
Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Telah berpulang ke rahmatullah pada hari ini, 19 Agustus 2025, seniorIbrahim Sakty Batubara, setelah beberapa lama dirawat di rumah sakit untuk keluhan kesehatan yang telah dialaminya dalam beberapa tahun terakhir. Almarhum meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, rekan seperjuangan, dan masyarakat luas sebagai pribadi yang teguh, cerdas, dan penuh dedikasi dalam setiap peran hidupnya.
Sebagai kader Muhammadiyah yang konsisten, almarhum pernah terpilih menjadi anggota Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara melalui Musyawarah Wilayah di Kisaran. Hingga akhir hayatnya, beliau setia mengemban amanah sebagai Ketua Dewan Pakar Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik PW Muhammadiyah Sumatera Utara, menjadi sumber pemikiran strategis untuk kemajuan umat dan bangsa.
Akar perjuangannya tertanam sejak remaja sebagai aktivis Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) di Tapanuli Selatan, tempatnya mengasah dasar-dasar kepemimpinan. Semangat itu terus berkobar ketika menjadi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), di mana beliau berkembang menjadi pemimpin Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) baik di kota Medan maupun tingkat provinsi Sumatera Utara. Kepercayaan rekan-rekan seperjuangan mengantarkannya terpilih beberapa periode sebagai Ketua Umum Dewan Mahasiswa UMSU, membuktikan kualitas kepemimpinannya yang diakui luas.
Di puncak aktivisme mahasiswanya inilah keteguhan prinsipnya diuji. Di era Orde Baru, ketika petugas bersenjata menyerbu kampus UMSU mencari dirinya, almarhum menyambut mereka dengan sikap tenang nan tegas: “Saya tidak bersembunyi. Saya tinggal di sini… Mengapa saya dicari?”. Peristiwa itu berakhir dengan penahanannya selama tiga bulan di Jalan Gandi, Medan, tanpa proses peradilan, bersama sejumlah aktivis lainnya. Semangat kritisnya terus menyala dalam memperjuangkan evaluasi pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 secara murni, termasuk saat memobilisasi rekan-rekannya menyimak pidato kritis Jenderal AH Nasution di Medan.
Tak hanya di dunia aktivisme, kedalaman intelektualnya terpancar melalui karya akademisnya yang visioner. Skripsi Sarjana Ushuluddin di IAIN Sumatera Utara (kini UIN Sumut) berjudul “Hijrah dari Perspektif Politik” menjadi bukti kecemerlangan analisisnya. Dengan merujuk pada Piagam Madinah sebagai konstitusi politik pertama yang menegakkan kesetaraan antarumat, konsep “Ummatan Wasaṭan” dalam Al-Qur’an, teori “Protes Aktif” Ali Shariati, serta pendekatan sosiologis-historis Ibnu Khaldun, almarhum membedah Hijrah Nabi Muhammad SAW sebagai strategi transformasi sosial-politik. Beliau menegaskan Hijrah bukan sekadar migrasi fisik, melainkan revolusi struktural yang membangun negara berdaulat berbasis kesepakatan sosial, tata kelola inklusif multikultural, dan model perubahan sistemik. Karya brilian ini—yang lahir jauh sebelum kajian serupa marak di Indonesia—menjadi fondasi pemikiran yang konsisten mewarnai seluruh perjalanan hidupnya.
Kepekaan sosialnya telah muncul sejak masa SLTA, ketika keresahannya atas penindasan di Palestina membuatnya tak bisa fokus belajar. Keahlian menulisnya yang tajam terasah melalui karier jurnalistiknya sezaman dengan Bersihar Lubis. Selanjutnya, sebagai dosen Pancasila, beliau memukau mahasiswa dengan penjelasan mendalam tentang sejarah perumusan Pancasila, Piagam Jakarta, atau peristiwa Rengasdengklok yang disampaikan dengan lugas dan diselingi humor khas.
Pasca Reformasi 1998, almarhum memutuskan terjun ke dunia politik dengan membangun jaringan Partai Amanat Nasional (PAN)—partai yang didirikan Bapak Reformasi Indonesia, Prof. Dr. H.M. Amien Rais, M.A.—di Kota Medan. Karier politiknya berkembang secara sistematis dan berjenjang: di tingkat kota Medan sebagai anggota DPRD sekaligus Ketua DPD PAN, kemudian naik ke tingkat provinsi sebagai anggota DPRD Sumatera Utara dan Ketua DPD PAN Sumatera Utara, hingga akhirnya mencapai tingkat nasional sebagai anggota DPR-RI dan pengurus DPP PAN.
Sebagai anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara, komitmennya pada pelayanan publik terukir jelas. Suatu kali usai mengunjungi sekolah yang membutuhkan pengembangan fisik di Medan, beliau berhasil mengalokasikan dana APBD untuk perbaikan sarana belajar. Ketika proyek selesai, para perwakilan sekolah datang ke rumahnya membawa amplop berisi Rp 25.000.000 sebagai “ucapan terima kasih”. Dengan senyum tenang, almarhum menyerahkan kembali uang itu sambil berkata: “Saya terima dengan senang hati, dan dengan tulus saya sumbangkan untuk kemajuan sekolah kita. Tolong diantarkan kwitansi penerimaan besok”. Sikap lugas ini menjadi bukti tak terbantahkan bahwa baginya, amanah rakyat tak ternilai harganya.
Sebagai guru bangsa sejati, almarhum tak hanya berjuang sendiri. Melalui pendekatan mentoringnya yang mengutamakan prinsip tut wuri handayani—seperti terlihat saat membimbing junior dengan penuh kesabaran “layaknya berkebun”—ia melahirkan generasi pemimpin berkualitas yang kini menjadi tulang punggung demokrasi Sumatera Utara. Di antara kader politik yang tumbuh dari bimbingannya adalah Adi Munasib, Parluhutan Siregar, Putrama Al-Khairi, Kamaluddin Harahap, Aswan Waruwu, Muslim Simbolon, dan sederet nama lain yang melanjutkan estafet perjuangannya. Mereka adalah monumen hidup yang membuktikan warisan terbesar seorang pemimpin sejati: regenerasi kepemimpinan yang berkarakter dan berintegritas.
Bagi para junior dan rekan seperjuangan, Ibrahim Sakty Batubara lebih dari sekadar mentor. Keistimewaannya sebagai teman sejati yang mampu menjadi tempat curahan pikiran tanpa hambatan, bahkan menebak perasaan yang belum terucap, telah menciptakan ikatan abadi dalam ingatan kolektif.
Kepergian almarhum adalah kehilangan besar bagi bangsa. Semangatnya untuk Sumatera Utara, kedalaman wawasan, keteguhan prinsip, serta kehangatannya sebagai sahabat dan guru akan terus hidup dalam sanubari yang pernah disentuhnya—terabadikan melalui karya, kader, dan teladan integritas yang tak lekang zaman.
Allahummaghfirlahu, warhamhu, wa’afihi, wa’fuanhu.
Semoga Allah SWT mengampuni segala dosanya, merahmatinya, memaafkannya, dan melapangkan kuburnya. Amin. ***
