Dikutip dari Medanbisnisdaily.com, yang menjadi perhatian gereja adalah bahwa persentase kemiskinan di kantong-kantong Kristen dalam catatan kami ada 15 kabupaten. Persentasenya kemiskinan lebih tinggi dari kabupaten lain, yakni 11, 82 persen, bahkan di Nias tingkat kemiskinan mencapai 18 persen,” ungkap Naslindo.
Lima belas daerah Kristen kantong kemiskinan: Nias Barat 22,81%, Nias Utara 21,79% Nias Selatan 16,39%, Nias 15,10%, Gunungsitoli 14,78%, Samosir 11,66%, Tapanuli Tengah 11,50%, Humbang Hasundutan 8,69%, Tapanuli Utara 8,54%, Toba 8,04%, Simalungun 7,87%, Dairi 7,47%, Karo 7,98%, Pakpak Bharat 7,54% dan Pematang Siantar 7,24%.
Semestinya tidak demikian persentase kemiskinan di daerah kantong-kantong Kristen. Daerah-daerah itu memiliki sumber daya alam yang luar biasa, yang ironisnya belum mampu untuk memberikan kesejahteraan. “Maka pertanyaan kritisnya, dimana peran kita? Dimana peran gereja, bagaimana firman yang ditaburkan berbuah kesejahteraan? Inilah yang menjadi perenungan kita, untuk mengentaskan warga gereja dari kemiskinan,” jelas Naslindo Sirait.
Ia mengatakan, kondisi pupuk yang langka, mahal dan terbatas, menjadi keluhan para petani sehari-hari. Petani tidak bisa lagi hanya tergantung kepada pupuk kimia.
PIKI Sumut juga menyoroti perjalanan demokrasi bangsa hingga saat ini. Naslindo menyampaikan pada perhelatan Pemilu 2024 dalam memilih presiden dan wakil presiden, legislatif dan juga kepala daerah, PIKI meneguhkan sikapnya bukan merupakan bagian dari kekuatan politik manapun.
PIKI melihat bahwa momentum demokrasi ini harus benar-benar dijaga dengan aktif mendorong warga gereja menggunakan hak politiknya, dengan mencermati track record dari setiap calon, dan gagasan-gagasan kemajuan yang ditawarkan.
Kemudian dalam refleksi yang sudah menjadi tradisi PIKI tersebut, Naslindo Sirait memaparkan sikap PIKI yang menjadi dasar organisasinya dalam menyikapi berbagai peristiwa yang terjadi. “PIKI mengedepankan sikap berpikiran positif dan dapat menerima semua yang terjadi. Dengan sikap yang demikian, atas semua peristiwa yang terjadi saat ini, kami tidak buru-buru menolaknya, apalagi emosional untuk menyikapinya,” sebutnya.
Sikap itu diambil PIKI berdasarkan ayat firman Tuhan ‘Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil’. “Kami sangat meyakini, bahwa tidak ada peristiwa yang terjadi tanpa seizin Tuhan, dan kami yakin bahwa atas semua peristiwa terjadi adalah alat Tuhan untuk mendewasakan kita. PIKI sebagai organisasi Kristen tidak akan melakukan penolakan-penolakan terhadap kebijakan pemerintah, apalagi melakukan demontrasi di jalanan,” jelas Naslindo.
PIKI tidak hanya melihat fenomena dari setiap kejadian, karena fenomena bisa saja menyesatkan. PIKI melihat segala sesuatu secara rasional dan objektif.
Dengan demikian, PIKI akan terhindar dari jebakan, karena terkadang sesuatu itu kelihatan baik, padahal di dalamnya tidak demikian.
Di akhir refleksi, Dr Naslindo mengapresiasi pemerintah, TNI/Polri, pimpinan gereja dan kepada para tokoh agama dan tokoh masyarakat di Sumut, yang dinilai terus membangun kerukunan dan berbagai aspek pembangunan di Sumut.
“Semoga refleksi ini menjadi perenungan kita untuk kita menjalani tahun 2024 yang penuh tantangan. kami menutup refleksi ini dengan optimisme bahwa tahun 2024 menjadi tahun yang penuh dengan kerukunan, kedamaian dan kemajuan di semua bidang,” pungkasnya.
