MP yang Sederhana, Jalan Sendiri dari Sibolga ke Toba

MP di acara GMKI di Sibolga
WAKTU itu mengundang Senior Prof Dr Muchtar Bebas Pakpahan, SH, MA ke Kota Sibolga dalam kegiatan nasional GMKI, tepat setahun yang lalu pada tanggal 2 Februari 2020. Saya bawa Bang Muchtar ke Sibolga dengan “setengah” memaksa karena kesehatan beliau yang sudah menurun.
Dua hari sebelum kegiatan, saya bilang,  “Abangda, abang harus hadir memberikan pandangan dan pemikiran bagi kami kader GMKI dan masyarakat Sibolga-Tapteng. Ada banyak hal yang harus kader teladani sari perjuangan abang sebagai senior dan Tokoh Buruh Indonesia,”
Beliau pun hadir dan saya jemput di Bandara Pinang Sori. Aparat, aktivis buruh dan pejabat daerah banyak yang bertanya, “Apa benar Pak Muchtar Pakpahan akan hadir?”. Saya bilang benar, beliau akan membagikan pemikirannya di forum nanti kepada mahasiswa dan masyarakat Sibolga-Tapteng. Dan benar, pada hari pelaksanaan ruangan penuh menunggu beliau berbicara di forum.
Ada sedikit yang menggelitik hati waktu itu, jadi selama 3 hari penuh beberapa aparat dari tingkat provinsi ditugaskan untuk mengawal kegiatan tersebut. Saya bisik-bisik ke salah satunya, “Kenapa abang (aparat) masih di sini (Sibolga)?” Mereka jawab, “kami diberi tugas, untuk mengawal kegiatan dari awal sampai selesai, selama 3 hari.”
Saya spontan menjawab, “takut karena Bang Muchtar ada di kegiatan ini?” Aparat tersebut pun senyum dengan jawaban, “Siapa yang tidak tau Muchtar Pakpahan?” Saya balas lagi, “jangan takut Bang, kita di sini hanya diskusi-diskusi biasa, sesama abang dan adek dalam keluarga besar GMKI. Tidak ada materi lain-lain.” Acara pun berjalan lancar. Bersama Bang Muchtar kami makan bersama, sharing/diskusi, jalan sore, lalu beristirahat selama 2 hari di Kota Sibolga.
Sepulangnya dari Sibolga, karena khawatir, beliau saya antar ke loket angkutan menuju Toba. Saya mau utus beberapa orang untuk mengantar beliau ke Toba, tapi beliau bilang, “tidak usah, saya masih bisa sendiri. Dari dulu saya sudah terbiasa.”
Benar saja, siapa yang tidak kenal beliau? Para agen angkutan di tempat waktu itu bertanya² ke saya, “Itu pak Muchtar Pakpahan?” saya bilang “Iya, itu senior saya Muchtar Pakpahan,”
Akhirnya saya tidak ragu dikala beliau jalan sendiri ke Toba dan kembali beberapa hari kemudian ke Jakarta melalui Bandara Sisingamangaraja XII, Silangit dengan selamat karena para buruh angkutan umum pun kenal nama dan ketokohan beliau.
Itulah beliau, sederhana dan sampai akhir hayat masih konsisten dengan kesederhanaan dan perjuangannya. Selamat jalan senior terkasih, Prof Muchtar Pakpahan. Damailah bersama Bapa di Sorga.
Terima kasih untuk dedikasi, perjuangan dan terlebih ilmu yang selama ini abang berikan kepada kami para juniormu ini, yang kadang kala hanya sekedar berpikir untuk melakukan apa yang abang jalani selama berjuang pun kami tidak sanggup.
Benardo Sinambela
(Kader GMKI)

Pos terkait