan disebutkan bahwa ia tamat SD di Medan pada tahun 1954, SMP di Tanjung Pinang (tamat tahun 1957), SMA di Sukabumi (tamat tahun 1960) dan pendidikan sarjana ekonomi di Jepang (tamat tahun 1966), dan pada waktu menduduki kursi pelaksana Gubernur, terjadi polemik berkepanjangan berkaitan kebenaran ijazah dan asal usulnya (berkaitan dengan sekolah yang dilalui).

Dari pernikahannya dengan Vera Natari boru Tambunan, ia memperoleh empat orang anak: Yohana Pardede (almarhumah), Beby Fedy Camelia Pardede, Salomo Tabah Ronal Pardede, dan Josua Andreas Pardede.

Rudolf adalah putra Tumpal D. Pardede, seorang wirausahawan Sumatera Utara yang mempunyai usaha di berbagai bidang seperti perhotelan dan tekstil. Ia adalah pemimpin kelompok usaha keluarga ini yang bernama Pardedetex.

Rudolf menggantikan Gubernur Sumatera Utara, Rizal Nurdin yang tewas karena pesawat yang ditumpanginya jatuh pada tanggal 5 September 2005. Sebelumnya ia adalah Wakil Gubernur Sumatra Utara. Dari September 2005 hingga 8 Februari 2006, jabatannya adalah pelaksana harian Gubernur Sumatera Utara. Melalui Keputusan Presiden No. 27/2006, ia dikukuhkan sebagai Gubernur.

Rudolf ditetapkan sebagai Pelaksana Tugas Gubernur Sumatera Utara sesuai Keppres RI Nomor 27/ M Tahun 2006 tanggal 8 Februari 2006 tentang Pemberhentian Gubernur Sumatra Utara dan Pengangkatan Wakil Gubernur Sumatra Utara menjadi Gubernur Sumatra Utara.

Berjuang di Tengah Gelombang

Lebih keren memang jika Rudolf disebut Berjuang di tengah Gelombang. Perjuangan dan kiprahnya di PDI maupun PDIP cukup besar dan nyata. Ketika Soeryadi ber-kongres di Medan, Pak Rudolf Pardede mempersilakan Megawati Soekarnoputri bersama suami Taufik Kiemas menmginap di hotelnya, Hotel Danau Toba Internasional. Hal mengagetkan ketika itu karena Pak Taufik dan Ibu Mega tidak sejalan dengan penguasa.

Saya sempat berkelakar dengan teman-teman ketika itu, kapan listrik dan air ke hotel ini terganggu. Tapi semuanya berjalan baik dan aman-aman saja.

Ketika terpilih menjadi Ketua DPD PDIP Sumut pun, perjuangan Pak Rudolf cukup melelahkan terlebih ketika sudah menjadi ketua, saat memimpin konferensi-konferensi cabang, baik di Medan, Labuhan Batu, Karo, Taput dan lainnya, nyaris tidak berjalan mulus walau ending-nya berjalan sesuai mekanisme partai.

Perjuangan Pak Rudolf menjadi wakil gubernur, pelaksana tugas gubernur dan gubernur, juga ngeri-ngeri sedap karena ada demon, walk-out dan sebagainya. Namun semuanya berakhir dengan indah. Memang indah pada waktunya…… ***

Efendy Naibaho

Pos terkait