Catatan dari Medan : Dr.Abidin
Senang sekali jika setiap menyinggahi suatu kota, berkesempatan menyapa kawan lama. Senin pagi 24 November 2025, saya masuk ke halaman rumah senior, mantan dosen saya, sekaligus sahabat, ibu Drg.Tan Gek Nio. Dari halaman rumahnya di kawanan Medan Baru, saya telpon, “hallo, saya sedang berada di depan rumah jl.S.Parnan 22A Medan, di depan rumah ada plang praktek tertulis Dokter Gigi Tan Gek Nio” kata saya mencandai.
Langsung yang di dalam tertawa menyebut namaku. Aku keluar, katanya. Pembicaraan hangat penuh tawa sambil berdiri di halaman dimulai dengan pernyataan “Wah sudah 30 tahun kita tak jumpa yaa”.. Pertemuan terakhir kami tahun 1994, ketika saya mendapat tugas promosi jadi Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Labuhan Batu, Sumatera Utara. Apalagi tahun 2005, saya promosi lagi ke Kementerian Kesehatan.
Perkenalan pertama, saat saya Koas pada Departemen Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran USU Medan sekitar tahun 1981 (saya FKUSU Angkatan 1976). Rekan-rekan Koas di Dept Kedokteran Gigi selalu cemas. Kepala Departemennya Drg.Tan Gek Nio “killer”, stafnya “keras”. Selalu Koas yang ujian di akhir stase harus HER alias mengulang Koas, 2 minggu. Berat dan Penasaran. Rekanrekan merasa berat karena memang aktifitas belajarnya lumayan tinggi karena banyaknya pasien dan tugas-tugas termasuk, isi status lengkap, membuat laporan, presentasi dan responsi. Penasarannya, kok belajar 32 gigi saja repot.
“Keanehan terjadi”, saya yang biasa-biasa saja. Selesai ujian praktek dan responsi (tanyajawab), saya lihat ibu Kepala Departemen Kedoktera Gigi, Drg.Tan Gek Nio menandatangani Buku Evaluasi, itu artinya saya LULUS. Saya tatap beliau penuh tandatanya. “Heran kau ya”, katanya dengan logat batak nya yang kental, sekalipun beliau suku Tionghoa, asal Sibolga.
Gegerlah sebagian rekan-rekanku, kok bisaaa.. Itu membuatku penasaran selama ini. Dan pagi ini, Itulah pertanyaan yang saya ajukan dihalaman rumahnya. Beliau tersenyum. Dalam jawabannya ternyata ada kisah di belakangnya. Beliau mengatakan sebenarnya saya ingin memberikan pendidikan kepada semua orang termasuk kepada staf saya dan staf pengajar katanya. Saya dapat khabar dari sana-sini bahwa mereka terlalu keras menghadapi para coas, kadang pakai kata-kata yang agak kasar.
Diam-diam itu saya amati diruang praktek. Saya melihat kamu, dalam situasi tegang melayani pasien, ditanya macam – macam oleh Dosen pembimbing di depan pasien, tetap tenang dan terkendali. Bagi saya itu penting untuk setiap seorang calon professional, tenang saat dalam tekanan. Duh lega jawabannya, soalnya masih banyak yang lebih pintar.
Professionalitasnya sebagai Dentist, saya dapat feedback dari istri saya, saat singgah berobat gigi mau menuju suatu acara Resepsi. Setelahnya istri saya, Haslinda Abidin mengatakan “Hebat Dokter itu, Lipstik saya tidak rusak walaupun mulut saya dan gigi saya ber-ulang-ulang diubek-ubek”.
Saya cari dari Google, tertulis “Drg.Tan Gek Nio is a qualified dentist practicing in Medan, offering professional dental care”. Membenarkan Haslinda. Lengkaplah Dokter Tan Gek Nio ini, bukan The Killer, tetapi Profesional Tulen yang kini jadi sahabatku.
Drg.Tan Gek Nio kini berusia 86 tahun. Suaminya Dr.Leo Hosianto, sudah lama mendahului, dulu sempat menjadi staf sekaligus sahabat, saat saya menjabat Kepala Seksi Rujukan Kanwil Depkes Sum.Utara di Medan tahun 1990-1994. Kemudian dia komentari kegiatan saya terkini banyak terkait Kelanjutusiaan atau ke-Lansia-an. Saya katakan isu ini harus kita angkat dan perjuangkan.
Pemerintah harus kita bantu, dimulai dari diri kita, yang belum menjadi lansia maupun yang sudah jadi lansia.
Dari data prevalensi Lanjut Usia Indonesia yang dikumpulkan Perkumpulan Ahli Gerontologi Indonesia, diketahui saat ini ada sekitar 11% atau 30 jutaan penduduk Indonesia adalah berusia diatas 60 tahun. Dengan kondisi cukup
memprihatinkan. Hanya 4% lansia Indonesia yang hidup sehat beraktifitas tanpa makan obat .
Eh, langsung disela olehnya, termasuk akulah itu katanya dengan semangat. Decolgen pun tak pernah kumakan !!, katanya.
Wah, ini lansia unggul, pikirku. Muncullah beberapa pertanyaanku. Katanya seumur hidupnya walaupun punya 9 anak, dan kini dengan 7 cucu, tidak pernah pakai Asisten rumah tangga (pembantu), semua dikerjakan sendiri,
hingga naik kelantai 2 atau 3 untuk menjmur kain dan membersihkan. Itulah olahragaku. Makanku tak banyak. Iya pula pikirku, tubuhnya sama saja seperti dulu, 30 tahun yang lalu.
Kami bertemu lagi di Café Belmondo, Ompung Tan Gek Nio bawa cucu Farrel Venedict yang calon Dokter, sedang kuliah di Fakultas Kedokteran Nusa Cendana, di Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dulu saya sudah diceritakan tentang Farrel, yang membuat saya kagum padanya, karena tekadnya mau belajar sampai begitu jauh. Padahal di Medan banyak Fakultas Kedokteran. Farrel tekad untuk mengenal Indonesia belahan timur dan ingin mengabdi.
Beberapa hari ini menikmati liburan setelah selesai masa Pendidikan hingga Sarjana Kedokteran, sebelum masuk masa super sibuk menjadi Koas. Di Café ternyata, semakin ramai karena ternyata ada pula sejumlah Dokter gigi
juniornya yang lagi reuni. Tentu seperti biasa, begitu ketemu komunitas lanjut usia, saya pun Promosi
pola hidup sehat ala Lanjut Usia.
Semoga semua dalam sehat dan tetap semangat. Be Ageing With Dignity. Jadilah Menua Bermartabat.
Jakarta, Perumahan Depkes Sunterjaya, 26 Nov.2025
Dr.Abidin
Kordinator WAG Menua Bermartabat. ***
