Add-In/On/Plug-in dan New Normal

Ilustrasi, repro

Saut Marasi Manihuruk*

SAAT belajar aplikasi Office dan Google Drive, ada menu untuk mengoptimalkan aplikasi dengan fasilitas add-in/add-on yang adalah software utility (utilitas piranti lunak) dan dapat ditambahkan ke program (aplikasi) utama agar dapat menangani pekerjaan-pekerjaan lain. Misalnya, pengolah lembar kerja Excel membutuhkan add-in untuk mengolah data statistik yang lebih rumit. Jadi untuk pengolahan data dengan standar lebih tinggi/rumit, dan tidak dapat dikerjakan program utama, Excel memerlukan add-in untuk melakukannya.

Bacaan Lainnya

Ini semua akibat kebelumsempurnaan program (aplikasi) utama yang mungkin sedang diterbarukan oleh para pengembang yang, walaupun pada akhirnya itu menjadi bagian program utama.

Di sisi lain, new normal (normal baru) mengharuskan kita untuk membentuk kebiasaan-kebiasaan baru seperti menggunakan masker, cuci tangan, jaga jarak fisik/sosial, dan meningkatkan kekebalan tubuh agar dapat aman dari COVID-19 tetap produktif mengerjakan aktivitas ekonomi untuk mencukupkan kebutuhan sehari-hari selama pandemi.

Pandemi COVID-19 adalah masalah di depan kita saat ini dan kita memerlukan pemecahan sebagai satu kebutuhan. Mengacu pada pepatah anonim, kebutuhan adalah ibu penemuan, kita memerlukan add-in untuk diinstalasi dalam gaya hidup agar dapat mengatasi penularan COVID-19 sebagai satu kebutuhan untuk hidup yaitu protokol kesehatan dan protokol-protokol lainnya.

Ringkasnya, pandemi adalah masalah, hidup aman dari COVID-19 adalah kebutuhan, dan protokol-protokol menunggu vaksin ditemukan adalah penemuan. Asosiasinya adalah, program utama Excel adalah hidup kita sebelum pandemi COVID-19, dan program Excel dengan add-in sebagai utilitas tambahan adalah hidup kita pada saat pandemi ini untuk mengatasi penularan COVID-19 secara masiv.

Kita butuh add-in selama pandemi ini yaitu ragam protokol yang telah dikaji secara teknis oleh para ilmuwan dan praktisi lintas disiplin ilmu. Add-in ini sudah disiapkan oleh Pemerintah, tinggal apakah kita mau menginstalasinya dalam diri kita sebagai gaya hidup di tengah pandemi? Sejatinya, jawaban atas masalah (kebutuhan) telah ada namun itu berpulang kepada kita, apakah kita ingin pandemi ini lebih lama atau lebih cepat kehadirannya di tengah-tengah kesulitan kita? Idealnya, kita dengan tekad yang teguh memilih untuk mempersingkat kehadiran COVID-19 dengan add-in yaitu protokol kesehatan sebagai dasar utama menjalani normal baru.

Hidup ini dinamis, karenanya kita, mau tidak mau, sadar atau tidak sadar, harus terus mengikuti dinamika perubahan dalam tataran kehidupan. Pandemi adalah dinamika baru, konsistensi implementasi protokol-protokol merupakan perubahan baru yang membawa tantangan sekaligus peluang. Namun, kita sejenak perlu merenungkan bahwa perubahan itu dinamis sifatnya. Isunya adalah, orang yang memiliki kemampuan tinggi untuk satu perubahan akan mampu hidup dengan perubahan itu secara dinamis. Sebaliknya, jika tidak mampu berubah dengan perubahan, maka perubahan sendiri itu akan menelannya. Sungguh satu fakta yang harus kita jalani dengan upaya dan daya pikir yang cerdas.

Kata bijak dari mantan Presiden Amerika Serikat ke-44, Barrack Obama perlu kita cermati yang mengatakan: ‚ÄúPerubahan tidak pernah cepat. Perubahan tidak pernah sederhana atau tanpa kontroversi. Perubahan tergantung pada kegigihan. Perubahan memerlukan ketetapan hati”.

Antara add-in dan new normal ada kesamaan, kita membutuhkan utilitas baru yaitu hidup berbasis protokol yang menuntut satu perubahan untuk hidup pada normal baru yang merupakan satu perubahan yang perlu kita sikapi dan lakukan secara bijak dan gigih serta masiv dengan satu ketetapan hati yaitu Indonesia tetap beraktivitas untuk produktivitas di tengah-tengah COVID-19 yang terpajang secara nyata dalam gaya hidup yang telah dinstalasi add-in (basis protokol).

Tujuan kita sama: aman dari COVID-19 dan tetap aktif untuk produktif di tengah-tengah pandemi dengan add-in (ragam protokol) yang memampukan kita pada normal baru.

*Pemerhati sosial, iptek dan budaya, tinggal di Samosir, Sumatera Utara

Pos terkait