fnews – Pangamat Budaya Batak, Edward Simanjuntak menjelaskan bahwa Batak mengenal penanggalan dalam Parhalaan yaitu Paretongan Ari dohot Bulan. Ini bisa terjadi karena sampai saat ini tidak ada tahun dalam Kalender Batak sebab menetapkan suatu awal dari tahun harus disepakati suatu peristiwa atau acara besar sebagai mana kita ketahui dalam penetapan tahun Masehi.
Edward menyebutkan hal tersebut menjawab fnews, Minggu (14/3) setelah viralnya ucapan Selamat Tahun Baru Batak” SELAMAT TAHUN BARU MA DIHITA GOMPARAN NI BANGSO I – BANGSO BATAK, *** ARTIA SIPAHA SADA, HORAS TONDI MADINGIN, PIR TONDI MATOGU, HORAS..HORAS..HORAS..! sebagaimana diposting VWS Silaen di status facebook-nya, lengkap dengan foto ucapan Selamat Tahun Baru Batak, Minggu 14 Maret 2021.

Filosofi
Parhalaan terdiri dari dua belas bulan yang masing-masing berjumlah tiga puluh hari. Penggunaan kalender Batak tidak dalam rangka penanggalan, melainkan dipakai untuk meramalkan hari-hari ke depan (panjujuron ari). Inilah sebabnya Orang Batak kuno tidak pernah mengetahui angka tahun karena memang mereka tidak pernah menghitungnya, tidak seperti Kalender Masehi, Kalender Hijriyah atau Kalender Cina yang kita kenal dan kita gunakan saat ini. Pada intinya Porhalaan merupakan manifestasi kesadaran orang Batak terhadap fenomena-fenomena alam, perbintangan, gerak matahari, perjalanan bulan yang berputar mengelilingi bumi.
Masyarakat Batak tempo dulu pada umumnya dan orang Toba khususnya meyakini bahwa ada hari dan bulan yang baik yang bersifat menguntungkan. Sebaliknya ada juga yang buruk dan dianggap merugikan atau bahkan bisa mencelakakan mereka. Pengetahuan hari dan bulan yang baik atau buruk dijadikan pedoman untuk menyelenggarakan upacara-upacara adat, keagamaan, dan kegiatan-kegiatan lain yang dianggap penting dalam kehidupan sehari-hari.
Parhalaan kata dasarnya adalah ”hala”. Arti hala menunjuk kepada seekor binatang seperti kalajengking yang mampu mematikan manusia lewat bisanya yang beracun. Bisa pada kalajengking terdapat pada mulut dan ekornya, untuk itu haruslah dihindari. Nantinya, dalam pembacaan Parhalaan, hari yang harus dihindari adalah pada notasi kepala, punggung dan ekor kalajengking. Sedangkan untuk hari baik adalah pada bagian perut kalajengking. Orang biasa tidak akan bisa membaca notasi-natasi tersebut. Yang bisa membaca dan menafsirkannya hanyalah Datu. Setiap Datu berbeda-beda dalam menafsirkan Parhalaan, mengingat yang membuatnya juga adalah si Datu itu sendiri. en
