Indra Nababan, Suara Kritis yang Tak Pernah Diam

Indra Nababan

BERITA wafatnya Indra Nababan (saya biasanya memanggilnya Bang Indra) pada 20 Juli 2025 menyebar cepat di berbagai grup WhatsApp. Infonya, beliau meninggal subuh setelah menjalani perawatan sekian lama di salah satu rumah sakit di daerah Jakarta Timur, dalam usia 84 tahun. Disemayankan di Rumah Duka Ukrida Jakarta Barat dan dimakamkan di Pemakaman Keluarga di Siborong-borong, Sumatera Utara, (Selasa, 22/7/2025). Saya menyesal tak bisa berkunjung, menyatakan simpati duka kepada keluarga, sebab kebetulan sedang berada di luar kota.

Bagi saya, Bang Indra adalah sosok yang menarik dan unik; keras tapi mengagumkan. Saya bertemu secara langsung saat saya mulai berkunjung di Yakoma PGI. Tepatnya kapan, saya agak lupa. Tapi nama dan reputasinya sudah lebih dulu saya dengar sejak awal tahun 1990-an, ketika saya masih kuliah di STT Jakarta (Kini STFT Jakarta). Saat itu sedang ramai soal kasus HKBP, konflik antara gereja dan negara (Rezim Orde Baru Soeharto) yang menarik perhatian luas. Di tengah gejolak itu, nama Bang Indra muncul sebagai salah satu suara paling keras dan lantang dalam membela gereja. Ia tidak gentar melawan kekuasaan ketika merasa ketidakadilan sedang berlangsung.

Bacaan Lainnya

Bang Indra memang dikenal banyak orang karena sikapnya yang keras, kata-katanya yang tajam, dan gayanya yang terus terang. Ia bukan tipe yang suka membungkus kritik dengan senyum. Ia akan berkata apa yang ia pikirkan, langsung, tanpa tedeng aling-aling. Kepada saya pun demikian. Bahkan, Ia sering menyampaikan kritik atau sindiran keras terhadap orang tertentu yang ia tahu saya kenal. Sering kali ia menutup komentarnya dengan kalimat khas, “Kau bilang itu ke dia ya!”, ujarnya dengan logat Batak khas. Kadang membuat saya canggung, kadang juga geli juga. Tapi saya tahu, orangnya memang begitu, dan itu bukan kemarahan, apalagi kebencian. Itu bagian dari caranya menyampaikan kepedulian dan kegelisahannya.

Saya sering bertemu Bang Indra di lingkungan gerejawi dan dalam berbagai forum gerakan oikoumene, apalagi waktu saya bekerja di PGI. Memang kehadirannya tidak selalu nyaman bagi banyak orang. Ia tak ragu menyentil siapa pun: pemimpin gereja, aktivis, pejabat negara, bahkan kawan-kawan seperjuangan sendiri. Kritiknya bisa tajam dan tanpa kompromi, tapi ia tetap menyapa, tetap hadir, dan tidak pernah memutuskan relasi hanya karena beda pandangan.

Ia punya perhatian yang dalam pada rakyat yang tertindas dan tersisih, pada ketidakadilan yang berlangsung di tengah masyarakat, baik di kota maupun di desa. Dalam hal itu, ia agaknya terinspirasi teologi pembebasan dari Amerika Latin. Dalam dirinya, teologi pembebasan bukan semata sebagai wacana belaka, tetapi sebagai panduan moral. Ia hidup dalam semangat itu. Ia resah terhadap kemapanan dan muak terhadap kenyamanan yang membuat orang lupa tanggung jawab sosialnya. Dan karena itu pula, agaknya ia jarang merasa “damai”. Ia selalu punya kegelisahan untuk disampaikan, dan sering kali dengan cara yang keras dan menyentak.

Saya ingat, pertemuan terakhir saya dengan Bang Indra terjadi di Yayasan Komunikasi Matraman atau kami biasa menyebutnya Komunitas Matraman 10. Tempat yang biasa ia datangi untuk duduk, berdiskusi, dan berbagi pikiran dengan banyak senior, mengisi hari-hari tuanya. Saya juga kadang datang ke situ untuk ikut berdiskusi. Saya ingat waktu itu ada sebuah diskusi, kebetulan saya hadir dan Bang Indra juga hadir. Tempat itu memang seperti menjadi rumah diskusi bagi orang-orang yang tak puas dengan keadaan, dan belakangan Bang Indra salah satu penghuninya yang paling aktif. Ia bisa duduk berjam-jam, membahas berbagai macam isu; mulai dari isu teologi, politik, gereja, atau kondisi masyarakat, tanpa lelah. Masih tetap bersemangat meski tubuhnya terlihat mulai lemah karena usia.

Ia punya perhatian yang dalam pada rakyat yang tertindas dan tersisih, pada ketidakadilan yang berlangsung di tengah masyarakat, baik di kota maupun di desa. Dalam hal itu, ia agaknya terinspirasi teologi pembebasan dari Amerika Latin. Dalam dirinya, teologi pembebasan bukan semata sebagai wacana belaka, tetapi sebagai panduan moral. Ia hidup dalam semangat itu. Ia resah terhadap kemapanan dan muak terhadap kenyamanan yang membuat orang lupa tanggung jawab sosialnya. Dan karena itu pula, agaknya ia jarang merasa “damai”. Ia selalu punya kegelisahan untuk disampaikan, dan sering kali dengan cara yang keras dan menyentak.

Kini, kehadiran itu telah tiada. Bang Indra sudah pergi. Tapi sikap kritisnya, kejujurannya yang tanpa riasan dan polesan, dan kesetiaannya pada nilai-nilai keadilan dan pembebasan, akan tetap hidup dalam ingatan banyak orang.

Ia memang tidak mudah dipahami, apalagi disukai semua orang. Tapi saya yakin, siapa pun yang pernah sungguh mengenalnya, akan mengakui satu hal: Bang Indra adalah orang yang konsisten. Ia setia pada apa yang ia yakini benar. Dan ia tidak pernah berhenti menyuarakannya, betapapun keras, tajam, atau menyakitkan itu terdengar. Ia juga adalah orang yang berani, berani menyampaiak kritik dan kebenaran yang ia yakini kepada siapa pun.

Selamat jalan, Bang Indra! Terima kasih untuk semua suara kerasmu. Terima kasih sudah mengingatkan kami untuk tidak puas merasa nyaman, untuk tetap berpikir, dan untuk tidak takut berkata benar, meski tidak semua orang siap mendengarnya.

Manado, 22 Juli 2025

Jeirry Sumampow (Anggota Komunitas Matraman 10 Jakarta)

 

Pos terkait