Oleh Martua S l Pegiat Politik Sumatera Utara
JIKA kita mengikuti berita – berita tentang pencalonan bacawapres di Pusat, tentu sangat menarik. Tarik menarik dari Koalisi A ke Koalisi B masih bergulir, hangat. Kehadiran kandidat bacawapres itu juga bisa membuat tindak nyaman para ketua umum partai yang bergabung dalam satu koalisi.
Di kalangan pegiat politik di Sumatera Utara masalah wakil ternyata tidak kalah penting menjadi pembicaraan.
Edy Rahmayadi, yang sejak 5 September 2023 meninggalkan rumah dinas Gubernur Sumatera Utara, di Jalan Sudirman, Medan, setelah menyelesaikan jabatannya 1 periode, juga hangat dibicarakan.
Nah, kini beliau semakin intens membangun komunikasi dengan berbagai tokoh agama dan tokoh masyarakat di daerah itu.
Edy Rahmayadi dan salah satu tokoh publik yang semakin disebut-sebut, yakni Mauliate Simorangkir, adalah seorang lulusan Lemhannas RI dan pernah bersama – sama menduduki jabatan level direktur atau esselon 2. Edy Rahmayadi sebagai Direktur Bela Negara Deputi Pemantapan Nilai – nilai Kebangsaan Lemhannas RI dan Mauliate Simorangkir Direktur Pengkajian Internasional Deputi Pengkajian Lemhannas RI.
Edy Rahmayadi dan Mauliate Simorangkir adalah dua sosok yang memiliki geopolitik dan geostrategi-nya, seiring dan sejalan membangun Sumut.
Saya jadi teringat dengan sosok Dr Mauliate Simorangkir, MSi, yang pernah menjadi pejabat Kanwil Depdikbud Sumatera Utara, Kadis Pendidikan Tapanuli Utara dan terakhir menjadi Wakil Bupati Tapanuli Utara berpasangan dengan Dr Drs Nikson Nababan, MSi.
Pengalamannya di lintas sektoral menjadi modal Mauliate membantu Edy Rahmayadi membangun daerah Sumatera Utara.
Kedua tokoh ini malah sangat memahami geopolitik dan geostrategi yang bisa dibuat menjadi “ sleksi atau menjadi kompas ” untuk mengambil kebijakan strategis membangun daerah yang masyarakatnya heterogen ini.
Hubungan mereka juga berlanjut setelah Edy Rahmayadi menjabat Gubernur Sumatera Utara dan Mauliate Simorangkir dilibatkan merancang pembangunan dan diminta memberikan masukan di saat Edy Rahmayadi mengambil kebijakan pembangunan di daerah ini.
Setelah Edy Rahmayadi selesai menjabat Gubsu, kegiatannya semakin gencar membangun komunikasi ke berbagai pihak dan Mauliate Simorangkir diperintahkan untuk menguasai Tapanuli. Menguasai Tapanuli dimaksudkan untuk memahami postur geografi dan demografi SKA ( Sumber Kekayaan Alam ) Tapanuli dan secara baik dan benar agar dalam pengambilan kebijakan ke depan tidak salah arah .
Edy Rahmayadi mengakui, selama menjabat di periode ini, masalah pendidikan, pertanian dan kesehatan serta infrastruktur menjadi catatan khusus dan akan menjadi skala prioritas jika masyarakat memberikan kepercayaan kepadanya memimpin Sumatera Utara di Pilkada Gubsu mendatang.
Menurut hemat saya, jika Edy Rahmayadi berpasangan dengan Mauliate Simorangkir di Pilkada Gubsu tahun depan, diyakini percepatan pembangunan di Sumatera Utara ( Pantai Barat dan Pantai Timur ) akan terbangun sesuai dengan potensi masing – masing wilayah.
Edy Rahmayadi | |
|---|---|
Letjen TNI (Purn) Edy Rahmayadi sebagai Gubernur Sumatera Utara (2018) | |
| Gubernur Sumatera Utara ke-18 | |
| Masa jabatan 5 September 2018 – 5 September 2023 | |
| Presiden | Joko Widodo |
| Wakil | Musa Rajekshah |
| Pendahulu | Tengku Erry Nuradi R. Sabrina (Plh.) Eko Subowo (Pj.) |
| Pengganti | Hassanudin (Pj.) |
| Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat ke-37 | |
| Masa jabatan 25 Juli 2015 – 4 Januari 2018 | |
| Pendahulu | Letnan Jenderal TNI Mulyono |
| Pengganti | Letnan Jenderal TNI Agus Kriswanto |
| Ketua Umum PSSI ke-16 | |
| Masa jabatan 10 November 2016 – 20 Januari 2019[1] | |
| Pendahulu | La Nyalla Mattalitti Hinca Panjaitan (Pjs.) |
| Pengganti | Joko Driyono (Plt.)[2] Iwan Budianto (Plt.) Mochamad Iriawan |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | 10 Maret 1961 Sabang, Aceh |
| Kebangsaan | Indonesia |
| Partai politik | Independen |
| Suami/istri | Dra. Hj. Nawal Lubis |
| Anak | 3 |
| Alma mater | Akademi Militer (1985) |
| Pekerjaan | Tentara, Politikus |
| Karier militer | |
| Pihak | |
| Dinas/cabang | TNI Angkatan Darat |
| Masa dinas | 1985–2018 |
| Pangkat | Letnan Jenderal TNI |
| NRP | 30442 |
| Satuan | Infanteri |
| Pertempuran/perang | Operasi Seroja |
| Penghargaan | Bintang Dharma Bintang Yudha Dharma Pratama Bintang Kartika Eka Paksi Pratama |
Lengkapnya, Letnan Jenderal TNI (Purn.) H. Edy Rahmayadi gelar Datuk Laksamana Naradiraja (lahir 10 Maret 1961) adalah seorang politikus dan purnawirawan perwira tinggi TNI Angkatan Darat yang menjabat sebagai Gubernur Sumatera Utara.
Menurut Surat Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/12/I/2018, tanggal 4 Januari 2018 tentang pemberhentian dari dan pengangkatan dalam jabatan di lingkungan TNI, ia ditetapkan menjadi Pati Mabes TNI AD (dalam rangka pensiun dini). Sebelumnya ia menjabat Pangkostrad menggantikan Jenderal TNI Mulyono yang promosi jabatan menjadi KSAD.
Edy Rahmayadi, merupakan lulusan Akademi Militer tahun 1985 berpengalaman dalam bidang infanteri. Jabatan sebelumnya adalah Panglima Kodam I/Bukit Barisan. Edy Rahmayadi pernah menjabat sebagai Komandan Yonif Linud 100/Prajurit Setia yang bermarkas di Namu Sira-Sira, Langkat, Provinsi Sumatra Utara.
Edy lahir di Sabang, Aceh pada 10 Maret 1961. Ayahnya, Kapten Kal. (Purn.) Rachman Ishaq adalah seorang Prajurit TNI-AU keturunan Melayu Deli yang ditugaskan di sana, sedangkan ibunya keturunan Jawa.
Edy menempuh pendidikan dasar di SD Slako A, Madiun, Jawa Timur tahun 1966-1972. Kemudian ia bersekolah di SMP Angkasa Medan tahun 1972-1975 dan SMA Negeri 1 Medan tahun 1975-1979. Setelah lulus SMA di Medan, ia masuk universitas di Universitas Islam Sumatera Utara. ***
