Kaulah Joharis Lubis, Kawanku….

Joharis Lubis
Oleh Shohibul Ansor Siregar
SUATU ketika dari Markas Angkatan 66 di Jalan Multatuli Medan, ia beri saya tumpangan dengan mobil Jip Katana Birunya menuju kampus UMSU. Beberapa menit setelah drive, ia memutar cassette: Bohemian Rhapsody dari Queen dengan vokal khas melengking Freddy Mercury.
Easy come, easy go, will you let me go? No, we will not let you go (let him go) We will not let you go (let him go) We will not let you go (let me go) Will not let you go (let me go) Will not let you go (never, never, never, never let me go)
No, no, no, no, no, no, no.” Saya pinjam cassette itu dan tak saya kembalikan. Ia tak permah memintanya.
Itu sekelumit kenangan bersama kawanku, alm Dr Joharis Lubis.
Dia kawanku. Sekitar pukul 12 lebih pada Rabu Siang, pekan lalu, saya menerima telefonnya. Saatnya tak tepat, karena saya sedang berbicara penutup menjelang berpisah dengan beberapa orang dalam sebuah pertemuan yang digagas oleh beberapa orang sebelumnya. Akibatnya saya hanya menjawab OK dan menegaskan, ya saya tahu Joharis Lubis, ketika beliau menegaskan diri karena mungkin khawatir nomornya tidak ada dalam hp saya.
Nanti kita bicarakan serius, saya tegaskan kepadanya sembari berharap ia faham bahwa pembicaraan dengannya segera harus diakhiri. OK bang, jawabnya dan menutup dengan salam.
Ia merujuk sebuah tulisan saya yang dia temukan dalam platform tertentu dan seperti biasanya, untuk kepemihakannya atas sebuah sikap menghadapi sebuah kontroversi, bahasanya sangat tegas dan bahkan kerap provakatif. Hocus Scopus, sebuah artikel yang saya soroti tentang plagiarisme dan jerat kekulian pada dunia pendidikan tinggi akibat obsesi tanpa makna di bawah dikte neoliberalisme.
Ada tiga isu di sini: Biaya, bahasa, dan budaya. Semua digulung habis oleh neokolonialisme yang dahsyat. Tak pelak lagi, dekolonisasi perguruan tinggi memang sangat serius dan mendesak.
Saya memang berniat menelefon ulang dia begitu bebas dari situasi yang saya maksudkan tadi. Tetapi saya lupa melakukan itu karena diskusi pasca event berlangsung dengan kolega saya sambil berjalan menuju kampus. Akhirnya tak ada pembicaraan ulang dengan Joharis.
Tak berjarak lama Joharis menampilkan foto-foto wisuda pendidikan akhir beliau (doktor). Foto-foto itu memesankan banyak hal dan berisi uraian panjang yang tak mesti dibahasa lisan atau bahasa tulisankan. Tetapi itu sebuah capaian besar justru pada penghujung masa tugas sebagai akademisi.
Saya sendiri memang sering memanggilnya profesor dalam pertemuan resmi tanpa menghiraukan status formalnya, karena profesinya sebagai dosen dan kapasitas narasinya yang cukup bernas.
Ia pasti akan selalu fokus pada sebuah target eksplisit ketika berbicara tema tertentu. Kadang target itu terasa cukup pragmatis bagi saya, yang tak jarang membuat kami “pisah jalan” dengan keyakinan penuh atas pendirian masing-masing.
Beberapa akun memberitakan kepergiannya. Ada yang menyertakan foto lama dan foto terakhir setelah wafat. Sesuatu yang memaksa pikiran mengukir sesal, mengapa tak melanjutkan pembicaraan yang dijanjikan Rabu pekan lalu itu.
Takdir telah berkata. Pertemuan dalam forum terakhir bersamanya di sebuah cafe sekitar Amaliun menegaskan sikapnya yang tak pernah ngeper (ambivalen).
Saat itu kami bicara mengenai masa depan bangsa yang oleh panitia kegiatan ditengarai sedang dalam krisis dilihat dari ideologi dan masa depan republik.
Kaulah Joharis Lubis, kawanku, yang sikap-sikap kerasmu kerap membuat saya berimajinasi tentang sosok-sosok penting dari Bonjol dalam gerakan purifikasi yang membahana dan masih terus diwarnai kontroversi di antara para analis dan ahli sejarah hingga hari ini.
Kaulah Joharis Lubis, kawanku, yang pertamakali saya kenal saat datang ke rumah saya pada suatu malam di awal tahun 1996. Diskusi tentang banyak hal, termasuk denyut politik yang sudah mulai memburu sebelum reformasi yang meledak meletup dua tahun setelah itu.
Kaulah Joharis Lubis, kawanku, yang bersama almarhum rekan kita Prof Saiful Sagala ikut merombak AD dan ART Dewan Pengurus Angkatan 66 agar mengakomodasi figur-figur yang bukan pelaku sejarah menjadi pengurus.
Kaulah Joharis Lubis, kawanku, yang bersama Angkatan 66 Sumatera Utara yang dipimpin Dr Zakaria Siregar terlibat langsung dan bertahan selama beberapa bulan di Jakarta, mengawal keputusan di Setneg dan Depdikbud, bersama Prof Saiful Sagala, untuk memastikan sebuah target dalam suksesi kepemimpinan Unimed kala itu. ***

Pos terkait