Catatan Selwa Kumar
WORKSHOP Manuskrip Batak di Kulit Kayu Alim dilaksanakan di Museum di Medan, Kamis 6 January 2022 dengan narasumber Drs Manguji Nababan, dari Batakologi Universitas HKBP Nomensen, Jelita Tambunan, mahasiswa seni rupa Unimed, Pemuda Pelopor Sumut.
Manguji mengatakan dahulu para cendikiawan Batak menulis tentang ilmu pengetahuan, tentang pengobatan, ilmu perbintangan, turi-turian dan lainnya.
Ada beberapa wadah untuk menuliskannya dengan menggunakan Aksara Toba, Karo, Mandailing, Angkola dan Pakpak. Ada kayu alim untuk menuliskan pengobatan, ilmu hitung, cerita – cerita sejarah. Untuk menuliskan tentang astrologi, bambu berisi tentang ratapan.
Aksara Toba berasal dari Aksara Palawa, Aksara Palawa ke Toba berasal dari Kerinci, Mandailing, Angkola. Bahasa Batak dipengaruhi Bahasa Sansekerta, Palawa, Arab, Parsi, Ibetani. Banyak kata – kata dalam Bahasa Batak berasal dari bahasa tersebut.
Manuskrip Toba berkembang sebelum Belanda datang. Banyak Naskah Toba yang bagus dibawa ke Eropa oleh penjajah dengan merampas atau melakui perdagangan gelap, Banyak Naskah Batak dibakar. B
Iwan Azari dari Unimed mengatakan naskah – naskah itu ada dalam suatu warisan budaya yang berhubungan dengan ekosistem. Yaitu kulit kayu, bambu. Manuskrip – manuskrip di Toba ditulis di kulit Kayu Alim yaitu pohon gaharu.
Pohon Gaharu di Toba dikatakan Pohon Alim. Pohon Gaharu dulu banyak dijumpai di Samosir, Pakat dan Humbang, sekarang sudah susah ditemukan. Satu lagi Wadah Naskah Kulit Kayu Daulang, sekarang tidak dijumpai lagi di Sumatera.
Manguji mengatakan banyak kata – kata dalam naskah yang dulu tidak ditemukan kata – kata di masyarakat sekarang. Naskah – naskah Toba dulu tidak ada tanda baca.
.Jelita Tambunan, seorang anak perempuan, mahasiswa Seni Rupa Unimed dan Pemuda Pelopor Sumut yang mengeluti penulisan naskah dengan Aksara Toba dengan Bahasa Toba sekarang. Banyak orang memesan Naskah naskah Aksara Toba yang berisi tulisan tentang Selamat Ulang Tahun, pesta – pesta dan Cerita cerita.
Banyak Anak Milenial menggemari Naskah Naskah yang ditulis dan dilukis Jelit. Jelita melukis di Atas Kulit Kayu Alim. Jelita bersama orangtuanya mencari Pohon Alim di Tiga Balata, Pohon Alim yang besar dikupas kulitnya. Sampai di rumah dianginkan di tempat yang lembab.
Dalam kamar mandi dan rumput yang basah, Kulit Kayu Alim yang lembab bisa dikupas, Kalau kering itadk bisa. Sesudah dikupas dipukul pakai martil kayu. Kalau sudah berbentuk buku dioleskan pewarna. Kalau dulu memakai Kayu Baja yang dibakar bubuknya dicampur jeruk nipis dan air tebu untuk perekat.
Pensil untuk menuliskan Kayu Ingur. Kayu Ingur bisa menyerap dapur. Pewarna dulu digunakan noda – noda hitam di periuk lalu dikorek, Bubuk Hitamnya dijadikan Tinta. Sebelum ditulis di Kulit Kayu Alim, diasapi di atas dapur. Sebagai Anti Rayap di kulit Kayu.
Jelita yang Mahasiswa UNIMED kalau liburan kuliah pulang ke Tomok menulis, melukis naskah – naskah dengan Aksara, Gorga Toba. Naskah – naskah karya Jelita banyak diminati turis luar dan dalam negeri.
Terkait kegiatan ini, sangat penting adanya perhatian Pemkab Samosir untuk mempromosikannya, membuka Balai Pendidikan ,Pelatihan Penulisan Naskah Aksara Toba di Tomok dan Pangururan agar Penulisan Aksara Toba menjadi Kurikulum di SMP Samosir .
Sangat penting dukungan Bupati melalui Dinas Pendidikan dan Pariwisata. Salah satu yayasan yang konsern terhadap perkembangan budaya di antaranya Yayasan Pusuk Buhit agar menjadi mediator antarBupati dan Jelita Tambunan. ***
