Saatnya Tano Batak Kembali pada Kearifan Leluhur

Ilustrasi l Repro
formatnews.id – Sepanjang 2024, jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Bali mencapai 6.333.360 orang, sementara yang datang ke Kabupaten Samosir—jantung kawasan Danau Toba—hanya 15.705 orang. Perbedaan ini bukan hanya soal infrastruktur atau promosi, tetapi terutama soal kesetiaan merawat alam sebagai wajah dan jiwa daerah.
Eforus HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) Pdt Victor Tinambunan dalam akun facebook-nya yang dikutip formatnews.id pekan ini, menuliskan masyarakat Bali umumnya sejahtera. Salah satu kekuatan Bali adalah kearifan lokalnya: tanggung jawab suci untuk memelihara hubungan baik dengan alam.
Prinsip itu melahirkan ruang hidup yang terjaga, bersih, dan menenangkan. Sesungguhnya, semangat serupa telah lama hidup dalam budaya Batak sebelum modernisasi perlahan menggerusnya. Kini, sebagian perusahaan dan masyarakat mulai bersikap semakin destruktif terhadap lingkungan, seakan lupa bahwa Danau Toba dan alam sekitarnya hanya dapat memikat dunia apabila alamnya diperlakukan dengan hormat.
Lihatlah, tulis Eforus,  bagaimana Bali merawat simbol-simbol alamnya. Pohon berusia 700 tahun—Bayan Ancient Tree di Banjar Bayan, Desa Tua, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan—dijaga bak warisan suci. Menjulang setinggi sekitar 75 meter dengan diameter yang luar biasa besar, pohon ini menjadi pengingat bahwa alam yang dipelihara dengan cinta akan menjadi daya tarik abadi bagi siapa pun yang datang.
Sudah saatnya Tano Batak kembali pada kearifan leluhur: menghormati tanah, menjaga hutan, melindungi danau, dan menyadari bahwa keindahan yang dijaga hari ini adalah berkat yang akan menghidupi generasi esok. Jika kita merawat Danau Toba setulus itu, dunia akan datang bukan karena promosi semata, tetapi karena alam kita memang pantas dicintai.
Saat baru mendarat kemarin di Bali, tulis Victor Tinambunan,  untuk tiga rangkaian tugas, menemukan tulisan penting di koridor Bandara Sanur yang isinya sebagai berikut: Orang Bali hidup dalam jalinan harmoni yang elok—menyatu dengan alam dan rukun dengan sesamanya.
Tri Hita Karana menjadi napas falsafah hidup mereka, memeluk tiga hubungan yang saling meneguhkan: hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam semesta. Ketiga ikatan ini dirawat agar tercipta keseimbangan, kedamaian, dan kelimpahan hidup. Bagi orang Bali, ketiganya adalah dasar yang kokoh bagi pembangunan yang berkelanjutan dan kehidupan yang tetap lestari.
Sebenarnya Danau Toba tidak kalah dengan Bali. Orang Batak pun punya kearifan lokal yang menjaga hubungan dengan Tuhan, sesama dan alam. Mengapa Danau Toba yang adalah salah satu danau terbesar dan terindah di dunia tetapi tidak dilirik para turis?
Ada yang perlu kita ubah. Terutama mindset yang memperlakukan alam hanya sekadar komoditi yang mengakibatkan kawasan hutan rusak dan Danau Toba menanggung derita karena pencemaran. Masyarakat kita masih perlu lebih disiplin dalam kebersihan dan meningkatkan keramahan.
Menanggapi tulisan Eforus itu, banyak warga memberikan komentarnya, di antaranya Parasian Simbolon yang menulis harapannya semoga perjuangan di tanah Batak bisa sukses bersama masyarakat. Kemudian, Rob Tampz minta agar kita mendukung kelestarian DanauToba, karena UNESCO pada tahun 2023 mempertimbangkan kembali sebagai Geo Park Heritage dunia, karena terancam kelestariannya.
Kejengkelan digambarkan Lamsu An,  hariara na ditambak saja sudah habis ditebang. Anita BorPak mengomentari, kesalahan awal masyarakat setempat kurang tegas dalam melestarikan Danau Toba sebagai tujuan wisata dan kelestarian budaya, alam lingkungan. Bali sangat tegas bahkan pemerintah setempat harus menyesuaikan aturan dengan pandangan masyarakat budaya dan alam lingkungannya.
D.m. Michler Butarbutar dari Tomok menuliskan, di hutan Kecamatan Parlilitan hingga ke Kawasan Tele, pernah ditemukan kayu alam berdiameter 7 meter lebih, namun ketika korporasi kayu ada di Tapanuli, kayu-kayu itu habis ditebang.
Bonifasiusharefa Harefa menulis  bahwa harmoni dengan alam dan sesama membawa keindahan tersendiri. Sebaliknya, Anggiat M Sitorus menulis, karena mulai dari Pemdes dan pemda…saling tolong menolong merusak alam sekitar Danau Toba…Darah malingnya sudah turun temurun….Sementara Timbul Tambunan menulis, tidak adanya  lagi pohon-pohon besar di Hutan Tano Batak sebagai penyangga tata guna air dan mengatur suhu udara. Semua telah habis ditebang untuk keuntungan korporasi.
Sebaliknya Erwin Naibaho menulis, maaf ya, masyarakat di Bali memang sangat ramah bagi pelancong. Sekalipun ada yang ingin disampaikan tentang hal – hal atau budaya, tradisi di sana mereka dengan sabar menyampaikannya. Itulah mungkin juga salah satu mengapa Bali dilirik menjadi destinasi wisata turis mancanegara termasuk turis lokal.
Semoga masyarakat dan pemerintah di seputaran Danau Toba cepat berbenah, tidak hanya alam yang diperbaiki, namun kepada infrastruktur dan SDM yang lebih arif, ujar Erwin. ***
Efendy Naibaho

 

Pos terkait