Oleh Jimmy Siahaan
LELUHUR Batak Toba mengenal ada tiga sumber yang memberi kehangatan kepada manusia, yaitu matahari, api, dan kain ulos. Mereka percaya, untuk berhubungan ke atas dengan Debata Mulajadi Nabolon serta para leluhur serta orang – orang terdahulu yang sakti dan berjasa, akan dipermudah, dan selayaknya adalah melalui gondang yang dipersembahkan oleh Batara Guru Humundul kelompok Pargoal Pargonci.
Sembah puji kepada Debata Mulajadi Nabolon serta para leluhur dan orang – orang terdahulu yang sakti dan berjasa itu disampaikan dengan tortor, dan pada waktu tertentu dilengkapi dengan ulian.
Sementara turunnya berkah damai sejahtera dari Debata Mulajadi Nabolon ke bawah disimbolkan dengan menyampirkan ulos ke orang bersangkutan, yang disampaikan oleh hula – hulanya atau seseorang yang namarsahala namarhasaktian, atau setidaknya seseorang yang dituakan. Penyampaian ulos atau mangulosi ini harus dibarengi dengan kata – kata bertuah umpasa.
Demikianlah dikisahkan Debata Mulajadi Nabolon menitis kepada Debata Natolu dengan menyandang kuasa mutlaknya. Burung – burung dewa Manuk Hulambujati, Leang-leang Mandi, Leang-leang Nagurasta, dan Untung-untung Nabolon, adalah sesuruhan Debata Mulajadi Nabolon.
Manuk Hulambujati menetaskan Debata Natolu ; Debata Batara Guru , Debata Balasori dan Debata Balabulan. Kemudian menetaskan lagi Siboru Parmeme pasangan Batara Guru, Siboru Parorot pasangan Debata Balasori, dan Siboru Panuturi pasangan Debata Balabulan. Debata Mulajadi Nabolon mewujud dalam Debata Natolu Suhu Natolu Harajaon, Kuasa mencipta Debata ada pada Batara Guru. Kuasa penyelenggaraan kehidupan pada Debata Balasori, dan Kuasa keadilan pada Debata Balabulan.
Sistem Dalihan Natolu itu berjalan juga dalam Natolu Suhu Natolu Harajaon dari Banua Ginjang. Debata Batara Guru punya putri Siboru Deak Parujar. Kesenangannya bertenun di bawah pohon Tumburjati, Hariara Sundungdilangit, Pohon kehidupan, daun – daunnya adalah tondi.
Debata Mulajadi Nabolon mengatur pasangan hidup di antara keturunan ketiga Debata Natolu Siboru Deak Parujar dijodohkan dengan Siraja Odapodap putera Debata Balabulan. Rupanya Siboru Deak Parujar tidak berkenan. Dia menyingkir memakai benang dari hasoli, salah satu dari alat tenunnya.
Di dalam hasoli itu masih tergulung benang yang baru dipindah dari hulhulannya. Sebelum matahari terbit dia melemparkan hasolinya lewat jendela kamarnya ke bawah, dan kemudian sambil berpegang pada benang tenunnya itu dia meluncur ke bawah ke arah tempat gelap yang belum pernah diketahuinya, menjauhkan dari Siraja Odapodap.
Angin kencang membuat Siboru Deang Parujar terayun-ayun di benangnya. Tidak tahan dia memohon bantuan ke Sileangleang Mandi agar menyampaikan permohonannya segenggam tanah kepada Debata Mulajadi Nabolon. Dari segenggam tanah Siboru Deak Parujar menempa hamparan luas tepat berpijak. Itulah awal terjadinya portibi Banua Tonga.
Naga Padoha, putera Debata Balabulan yang lain yang dijodohkan dengan Nai Rudang Ulubegu. Tetapi Nsi Rudang juga sama halnya tidak suka juga kepadanya. Naga Padoha mengguncang hamparan pijakan itu, dengan maksud ingin perhatian dan dapat mendekati Siboru Deak Parujar.
Siboru Deak Parujar memohon lagi segenggam tanah, sebilah pedang dan saong untuk menghindari terik delapan matahari yang diciptakan Mulajadi Nabolon untuk mengeringkan samudera yang melingkupi Banua Tonga. Dengan Pedang itu Siboru Deang Parujar menaklukkan dan selanjutnya merantai Naga Padoha.
Setelah situasi terkendali, Siboru Deak Parujar memohon bibit-bibit tumbuhan dan hewan. Debata Mulajadi Nabolon mengirim semua permohonannya itu dalam sebuah tabung bambu, tetapi ke dalamnya disusupkan juga Siraja Odapodap.
Siboru Deak Parujar dipesankan agar menenun sehelai Ulos Ragidup kemudian membungkus tabung itu. Setelah ulos dililitkan, Raja Odapodap dalam penampilannya yang menarik keluar dari dalam tabung. Siboru Deak Parujar akhirnya menerima Siraja Odap-odap sebagai pasangan hidupnya. Mereka hidup bahagia hingga melahirkan manusia pertama di bumi. Raja Ihatmanusia dan Siboru Itammanusia.
Waktu berjalan, kehidupan berlangsung harmonis, Siboru Deak Parujar dan Siraja Odap-odap memutuskan naik kembali ke Porlak Sisoding di Banua Ginjang dengan menaiki benang yang dulu dipakainya turun. Siboru Deak Parujar berpesan kepada anak – anaknya, “Kalau kalian rindu, pandanglah bulan saat purnama, kalian akan melihatku sedang bertenun.”
Mitologi ini menceritakan bahwa bertenun itu sudah ada bahkan sejak awal kehidupan. Dan bertenun merupakan pekerjaan halus bagi seorang puteri, dan secara simbolik memberi jalan perlindungan bagi kaum perempuan Batak. Benang menjadi sarana bagi turun naik dari Banua Ginjang ke Banua Tonga.
Dalam tradisi Batak, seorang pemimpin yang bijak dan adil disebut juga Parninggala Sibolatali. Memilah tali benang kecil halus secara hati – hati hingga ujung tetap utuh tidak putus. Demikian juga dalam situasi menyelesaikan perkara di antara warganya, aduan ditampung, didengar, diteliti secara lengkap, dipertimbangkan dengan hati – hati, dan diputuskan dengan timbangan yang adil, seakan – akan tetap bersatu.
Selain itu benang juga punya makna sakral dan ampuh dalam bentuk Bonang Manalu. Benang tiga warna, Sitolu Borna yaitu Putih, Hitam, dan Merah. Sejatinya tiga warna itu melambangkan juga hal utama bagi manusia. Kehidupan yang bersemangat dalam warna merah, bersih suci dalam warna putih, dan agung kuasa berdaya guna dalam warna hitam. ***
